Kompas.com - 31/01/2019, 11:57 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melontarkan kritikan pedas terhadap jajaran intelijennya.

Dalam serangkaian kicauannya di Twitter, presiden dari Partai Republik itu menuturkan bahwa komunitas intelijen sudah melakukan kesalahan soal Iran.

Baca juga: Trump Bantah Laporan Kepala Intelijen AS soal Korut dan ISIS

Dikutip BBC pada Rabu (30/1/2019), kecaman itu muncul setelah Direktur Intelijen Nasional Daniel Coats membeberkan laporan "Penilaian Ancaman Dunia".

Dalam laporan yang disajikan kepada Senat pada Selasa (29/1/2019) itu, Coats menyatakan Iran tidak lagi membuat senjata nuklir.

Trump mengatakan, masyarakat intelijen telah bertindak pasif dan naif karena mereka tidak mengindahkan bahaya yang bisa ditimbulkan Iran.

Dia mengungkapkan ketika sudah menjadi presiden, Iran sudah membuat masalah baik di kawasan Timur Tengah maupun di negara lain.

Trump mengklaim, sejak dia memutuskan keluar dari perjanjian nuklir 2015 pada Mei 2018, Teheran sudah menunjukkan sikap "berbeda".

Namun, dia memperingatkan, Iran masih menyimpan potensi bahaya dan konflik. Sebab, mereka masih melakukan uji coba roket pada pekan lalu.

"Ekonomi yang sedang tersendat membuat langkah mereka tertunda. Berhati-hatilah terhadap Iran. Mungkin intelijen harus kembali ke sekolah!" ujarnya.

Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) Gina Haspel mengungkapkan, Iran masih mematuhi perjanjian nuklir 2015 meski AS sudah keluar.

Meski begitu, komunitas intelijen juga memperingatkan ambisi yang dibawa Iran ke Timur Tengah dan kemampuan militer mereka bisa mengancam kepentingan AS di masa depan.

Intelijen juga memperingatkan potensi ancaman siber dari Rusia dan China yang mereka sebut bakal mengincar pemilihan presiden 2020.

Baca juga: Intelijen AS Yakin Korea Utara Tak Akan Lucuti Semua Senjata Nuklir

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.