PBB Sebut 30 Warga Korea Utara Melarikan Diri ke China sejak April

Kompas.com - 21/06/2019, 16:06 WIB
Pasukan penjaga perbatasan Korea Utara sedang melakukan patroli rutin. AFP/GettyPasukan penjaga perbatasan Korea Utara sedang melakukan patroli rutin.

SEOUL, KOMPAS.com - PBB mendesak kepada pemerintah China untuk tidak memulangkan para pelarian asal Korea Utara karena berisiko mendapat hukuman berat di negara mereka.

Setidaknya 30 warga Korea Utara, jika tidak lebih, dilaporkan telah ditangkap di seluruh penjuru China dalam penggerebekan sebagai tindakan keras yang dilakukan otoritas setempat sejak pertengahan April lalu.

Kementerian Luar Negeri China menyangkal dan mengatakan tidak mengetahui tentang penangkapan tersebut. Sementara sejumlah aktivis dan pengacara mengatakan belum melihat tanda tindakan deportasi telah dilakukan.

"Informasi yang didapat menunjukkan China kemungkinan baru-baru ini telah meningkatkan upaya pencarian para pelarian Korea Utara dengan bekerja sama dengan pemerintah Korut," kata Tomas Ojea Quintana, pelapor khusus Amerika Serikat untuk hak asasi manusia di Korea Utara, Jumat (21/6/2019).

Baca juga: Pembelot Korut Ini Kisahkan Pengalaman Dijual Jadi Budak Seks di China

" Warga Korea Utara yang dipulangkan dikhawatirkan bakal menghadapi risiko hukuman pelanggaran hak asasi manusia yang serius, termasuk penyiksaan," lanjut Quintana kepada wartawan di Seoul, Korea Selatan.

"Pemerintah Korea Utara bakal mengkriminalisasi warganya yang menyeberang perbatasan secara tidak biasa," tambahnya.

Quintana mengatakan, pihaknya telah menyuarakan keprihatinan terhadap nasib para pelarian Korea Utara yang ditahan di China, dan membahas masalah tersebut dengan para pejabat Korea Selatan selama perjalanannya ke Seoul.

"Para pelarian mungkin menghadapi hukuman yang sangat berat, termasuk dikirim ke kamp-kamp penjara politik, jika mereka bermaksud membelot ke Korea Selatan atau jika mereka dibantu kelompok-kelompok Kristen," tambahnya.

Dilansir Reuters, Quintana juga menyinggung masalah krisis pangan yang tengah melanda Korea Utara, yang turut mendorong warganya untuk melarikan diri ke negara lain dengan harapan memperoleh penghidupan yang lebih baik.

"Pemerintah Korea Utara berperan dalam memperburuk kekurangan pangan negara itu," ujarnya.

Baca juga: Pembelot Korut: Kim Jong Un Lebih Kejam Dibanding Ayah dan Kakeknya

"Para pejabat Korea Utara telah mengadopsi kebijakan ekonomi dan pertanian yang gagal. Termasuk sistem penjatahan terpusat yang terganggu akibat kekurangan pasokan dan alokasi yang tidak seimbang," katanya.

"Belum lagi kondisi iklim, tanah yang tidak subur, dan dampak negatif dari sanksi internasional telah berkontribusi pada ketahanan pangan Korea Utara," kata Quintana.

"Pada saat yang sama, pemerintah tidak mengembangkan kondisi di mana warga dapat dengan aman mengakses makanan melalui pasar tanpa dikriminalisasi," tambahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Reuters
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemadam Kebakaran Hutan Australia Kirim Pesan Menyentuh ke Pemilik Rumah yang Mereka Selamatkan

Pemadam Kebakaran Hutan Australia Kirim Pesan Menyentuh ke Pemilik Rumah yang Mereka Selamatkan

Internasional
Dokter Keluarkan Potongan Kertas yang Masuk di Mata Gadis 7 Tahun Ini

Dokter Keluarkan Potongan Kertas yang Masuk di Mata Gadis 7 Tahun Ini

Internasional
Meski Hamil 14 Pekan, Wanita Ini Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan Australia

Meski Hamil 14 Pekan, Wanita Ini Berjibaku Padamkan Kebakaran Hutan Australia

Internasional
Dunia Internasional Puji Cara Indonesia Perlakukan Napi Teroris

Dunia Internasional Puji Cara Indonesia Perlakukan Napi Teroris

Internasional
Sungai di Korea Selatan Berubah Merah karena Terkena Darah Babi

Sungai di Korea Selatan Berubah Merah karena Terkena Darah Babi

Internasional
Venesia Dilanda Banjir akibat Gelombang Pasang Tertinggi dalam 50 Tahun Terakhir

Venesia Dilanda Banjir akibat Gelombang Pasang Tertinggi dalam 50 Tahun Terakhir

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 10 Tahun Hamil Diperkosa Kakak | Penyebab Pria Hong Kong Dibakar Hidup-hidup

[POPULER INTERNASIONAL] Bocah 10 Tahun Hamil Diperkosa Kakak | Penyebab Pria Hong Kong Dibakar Hidup-hidup

Internasional
Guru di AS Ini Terekam Pukul Murid Berkebutuhan Khusus hingga Tersungkur

Guru di AS Ini Terekam Pukul Murid Berkebutuhan Khusus hingga Tersungkur

Internasional
Pria Ini Ditangkap dan Diborgol karena Makan Sandwich Saat Menunggu Kereta

Pria Ini Ditangkap dan Diborgol karena Makan Sandwich Saat Menunggu Kereta

Internasional
Kucing Pahlawan Ini Selamatkan Bayi 1 Tahun Sebelum Jatuh dari Tangga

Kucing Pahlawan Ini Selamatkan Bayi 1 Tahun Sebelum Jatuh dari Tangga

Internasional
Mengungsi ke Meksiko, Eks Presiden Bolivia Evo Morales Janji Kembali Lebih Kuat

Mengungsi ke Meksiko, Eks Presiden Bolivia Evo Morales Janji Kembali Lebih Kuat

Internasional
Dilarang Berhubungan Seks di Rumah, Pria Ini Bunuh Anjing Ibunya

Dilarang Berhubungan Seks di Rumah, Pria Ini Bunuh Anjing Ibunya

Internasional
Diperkosa Kakak Sendiri, Bocah 10 Tahun Hamil 8 Bulan

Diperkosa Kakak Sendiri, Bocah 10 Tahun Hamil 8 Bulan

Internasional
Dilecehkan 2 'Suami' di China, Gadis 13 Tahun asal Kamboja Diselamatkan

Dilecehkan 2 "Suami" di China, Gadis 13 Tahun asal Kamboja Diselamatkan

Internasional
Bantu Penyintas Gempa Filipina, Tim Dompet Dhuafa Bangun Huntara

Bantu Penyintas Gempa Filipina, Tim Dompet Dhuafa Bangun Huntara

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X