Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/02/2020, 15:54 WIB
Aditya Jaya Iswara,
Ardi Priyatno Utomo

Tim Redaksi

Sumber AFP

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden AS Donald Trump meninggalkan Amerika Serikat (AS) menuju India pada Minggu (23/2/2020). Di Negeri 'Bollywood' tersebut, Trump yakin bakal disambut jutaan orang.

Dilansir dari AFP Senin (24/2/2020), Trump mengunjungi India untuk bertemu dengan Perdana Menteri Narendra Modi.

"Aku berharap bisa bersama-sama orang India," ucap Trump, saat dia bertolak dari Gedung Putih untuk pertama kalinya menuju India, negara demokrasi terbesar di dunia.

"Kita akan memiliki jutaan orang. Aku dengar akan ada acara besar, beberapa orang mengatakan ini adalah acara terbesar di India. Begitulah perdana menteri memberitahuku," lanjutnya.

Baca juga: Kesepakatan Damai AS-Taliban, Trump: Saya Akan Menandatanganinya

Trump memang dikenal memiliki obsesi tersendiri tentang kerumunan massa besar, menunjukkan kalau itu adalah bentuk dukungan untuknya, dan membandingkannya dengan para lawannya dari Partai Demokrat.

Nantinya di India, Trump bersama istrinya, Melania, akan mengunjungi Taj Mahal dan menghadiri pertemuan dengan Modi di stadion kriket terbesar di dunia.

Dia berulang kali menunjukkan ketertarikannya pada "jutaan" orang yang bakal datang ke acara tersebut.

Kerumunan massa besar ini memang dijamin bakal ada di sana, lantaran Modi terkenal sebagai orang yang bisa mengadakan aksi besar-besaran.

Namun begitu, pemerintah India mengungkapkan akan sulit mengumpulkan massa berjumlah 100 ribu orang sekaligus.

Para ahli berkata, jumlah "jutaan orang" yang dimaksud Trump mungkin adalah kesalahpahaman, atau kesalahan terjemahan.

Baca juga: Pria India Ini Sembah Trump sebagai Dewa dan Buatkan Patung Untuknya

Tahun lalu Modi telah mengunjungi AS. Dia bersama Trump tampil bersama di depan puluhan ribu warga India-Amerika di sebuah stadion di Houston.

Akan tetapi hubungan erat Trump-Modi bukan tanpa noda, karena belum menjamin bisa membawa dampak signifikan ke kerja sama dagang AS-India.

Trump dan ambisi empat tahun keduanya

Donald Trump juga bukan tanpa risiko meninggalkan AS di tengah demam pemilu yang meninggi di Negeri 'Uncle Sam'.

Angka popularitasnya menurun akhir-akhir ini, dan sempat dilanda kasus pemakzulan. Namun Trump bergeming, dia yakin bisa melanjutkan masa kepemimpinannya di Gedung Putih empat tahun lagi.

Selama beberapa bulan ini, para ahli meramalkan bahwa calon dari Partai Demokrat dapat menjadi penantang serius Trump di eleksi presiden. Sementara itu rentetan pemilihan pendahuluan menunjukkan Bernie Sanders layak dipertimbangkan.

Setelah Trump terbang ke India, dia menyebut pertarungan kaukus di Nevada sebagai "kemenangan besar untuk Bernie Sanders."

Baca juga: Menang Kaukus Nevada, Bernie Sanders Semakin Tidak Terbendung

Trump kemudian coba mengusik Partai Demokrat, dengan menyebut partai itu dapat menghambat Sanders untuk meroket.

"Parta Demokrat memperlakukan Bernie Sanders dengan tidak adil," ucap Trump saat memprediksi Sanders bakal jadi oposisinya.

"Kecuali mereka memang menipunya." tutup Trump.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com