Kompas.com - 17/02/2020, 13:40 WIB

JINGZHOU, KOMPAS.com - Ketika Kem Senoua Pavel Daryl terpapar virus corona di Kota Jingzhou, dia tidak berniat meninggalkan China, kalaupun hal itu dimungkinkan.

"Apapun yang terjadi, saya tidak ingin membawa penyakit ke Afrika," kata mahasiswa asal Kamerun berusia 21 tahun itu dari asrama universitasnya, tempat dia dikarantina selama 14 hari.

Senoua sempat mengalami demam, batuk kering, dan beragam gejala seperti flu.

Baca juga: Turis China Positif Virus Corona usai dari Bali, Tiga Hotel Dicek

Saat dia jatuh sakit, dia mengenang masa kecilnya di Kamerun tatkala terpapar malaria. Dia mengira hal paling buruk akan terjadi.

"Saat saya ke rumah sakit untuk pertama kalinya, saya berpikir tentang kematian saya dan bagaimana hal itu akan terjadi," paparnya.

Selama 13 hari dia diisolasi di sebuah rumah sakit di China. Dia diberi antibiotik dan obat-obatan yang biasanya dikonsumsi pasien HIV. Setelah dua pekan dia mulai menunjukkan tanda-tanda pulih.

CT scan memperlihatkan tiada jejak-jejak Covid-19—penyakit yang disebabkan virus baru corona.

Baca juga: 40 Warga AS di Kapal Pesiar di Jepang Tertular Virus Corona

Senoua menjadi orang Afrika pertama yang diketahui terinfeksi virus SARS-CoV-2 dan yang pertama pulih. Biaya perawatannya sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah China.

Mesir adalah negara pertama di Afrika yang mengonfirmasi kasus virus SARS-CoV-2. Para ahli kesehatan memperingatkan negara-negara dengan sistem kesehatan yang lemah mungkin akan kepayahan menangani potensi wabah penyakit, yang menyebabkan lebih dari 1.600 kematian dan menginfeksi lebih dari 68.000 orang, sebagian besar di China.

"Saya tidak mau pulang ke kampung halaman sebelum menyelesaikan studi. Saya pikir tidak perlu kembali ke kampung halaman karena semua biaya rumah sakit sudah diurus pemerintah China," kata Senoua.

Baca juga: Sudah Ada 104 Spesimen Suspect Virus Corona di Indonesia, 102 Negatif

Evakuasi atau tidak?

Sejak akhir Januari, berbagai negara di dunia, dipimpin Amerika Serikat, mulai mengevakuasi warga mereka dari Wuhan dan kota-kota di sekitar.

Namun, ribuan mahasiswa, pekerja, dan keluarga Afrika tetap bertahan di Provinsi Hubei saat ada larangan keluar dan masuk daerah tersebut. Beberapa di antara mereka menilai pemerintah mereka seharusnya berbuat lebih banyak untuk menolong.

"Kami adalah putra dan putri Afrika namun Afrika tidak bersedia datang menyelamatkan kami ketika kami sangat memerlukan," kata Tisiliyani Salima, mahasiswa kedokteran dari Universitas Kedokteran Tongji sekaligus ketua persatuan pelajar Zambia di Wuhan.

Hampir sebulan terakhir, Salima mengarantina dirinya sendiri.

Baca juga: Kisah Pasien Singapura Sembuh dari Virus Corona: Rasanya Seperti Mau Mati

Waktu mulai bergulir tanpa arti bagi mahasiswa berusia 24 tahun ini. Dia menghabiskan harinya dengan tidur dan memeriksa berita terkini dari media sosial China.

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.