Kalau Taliban Langgar Perjanjian Damai, AS Tidak Segan untuk Serang Afghanistan Lagi

Kompas.com - 01/03/2020, 16:33 WIB
Sekretaris Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper, saat berbicara di konferensi pers gabungan bersama Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, dan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg di Kabul, Afghanistan, Sabtu (29/2/2020). MOHAMMAD ISMAIL/REUTERSSekretaris Pertahanan Amerika Serikat (AS) Mark Esper, saat berbicara di konferensi pers gabungan bersama Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, dan Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg di Kabul, Afghanistan, Sabtu (29/2/2020).

KABUL, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) mengatakan tidak segan untuk menyerang Afghanistan lagi, kalau Taliban melanggar perjanjian damai.

Pernyataan tersebut disampaikan Sekretaris Pertahanan AS, Mark Esper, Sabtu (29/2/2020) setelah AS menandatangani perjanjian damai dengan Taliban.

"Jika Taliban tidak menjalankan komitmen, mereka akan kehilangan kesempatan untuk duduk bersama warga Afghanistan dan berunding tentang masa depan negara mereka," kata Esper.

"AS tidak akan ragu untuk membatalkan perjanjian," ungkap pria kelahiran Pennsylvania 55 tahun silam itu.

Baca juga: Walau Sudah Berdamai dengan AS, Taliban Masih Jadi Momok Perempuan Afghanistan

Selain Esper, Presiden Donald Trump juga menyuarakan nada serupa. Demikian yang diberitakan BBC.

Meski Trump yakin Taliban ingin berdamai, tapi kalau mereka melanggarnya pasukan AS akan kembali ke Afghanistan dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

"Saya benar-benar yakin Taliban ingin melakukan sesuatu untuk menunjukkan bahwa kita (AS) tidak membuang waktu," ucap pria berusia 73 tahun tersebut.

"Jika ada hal-hal buruk terjadi, kami akan kembali (ke Afghanistan) dengan kekuatan yang sangat besar," tegas Trump.

Baca juga: Resmi Tanda Tangani Kesepakatan dengan Taliban, Menlu AS: Ini Hari Penting

Sikap tegas juga ditunjukkan oleh Sekretaris Negara AS, Mike Pompeo, di dalam pidatonya Minggu (1/3/2020) yang dikutip BBC.

Pompeo menekankan Taliban harus menepati janjinya untuk memutus hubungan dengan Al-Qaeda.

Dalam perjanjian damai dengan AS yang ditandatangani di Doha, Qatar, Sabtu (29/2/2020) Taliban memiliki kewajiban-kewajiban untuk dilaksanakan.

Di draf perjanjian Bagian Dua, tercantum Taliban harus mengirim pesan ke semua pihak yang mengancam keamananan AS, dan menekankan anggota-anggotanya agar tidak bekerja sama dengan siapa pun yang mengancam keamanan AS beserta sekutunya.

Baca juga: Perjanjian Damai AS-Taliban, Ini 4 Poin yang Perlu Anda Ketahui

Taliban juga tidak boleh membiarkan terjadi perekrutan, pelatihan, dan penggalangan dana, juga tidak akan memfasilitasi hal-hal tersebut sesuai dengan perjanjian damai yang telah terjalin.

Kemudian, Taliban juga harus memberikan suaka atau tempat tinggal di Afghanistan sesuai hukum migrasi internasional, sehingga para pengungsi tidak menjadi ancaman keamanan AS serta sekutunya.

Kepada mereka yang mengancam keamanan AS serta sekutunya, Taliban juga dilarang memberi visa, paspor, dan izin perjalanan untuk memasuki Afghanistan.

AS mulai menginvasi Afghanistan pada 11 September 2001. Negeri "Uncle Sam" melakukannya beberapa minggu usai terjadi serangan di New York yang didalangi Al-Qaeda.

Sejak kejadian tersebut, puluhan ribu korban berjatuhan dan kerugian ditaksir mencapai 2 triliun dollar AS (sekitar Rp28,6 kuadriliun), demikian data yang diungkap The Washington Post.

Baca juga: Kesepakatan AS-Taliban, Trump: Kesempatan Rakyat Afghanistan Berdamai



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Kisah Tiga Negara Penikmat Reklamasi

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Virus Corona di Iran Menyebar Cepat, 54 Orang Meninggal

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X