Erdogan: Turki Tak Bakal Beli Sistem Rudal S-400 Rusia Pakai Dollar AS

Kompas.com - 29/11/2018, 17:47 WIB
Sistem pertahanan anti-serangan udara S-400 buatan Rusia. ALEXANDER NEMENOV / AFPSistem pertahanan anti-serangan udara S-400 buatan Rusia.

ANKARA, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan bakal membayar sistem rudal S-400 yang dibeli dari Rusia menggunakan mata uang lokal dua negara.

Diwartakan AFP Kamis (29/11/2018), komentar Erdogan terjadi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin berkata pembayaran S-400 tidak akan pakai dollar Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Rusia Tambah Sistem Pertahanan Udara S-400 di Crimea

"Sejak awal kami sudah mempunyai prinsip. Bahwa kami bakal melaksanakan pembayaran menggunakan rubel atau lira," kata Erdogan sebelum bertolak ke Argentina untuk menghadiri KTT G20.

Presiden dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) itu menyatakan saat ini kedua negara belum menyepakati mata uang siapa yang bakal dipakai.

Sebelumnya pada Rabu (28/11/2018), Putin menyatakan Rusia dan Turki tak menyertakan dollar AS dalam pembelian sistem rudal S-400.

"Kami tidak membelot dari dollar AS. Dollar-lah yang telah meninggalkan kami," kata mantan agen dinas intelijen Uni Soviet (KGB) itu.

Wakil Perdana Menteri Rusia Yuri Borisov mengatakan klien Moskwa lainnya, India, rencananya juga bakal membeli S-400 menggunakan mata uang rubel.

Berdasarkan laporan media Rusia, Ankara direncanakan membeli empat unit sistem rudal tersebut dengan nilai kontrak 2,5 miliar dollar AS (Rp 35,9 triliun).

Sistem pertahanan anti-serangan udara dengan kode NATO SA-21 Growler itu menjadi sorotan baik oleh AS maupun negara anggota pertahanan Atlantik Utara lainnya.

Pasalnya, sistem rudal generasi terbaru itu dianggap tak cocok dengan peralatan NATO, dan mempertanyakan orientasi strategis Turki di masa depan.

Presiden AS Donald Trump meneken peraturan otorisasi pertahanan yang bisa melarang pengiriman jet tempur F-35 jika Turki tetap nekat membeli S-400.

S-400 Triumf merupakan sistem pertahanan anti-serangan udara jarak jauh yang diproduksi oleh perusahaan Almaz-Antey.

Sistem itu bisa menghancurkan rudal balistik taktis dari jarak 60 kilometer serta target pesawat dari 400 kilometer. Sejak 2007, Rusia mengganti sistem S-300 dengan S-400.

Baca juga: Bila Tetap Beli S-400 dari Rusia, India Terancam Sanksi AS

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Internasional
Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Internasional
Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Internasional
Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Internasional
Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Internasional
Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Internasional
Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Internasional
Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Internasional
Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Internasional
Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Internasional
Israel Gelar 'Serangan Skala Besar' terhadap Iran di Suriah

Israel Gelar "Serangan Skala Besar" terhadap Iran di Suriah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

Internasional
Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X