Kompas.com - 27/09/2019, 18:08 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menjanjikan bahwa negaranya akan terus membeli minyak dan gas alam dari Iran meski ada sanksi AS.

Menurut Erdogan, Turki tidak mungkin membatalkan kerja samanya dengan Iran dalam impor minyak dan gas alam.

"Mustahil bagi kami untuk membatalkan hubungan dengan Iran dalam impor minyak dan gas alam. Kami akan terus membeli gas alam dari sana," kata Erdogan kepada wartawan Turki sebelum meninggalkan New York, usai menghadiri Sidang Majelis Umum PBB, Jumat (27/9/2019).

Diberitakan NTV, terlepas dari janji untuk terus mengimpor minyak dari Iran, Erdogan juga mengakui bahwa Turki menghadapi kesulitan dalam membeli minyak lantaran sektor swasta yang mengalami kemunduran akibat ancaman AS.

Baca juga: Erdogan: Sekalian Saja Seluruh Dunia Tak Usah Punya Senjata Nuklir

"Namun dalam masalah ini, terutama dan banyak masalah lainnya, kami akan melanjutkan hubungan kami dengan Iran," ujar Erdogan, yang menambahkan bahwa Ankara masih berusaha untuk terus meningkatkan volume perdagangan dengan Teheran.

Amerika Serikat telah kembali memberlakukan sanksinya terhadap Iran setelah menarik diri dari Kesepakatan Nuklir 2015 dan mengatakan akan menekan penjualan energi Teheran hingga menjadi nol.

Erdogan juga mengkritik sanksi terhadap Iran dan bersikeras bahwa hal tersebut tidak memperoleh pencapaian apa pun.

Turki dan Iran telah bekerja sama dengan erat, juga bersama Rusia, dalam menyelesaikan konflik delapan tahun di Suriah, meski berada di pihak yang bertikai.

Baca juga: Serangan ke Fasilitas Minyak Arab Saudi, Erdogan: Hati-hati Sebelum Salahkan Iran

Erdogan sebelumnya juga menunjukkan dukungan terhadap Iran yang dituduh banyak pihak sebagai yang bertanggung jawab dalam insiden serangan ke fasilitas minyak Arab Saudi.

Erdogan memperingatkan kepada pemerintah negara-negara asing agar lebih berhati-hati sebelum menyalahkan Iran atas serangan yang terjadi pada 14 September lalu itu.

Menurut Erdogan, bukan tindakan yang tepat jika menempatkan seluruh beban kesalahan kepada Teheran.

Sebagaimana diketahui, serangan drone dan rudal pada dini hari telah menghancurkan dua fasilitas minyak milik Aramco di Arab Saudi.

Kelompok pemberontak Yaman, Houthi, telah mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, namun Amerika Serikat dan Arab Saudi menolak klaim itu.

Baca juga: Erdogan Tak Terima Turki Tidak Punya Senjata Nuklir

Tak hanya AS dan Arab Saudi, tiga negara besar Eropa, yakni Inggris, Jerman, dan Perancis, juga sepakat mengenai serangan terhadap fasilitas minyak di Abqaiq dan Khurais.

Ketiga pemimpin negara Eropa itu sepakat menyatakan bahwa Iran "jelas" berada di balik serangan. Namun mereka tetap menyerukan untuk langkah diplomasi dan bukan militer.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.