Taliban Kirim Ultimatum kepada AS, Apa Isinya?

Kompas.com - 12/02/2020, 17:12 WIB
Anggota Taliban di Distrik Shindand, provinsi Herat, Afghanistan, 27 Mei 2016. AP PHOTOAnggota Taliban di Distrik Shindand, provinsi Herat, Afghanistan, 27 Mei 2016.

KABUL, KOMPAS.com - Taliban mengirimkan ultimatum ke AS setelah sepekan terlibat perundingan terkait perdamaian demikian dilaporkan Arab News.

Mereka menginginkan jawaban dari apa yang mereka tawarkan, di mana mereka menyiratkan siap mengurangi aksi kekerasan di Afghanistan selama tujuh hari ke depan, sebagai ganti Washington angkat kaki.

Menanggapi hal ini, Presiden AS, Donald Trump meyakini bahwa akan ada nota kesepakatan dengan Taliban pada beberapa hari ke depan. Namun penarikan pasukan AS dari Afghanistan tidak akan terjadi.

Baca juga: Seorang Warga AS Diculik oleh Taliban di Afghanistan

Washington juga mengatakan bahwa perjanjian "pengurangan masa kekerasan" telah berlalu. Presiden Afghanistan, Ashraf Ghani juga mengungkapkan soal itu lewat akun twitternya.

Dia mengatakan bahwa pihak AS, yaitu Menteri Luar Negeri Mike Pompeo, menghubunginya dan menjelaskan tentang kemajuan penting pada perundingan dengan Taliban.

Dua anggota Taliban yang tidak berkenan disebut namanya ini melaporkan kepada media bahwa ultimatum kemudian disampaikan oleh pihak negosiator Pimpinan Taliban.

Tim negosiator yang dipimpin Mullah Abdul Ghani Baradar berjumpa dengan utusan Gedung Putih, Zalmay Khalilzad, dan Menteri Luar negeri Qatar, Mohammed bin Abdulrahman Al Thani.

Bukannya merespon ultimatum dengan cepat, pihak Washington justru fokus pada perundingan terkait permintaan-permintaan yang dilayangkan Taliban.

Salah satu permintaan tersebut adalah mempertahankan kantor politik di Doha, ibu kota Qatar di mana Khalilzad sering bertemu dengan perwakilan mereka dan mencari resolusi untuk mengakhiri kampanye militer AS selama 18 tahun.

Taliban juga menuntut dalam negosiasi bahwa perwakilan pemerintah Presiden Ghani tidak boleh hadir dalam kapasitas resmi, melainkan hanya seorang warga negara Afghanistan biasa.

Taliban tidak pernah mengakui pemerintah resmi di Kabul, dan menolak untuk bernegosiasi langsung dengan Ghani.

Taliban yang sejak 1996 sampai 2001 memimpin Afghanistan, menyatakan mereka tidak mencari monopoli kekuasaan.

Meski begitu, kelompok militan tersebut kini mengendalikan atau menguasai sebagian dari negara tersebut.

Baca juga: Ditahan Taliban 3 Tahun, Timothy Weeks Tak Pernah Berhenti Berharap

Menangkan Samsung A71 dan Voucher Belanja. Ikuti Kuis Hoaks / Fakta dan kumpulkan poinnya. *S&K berlaku


Sumber Arab News
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mahathir Mohamad Ajukan Bentuk Pemerintahan Bersatu

Mahathir Mohamad Ajukan Bentuk Pemerintahan Bersatu

Internasional
Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Virus Corona, Perancis Umumkan Kematian Pertama dari Warga Negaranya

Internasional
Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Pertama Kalinya, Liga Sepak Bola Putri Arab Saudi Diluncurkan

Internasional
Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk 'Wuhannya Italia', di Tengah Wabah Virus Corona

Cerita Warga Codogno, Kota Berjuluk "Wuhannya Italia", di Tengah Wabah Virus Corona

Internasional
Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Kerusuhan New Delhi Kian Mencekam, Total 20 Orang Tewas

Internasional
Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Wabah Virus Corona, Ritual Rabu Abu di Filipina Berubah

Internasional
Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Tentara AS yang Bertugas di Korea Selatan Terinfeksi Virus Corona

Internasional
Telanjang Dada di Depan Anak Tiri, Wanita Ini Dibawa ke Pengadilan

Telanjang Dada di Depan Anak Tiri, Wanita Ini Dibawa ke Pengadilan

Internasional
Publik AS Diminta untuk Bersiap Menghadapi Virus Corona

Publik AS Diminta untuk Bersiap Menghadapi Virus Corona

Internasional
52 Orang Meninggal, China Catatkan Angka Kematian Virus Corona Terendah dalam 3 Pekan Terakhir

52 Orang Meninggal, China Catatkan Angka Kematian Virus Corona Terendah dalam 3 Pekan Terakhir

Internasional
Kasus Virus Corona Terjadi di Hotel Spanyol dan Austria, Tamu: Liburan Terasa Seperti di Neraka

Kasus Virus Corona Terjadi di Hotel Spanyol dan Austria, Tamu: Liburan Terasa Seperti di Neraka

Internasional
Virus Corona Infeksi Lebih dari 1.100 Orang di Korea Selatan

Virus Corona Infeksi Lebih dari 1.100 Orang di Korea Selatan

Internasional
Berkeringat Saat Konferensi Pers, Menteri Iran Ini Ternyata Terinfeksi Virus Corona

Berkeringat Saat Konferensi Pers, Menteri Iran Ini Ternyata Terinfeksi Virus Corona

Internasional
Jika Terus Diserang, PM Israel Ancam Bakal Habis-habisan Gempur Gaza

Jika Terus Diserang, PM Israel Ancam Bakal Habis-habisan Gempur Gaza

Internasional
Jenazah Pria Palestina Diangkat Pakai Buldozer, Begini Pembelaan Israel

Jenazah Pria Palestina Diangkat Pakai Buldozer, Begini Pembelaan Israel

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X