Kompas.com - 01/10/2019, 08:40 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyatakan, negaranya bakal terus menyelidiki pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi.

Pernyataan itu dia sampaikan dalam opini di The Washington Post, setahun jelang peringatan terbunuhnya Khashoggi pada Rabu (2/10/2019).

Baca juga: Putra Mahkota Saudi Bertanggung Jawab atas Pembunuhan Jurnalis Jamal Khashoggi, tapi...

Dalam tulisannya, Erdogan menekankan bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan insiden paling kontroversial dan berpengaruh di abad 21 ini.

Dilansir VOA Senin (30/9/2019), dia menyalahkan "organisasi gelap" dalam tubuh pemerintahan. Dia tak menyebut Saudi secara langsung.

"Kami terus menanyakan hal yang sama. Di mana jenazah Khashoggi? Siapa yang mengizinkan pembunuhan itu? Siapa yang mengirim 15 pembunuh?" tanya Erdogan.

Khashoggi masuk ke Konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018 untuk mengurus dokumen pernikahan ketika dia kemudian dibunuh.

Saat itu, penyelidik Turki mengklaim bahwa jurnalis 59 tahun itu dimutilasi dengan jenazahnya saat ini masih belum ditemukan.

Awalnya, Riyadh bersikukuh bahwa Khashoggi sudah meninggalkan gedung, sebelum memberikan penjelasan bahw dia dibunuh oleh organisasi gelap.

Saudi kemudian menyatakan mereka sudah mengadili 11 terduga pelaku, dengan lima di antaranya dituntut hukuman mati karena dianggap terlibat langsung.

Erdogan mengkritik proses persidangan di Saudi karena dianggap kurang transparan, dan pembunuh Jamal Khashoggi masih "menikmati" kebebasan.

Laporan dari penyidik PBB menyimpulkan peran Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman harus diselidiki dalam pembunuhan tersebut.

Putra mahkota yang akrab disapa MBS itu dalam wawancara dengan CBS 60 Minutes membantah dia memerintahkan Khashoggi dibunuh.

"Tetapi saya memikul tanggung jawab sebagai pemimpin Saudi, apalagi kasus itu dilakukan orang yang bekerja di pemerintahan kami," katanya.

Baca juga: Putra Mahkota Saudi Pikul Tanggung Jawab dalam Pembunuhan Khashoggi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber VOA News
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.