Beijing Janji Pulihkan Terumbu Karang yang Rusak Akibat Pulau Buatan di Laut China Selatan

Kompas.com - 03/01/2019, 16:11 WIB
Kapal-kapal pengeruk Tiongkok terlihat di sekitar karang di Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan, dalam foto yang diambil oleh pesawat pengintai AS, Mei 2015. REUTERSKapal-kapal pengeruk Tiongkok terlihat di sekitar karang di Kepulauan Spratly yang disengketakan di Laut China Selatan, dalam foto yang diambil oleh pesawat pengintai AS, Mei 2015.

BEIJING, KOMPAS.com - Pemerintah China saat ini tengah berupaya untuk memulihkan ekosistem terumbu karang di wilayah Laut China Selatan yang rusak akibat proyek pembangunan pulau buatannya.

Pernyataan yang disampaikan Kementerian Sumber Daya Alam China tersebut menjawab kekhawatiran yang muncul dari proyek reklamasi yang telah merusak lingkungan.

"Fasilitas untuk melindungi dan memulihkan terumbu karang telah dipasang di Fiery Cross, Subi, dan Mischief Reef, tiga pulau terbesar di antara tujuh pulau buatan China dalam grup Sprarly. Operasi telah dimulai pada awal tahun," kata kementerian itu, dilansir SCMP, Rabu (2/1/2019).

Pada Selasa (1/1/2019), laman resmi kementerian telah mengumumkan survei untuk mengidentifikasi lebih banyak wilayah karang yang akan dilindungi dan dipulihkan melalui pendekatan "pemulihan alami".

Baca juga: Duterte: China Tak Bisa Klaim Wilayah Udara di Atas Pulau Buatan

Terumbu karang akan dibiarkan untuk memulihkan diri secara alami dengan dibantu metode dan teknik buatan yang dikembangkan secara khusus untuk Kepulauan Spratlys.

Kementerian Sumber Daya Alam mengatakan, perlindungan dan pemulihan ekologi adalah sebuah misi untuk melindungi sistem ekologi karang dan memastikan keamanan ekologi di Kepulauan Spratlys dan seluruh Laut China Selatan.

Pada Juli 2016, pengadilan internasional telah memutuskan bahwa reklamasi dan pembangunan pulau buatan oleh China di Laut China Selatan telah menyebabkan kerusakan parah pada lingkungan terumbu karang.

"China telah melanggar kewajibannya untuk melestarikan dan melindungi ekosistem yang rapuh dan habitat yang terancam dan hampir punah, serta menimbulkan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki terhadap lingkungan laut," kata pernyataan pengadilan.

Beijing telah menolak keputusan tersebut dan bersikeras bahwa pembangunan reklamasi Kepulauan Spratlys adalah proyek hijau yang memperhatikan alam.

China menjalankan proyek reklamasi pulau di Spratlys antara 2013 dan 2016 dengan memperluas wilayah karang dan bebatuan menjadi pulau seluas 558 hektare.

Pulau-pulau buatan yang berada di Laut China Selatan tersebut ada di wilayah yang masih disengketakan oleh Vietnam, Filipina, Malaysia, Brunei, dan Taiwan.

Pada 2015, Badan Kelautan Negara China mengatakan, pekerjaan konstruksi pulau tidak mengubah kesehatan ekosistem Kepulauan Spralys. Meski demikian, mereka tetap menyarankan dilakukannya penanaman, perbaikan dan transplantasi karang usai pekerjaan konstruksi usai.

Beijing juga mengklaim pada 2015 dan 2016 bahwa ekologi karang telah rusak oleh “penyebab alami dan penangkapan ikan yang berlebihan” jauh sebelum proyek konstruksi dimulai.

Baca juga: Beijing: Tidak Ada Pulau Buatan di Laut China Selatan

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber SCMP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Media Internasional Ulas Jokowi yang Tunjuk Saingan Beratnya Prabowo Subianto sebagai Menhan

Media Internasional Ulas Jokowi yang Tunjuk Saingan Beratnya Prabowo Subianto sebagai Menhan

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Video Rudal S-400 Rusia Hancurkan Target | Kaisar Naruhito Lengkapi Ritual Penobatan

[POPULER INTERNASIONAL] Video Rudal S-400 Rusia Hancurkan Target | Kaisar Naruhito Lengkapi Ritual Penobatan

Internasional
Pria Marah Ini Pukul dan Tendang Bus yang Meninggalkannya

Pria Marah Ini Pukul dan Tendang Bus yang Meninggalkannya

Internasional
Pangeran Harry Mengaku Kerap Tak Sejalan dengan Pangeran William

Pangeran Harry Mengaku Kerap Tak Sejalan dengan Pangeran William

Internasional
Bekerja sebagai PSK, Wanita di India Dibunuh Menantu yang Juga Kekasihnya

Bekerja sebagai PSK, Wanita di India Dibunuh Menantu yang Juga Kekasihnya

Internasional
TikTok Hapus Video Propaganda ISIS

TikTok Hapus Video Propaganda ISIS

Internasional
Rusia Rilis Video Sistem Rudal S-400 Sedang Beraksi Menghancurkan Target

Rusia Rilis Video Sistem Rudal S-400 Sedang Beraksi Menghancurkan Target

Internasional
Sedang Bermain Pokemon Go, Gadis Ini Tewas Ditembak di Kepala

Sedang Bermain Pokemon Go, Gadis Ini Tewas Ditembak di Kepala

Internasional
AS Kerahkan Satu Batalion Pasukan dan Puluhan Tank ke Lithuania

AS Kerahkan Satu Batalion Pasukan dan Puluhan Tank ke Lithuania

Internasional
Viral Demonstran Lebanon Bernyanyi 'Baby Shark' kepada Bayi, Bagaimana Ceritanya?

Viral Demonstran Lebanon Bernyanyi "Baby Shark" kepada Bayi, Bagaimana Ceritanya?

Internasional
Warga Kurdi Suriah Lempari Kendaraan Militer AS dengan Batu dan Tomat Busuk

Warga Kurdi Suriah Lempari Kendaraan Militer AS dengan Batu dan Tomat Busuk

Internasional
Menderita 'Sakit Tak Tertahankan', Duterte Persingkat Kunjungan ke Jepang

Menderita "Sakit Tak Tertahankan", Duterte Persingkat Kunjungan ke Jepang

Internasional
PM Kanada Justin Trudeau Kembali Terpilih dalam Pemilu Meski Menang Tipis

PM Kanada Justin Trudeau Kembali Terpilih dalam Pemilu Meski Menang Tipis

Internasional
Penyandang Disabilitas Ini Diminta 'Lepaskan Celana' oleh Petugas Bandara India

Penyandang Disabilitas Ini Diminta "Lepaskan Celana" oleh Petugas Bandara India

Internasional
Trump 'Siap' Kerahkan Militer Lawan Turki demi Melindungi Kurdi Suriah

Trump "Siap" Kerahkan Militer Lawan Turki demi Melindungi Kurdi Suriah

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X