Karim Raslan
Pengamat ASEAN

Karim Raslan adalah kolumnis dan pengamat ASEAN. Dia telah menulis berbagai topik sejak 20 tahun silam. Kolomnya  CERITALAH, sudah dibukukan dalam "Ceritalah Malaysia" dan "Ceritalah Indonesia". Kini, kolom barunya CERITALAH ASEAN, akan terbit di Kompas.com setiap Kamis. Sebuah seri perjalanannya di Asia Tenggara mengeksplorasi topik yang lebih dari tema politik, mulai film, hiburan, gayahidup melalui esai khas Ceritalah. Ikuti Twitter dan Instagramnya di @fromKMR

Gig Economy, Bom Waktu yang Sedang Berdetak

Kompas.com - 14/10/2019, 12:48 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

GIG ECONOMY adalah kapitalisme yang paling brutal. Semua orang ingin menciptakan "unicorn" berikutnya – yang otomatis mengganggu bisnis konvensional skala global seperti Airbnb dan Netflix.

Namun, calon juara sering berakhir seperti WeWork, yang gagal melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) pada Agustus lalu menunjukkan dugaan adanya penurunan keuntungan sebesar 75 persen dari 40 miliar dollar AS menjadi 10 miliar dollar AS.

Sang pendiri perusahaan yang berambut panjang dan perokok ulung, Adam Neumann, pun raib dengan penuh aib. Menurut laporan media baru-baru ini, kondisi itu bisa menyebabkan krisis keuangan.

Foodpanda, bagian dari grup Delivery Hero yang terdaftar di bursa saham Jerman menghadapi tantangan di Malaysia – sebuah pasar yang diklaim Managing Director lokalnya, Sayantan Das, telah dikuasai 92 persen per Juni 2018.

Baca juga: Foodpanda Berhenti Beroperasi di Indonesia

Baru-baru ini, layanan pengiriman makanan tersebut berusaha mengubah ketentuan pembayaran kepada pengendara sepeda motor yang merupakan aset penting perusahaan.

Hal ini memicu mogok dari para pengendara, serta pengawasan pemerintah di bawah administrasi Pakatan Harapan (PH) Tun Dr. Mahathir Mohamad yang memiliki fokus "berbagi kemakmuran".

Kontroversi tersebut menggarisbawahi besarnya risiko gig economy.

Tim Ceritalah menghadiri dialog emosional antara pengendara Foodpanda dan Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia, beberapa waktu lalu.

Muhammad Hajid, seorang siswa sembilan belas tahun yang kurus dan cerewet, adalah salah satu dari mereka yang hadir di kediaman menteri. Dia menjadi kurir makanan paruh waktu sejak Desember 2018. Dia berharap dapat menanggung biaya kuliah dan membantu ibunya.

Awalnya, menurut Hajid, semua berjalan dengan baik. Dia mengklaim pada September lalu--saat libur semester—dia bisa membawa pulang MYR3000. Itu hasil kerja kerasnya. Hajid mencatat mendapatkan 28 shift dalam sebulan (yang pada dasarnya 315 jam) dan 311 pengiriman.

 

"Saya berencana untuk melakukan ini penuh waktu karena bayarannya sangat baik," Hajid bercerita.

Namun, dengan perubahan sistem pembayaran Foodpanda, Hajid menjadi ragu akan masa depannya. Mengapa?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.