Kaleidoskop 2018: Ajal Khashoggi Pengaruhi Kebijakan Saudi

Kompas.com - 31/12/2018, 19:08 WIB
Anggota Asosiasi HAM (IHD) memegang foto Jamal Khashoggi  dalam unjuk rasa di depan kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki. AFP/BULENT KILICAnggota Asosiasi HAM (IHD) memegang foto Jamal Khashoggi dalam unjuk rasa di depan kantor Konsulat Arab Saudi di Istanbul, Turki.

KOMPAS.com - Isu tentang Jamal Khashoggi... sungguh menyedihkan kami, semua dari kami.

Tapi seluruhnya, kami tidak akan berlalu dengan sebuah krisis, kami akan melaluinya dengan transformasi.

Demikian dua kalimat yang dilontarkan oleh Menteri Luar Negeri Arab Saudi yang baru, Ibrahim al-Assaf. Dia menggantikan posisi yang sebelumnya diduduki oleh Adel al-Jubeir.

Perombakan mengejutkan itu disebut sebagai upaya untuk menyeimbangkan keputusan kebijakan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) di tengah kasus Khashoggi.


Baca juga: Detil Terbaru Detik-detik Pembunuhan Jamal Khashoggi Kembali Terungkap

MBS kini mau tak mau harus menghadapi sorotan global yang intens atas kematian jurnalis Jamal Khashoggi yang dibunuh pada 2 Oktober 2018.

Jamal Khashoggi merupakan kolumnis Washington Post asal Arab Saudi yang dibunuh ketika berada di gedung konsulat Saudi, di Istanbul, Turki.

Sebagai seorang pewarta, dia kerap meliput berita utama termasuk invasi Soviet terhadap Afghanistan dan munculnya Osama Bin Laden.

Saat itu, dia bekerja untuk berbagai media di Saudi. Selama puluhan tahun, pria berusia 59 tahun itu dekat dengan keluarga kerajaan Saudi dan pernah menjadi penasihat pemerintah.

BBC mencatat, Khashoggi pergi ke pengasingan di AS pada tahun lalu begitu dia merasa tidak lagi disukai. Sejak itulah, dia menulis kolom bulanan untuk Washington Post dan mengkritik kebijakan MBS.

Lalu, mengapa dia dibunuh? Jawaban untuk pertanyaan ini masih misteri.

Menurut beberapa laporan anonim, pembunuhan dimulai dengan ancaman. Salah satu eksekutor mengatakan, Khashoggi akan kembali ke Saudi. Perkelahian pun terjadi dan dia kehilangan kesadaran.

Baca juga: Jenazah Jamal Khashoggi Dibawa Tim Pembunuh Pakai Kantong Plastik

Ada dua spekulasi, Khashoggi tak sadarkan diri akibat anestesi atau usai dicekik, kemudian tubuhnya dimutilasi.

Meski laporan terbaru menyebutkan sejumlah pria membawa koper dan tas hitam berisi potongan tubuh Khashogggi dipindahkan ke garasi rumah tak jauh dari konsulat, namun hingga kini jenazahnya tidak pernah ditemukan.

Putra tertua Jamal Khashoggi, Salah (kiri) berjabat tangan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dalam pertemuan keduanya di Istana Kerajaan Saudi, Riyadh, Selasa (23/10/2018).AFP / HANDOUT / SAUDI PRESS AGENCY Putra tertua Jamal Khashoggi, Salah (kiri) berjabat tangan dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dalam pertemuan keduanya di Istana Kerajaan Saudi, Riyadh, Selasa (23/10/2018).
MBS dibidik

Sejak MBS dinobatkan sebagai penerus tahkta, berbagai reformasi kebijakan diambil, seperti mengizinkan perempuan mengemudi, pembangunan bioskop, dan penerapan Visi 2030.

Visi tersebut nantinya akan mendiversifikasi perekonomian Saudi agar tidak lagi bergantung pada penjualan minyak.

Meski menuai pujian atas sejumlah kebijakan, pria berusia 33 tahun tak dapat menghindari banjir kritikan terutama menyangkut hak asasi manusia, seperti penangkapan sejumlah aktivis.

Apalagi dengan adanya kasus pembunuhan Khashoggi, dia seperti menjadi bidikan komunitas internasional.

Baca juga: Menlu Baru Saudi: Reshuffle Terjadi Bukan karena Kasus Khashoggi

Badan Intelijen Pusat AS (CIA) menyimpulkan MBS yang memerintahkan agar jurnalis tersebut dibunuh. Namun, Presiden AS Donald Trump menyebut penyelidikan kasus tersebut belum mencapai kesimpulan.

Selain CIA, Senat AS menyimpulkan MBS bertanggung jawab atas kematian Khashoggi, dan tentu pernyataan itu ditentang oleh Saudi.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengklaim, perintah pembunuhan terhadap Khashoggi berasal dari level tertinggi pemerintahan Saudi.

Meski demikian, dia tidak menyebutkan Raja Salman yang berada di balik itu semua.

Otoritas Saudi terus menolak keterlibatan MBS dan menolak ekstradisi bagi para tersangka ke Turki.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Pria Rusia yang Klaim Apple Mengubahnya Jadi Gay Cabut Gugatan

Internasional
Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Pria di Pakistan Lepaskan Singa Peliharaan Serang Tukang Listrik yang Tagih Bayaran

Internasional
Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Tabrakan Bus dengan Kendaraan Berat, 35 Warga Asing Tewas dalam Perjalanan Umroh

Internasional
Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Wanita Indonesia Ini Masuk dalam 100 Perempuan Berpengaruh Dunia Versi BBC

Internasional
Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Kembali Ejek Pemimpin Hong Kong, Politisi Oposisi Pro-demokrasi Diusir

Internasional
Trump Marah Disebut Beri 'Lampu Hijau' untuk Serangan Turki ke Suriah

Trump Marah Disebut Beri "Lampu Hijau" untuk Serangan Turki ke Suriah

Internasional
Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Karena Turis Sering Tersesat, Kota di Italia Larang Penggunaan Google Maps

Internasional
Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Hari Kiamat' Memakai 'Bahasa Khayalan'

Keluarga Belanda yang Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Hari Kiamat" Memakai "Bahasa Khayalan"

Internasional
AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

AS Ancam Bakal Jatuhkan Sanksi Tambahan jika Turki Tak Hentikan Serangan ke Kurdi Suriah

Internasional
Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun 'Menunggu Kiamat', Pria Austria Ditahan

Kasus Keluarga Belanda Bersembunyi 9 Tahun "Menunggu Kiamat", Pria Austria Ditahan

Internasional
Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Surat Trump kepada Erdogan: Jangan Jadi Bodoh

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda 'Menanti Kiamat' | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

[POPULER INTERNASIONAL] Keluarga di Belanda "Menanti Kiamat" | Erdogan Tak Khawatir Disanksi AS

Internasional
Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Aktivis Pro-Demokrasi Hong Kong Dikeroyok Orang-orang Tak Dikenal Pakai Palu

Internasional
Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Filipina Diguncang Gempa Bermagnitudo 6,4, Ratusan Warga Menyelamatkan Diri

Internasional
Beralasan 'Menanti Kiamat', Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Beralasan "Menanti Kiamat", Satu Keluarga di Belanda Tinggal di Bawah Tanah selama 9 Tahun

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X