Kompas.com - 23/09/2019, 11:38 WIB

MANILA, KOMPAS.com - Warga Filipina sangat puas dengan hasil kampanye perang melawan narkoba yang digalakkan Presiden Rodrido Duterte, menurut hasil sebuah survei independen.

Hasil survei tersebut seolah menjadi dukungan tersendiri bagi pemerintahan Duterte di tengah tekanan internasional untuk dilakukannya penyelidikan atas tuduhan pembunuhan dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan polisi Filipina dalam kampanye anti-narkoba itu.

Dilansir Reuters, hasil survei triwulan terbaru yang dirilis lembaga Social Weather Stations (SWS) menunjukkan hasil "sangat baik" terhadap kampanye anti-narkoba yang telah berjalan selama tiga tahun terakhir.

Survei tersebut dilakukan terhadap 1.200 warga Filipina, dengan hasil hingga 82 persen rakyat Filipina puas dan melihat ada penurunan kasus narkoba dan kejahatan di negara itu.

Baca juga: Duterte: Lebih Baik Para Buronan Itu Ditangkap dalam Kondisi Mati

Sementara hanya sekitar 12 persen responden yang menjawab tidak puas karena percaya pedagangan narkoba masih berkembang, selain turut meyakini terlalu banyak pembunuhan yang dilakukan karena penyalahgunaan wewenang kepolisian.

Sisanya sebanyak 6 persen tidak memilih karena merasa ragu. Survei independen tersebut dilakukan pada akhir Juni lalu.

Hasil survei tersebut dirilis hanya selang dua hari usai kebocoran memo presiden yang memerintahkan departemen dan perusahaan yang dikelola negara untuk menolak pinjaman maupun bantuan dari 18 negara anggota Dewan HAM PBB (UNHRC), termasuk Spanyol, Inggris, dan Australia, yang mendukung resolusi untuk menyelidiki kampanye anti-narkoba Duterte.

Kepolisian Filipina mengklaim telah menembak mati lebih dari 6.700 tersangka pengedar narkoba yang melawan penangkapan.

Baca juga: Duterte Minta Terapkan Lagi Hukuman Mati bagi Pengedar Narkoba dan Perampok

Namun mereka menyangkal tuduhan kelompok hak asasi manusia, yang mengatakan polisi Filipina telah mengeksekusi tersangka, memalsukan laporan dan merusak barang bukti dan tempat kejadian.

Juru bicara kepresidenan Filipina, Salvador Panelo, mengatakam bahwa hasil survei menunjukkan bahwa masyarakat internasional telah salah memahami apa yang terjadi di Filipina.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.