Pentagon Pertimbangkan Pengawalan Militer untuk Kapal-kapal di Teluk

Kompas.com - 12/07/2019, 08:23 WIB
Sebuah gambar yang dirilis oleh kantor berita ISNA menunjukkan kapal tanker Front Altair dilalap api setelah diduga diserang dengan torpedo di Teluk Oman pada Kamis (13/6/2019). AFP/ISNASebuah gambar yang dirilis oleh kantor berita ISNA menunjukkan kapal tanker Front Altair dilalap api setelah diduga diserang dengan torpedo di Teluk Oman pada Kamis (13/6/2019).

WASHINGTON, KOMPAS.com - Departemen Pertahanan Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk melakukan pengawalan militer untuk kapal-kapal komersial yang berlayar melintasi perairan Teluk.

Rencana tersebut menyusul insiden penyergapan terhadap kapal tanker Inggris oleh sejumlah kapal yang menurut AS adalah milik Garda Revolusi Iran pada Rabu (10/7/2019).

Pentagom saat ini sedang mengumpulkan koalisi yang setuju dalam hal menyediakan pengawalan militer dan angkatan laut untuk kapal-kapal komersial di wilayah Teluk.

"Saya pikir ini akan berkembang dalam beberapa pekan ke depan," kata Jenderal Mark Milley, kandidat Gedung Putih untuk ketua Kepala Staf Gabungan AS.

Baca juga: 5 Kapal Iran Diduga Coba Rebut Kapal Tanker Inggris di Selat Hormuz

Sebelumnya, Kamis (11/7/2019), pemerinta Inggris juga menuduh Iran telah mengerahkan tiga kapalnya untuk menghambat perjalanan kapal tanker British Heritage saat hendak memasuki Selat Hormuz.

"Kami sungguh prihatin dengan tindakan ini dan mendesak kepada pemerintah Iran untuk menurukan ketegangan di kawasan itu," kata juru bicara perdana menteri Inggris, dikutip AFP.

Upaya pencegatan terhadap kapal tanker Inggris diduga berkaitan dengan penyitaan kapal tanker Iran, Grace 1, di Gibraltar, oleh Marinir Inggris pada 4 Juli lalu.

Kapal tanker yang penuh bermuatan minyak itu diyakini akan dikirim ke Suriah dan hal tersebut telah melanggar sanksi ekspor minyak Iran.

Dugaan keterlibatan Garda Revolusi Iran dalam insiden terbaru tersebut diperkuat dengan pernyataan Presiden Iran Hassan Rouhani yang memperingatkan kepada AS dan Inggris akan konsekuensi yang tidak ditentukan atas penahanan salah satu kapal Iran.

Namun Garda Revolusi Iran langsung membantah tegas terlibat dalam insiden pencegatan kapal tanker British Heritage seperti yang dituduhkan AS dan Inggris.

Baca juga: Inggris Sebut 3 Kapal Iran Berusaha Cegat Kapal Tanker di Perairan Teluk

Sementara terkait rencana AS mengajak koalisinya untuk menyediakan pengawalan militer terhadap kapal tanker di wilayah Teluk, tidak langsung mendapat jawaban dari Inggris dan Perancis.

Meski kedua negara itu juga mempertahankan kehadiran angkatan lautnya secara konstan di perairan Teluk, tetapi London dan Paris enggan mengikuti kampanye tekanan maksimum yang dilakukan Washington terhadap Teheran.

Media Inggris melaporkan bahwa kemungkinan penyebaran lebih banyak kapal Angkatan Laut Kerajaan ke wilayah itu "sedang diperhatikan", menyusul insiden terbaru yang dialami kapal tanker British Heritage.

Sementara Perancis, menurut seorang pejabat pemerintah justru sedang mengupayakan untuk melakukan deeskalasi di wilayah Teluk.

"Mengirim aset militer tambahan ke wilayah itu tampaknya tidak berguna bagi kita," ujar pejabat itu.

Apabila terlaksana, upaya bersama AS dengan Inggris dan Perancis akan mengulangi operasi pada 1987-1988 yang dilakukan untuk melindungi kapal tanker minyak Kuwait dari serangan Iran, selama Perang Iran-Irak.

Baca juga: Garda Revolusi Iran Bantah Kapalnya Cegat Kapal Tanker Inggris

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tukar Tawanan, Taliban Bebaskan 2 Profesor asal AS dan Australia

Tukar Tawanan, Taliban Bebaskan 2 Profesor asal AS dan Australia

Internasional
Demonstrasi Kenaikan Harga BBM di Iran, 106 Orang Tewas

Demonstrasi Kenaikan Harga BBM di Iran, 106 Orang Tewas

Internasional
Disebut Tak Tertandingi di Timur Tengah, Apa Saja Rudal yang Dipunyai Iran?

Disebut Tak Tertandingi di Timur Tengah, Apa Saja Rudal yang Dipunyai Iran?

Internasional
Studi Pentagon: Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah

Studi Pentagon: Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] 600 Demonstran Hong Kong Menyerah | Mia Khalifa Kisahkan Pengalaman

[POPULER INTERNASIONAL] 600 Demonstran Hong Kong Menyerah | Mia Khalifa Kisahkan Pengalaman

Internasional
Mantan Bintang Porno Mia Khalifa Kisahkan Dijebak Masuk ke Industri Film Dewasa

Mantan Bintang Porno Mia Khalifa Kisahkan Dijebak Masuk ke Industri Film Dewasa

Internasional
Menyeberang Sambil Pakai 'Headphone' dan Bermain Ponsel, Juara Tinju Ini Tewas Ditabrak Kereta

Menyeberang Sambil Pakai "Headphone" dan Bermain Ponsel, Juara Tinju Ini Tewas Ditabrak Kereta

Internasional
Berbohong Dirinya Diperkosa, Pria Indonesia Dipenjara di Singapura

Berbohong Dirinya Diperkosa, Pria Indonesia Dipenjara di Singapura

Internasional
Mantan Model Playboy Ini Berniat 'Nyalon' Jadi Presiden Kroasia

Mantan Model Playboy Ini Berniat "Nyalon" Jadi Presiden Kroasia

Internasional
Dikepung Polisi, Demonstran Hong Kong di Universitas Tulis Kata-kata Terakhir

Dikepung Polisi, Demonstran Hong Kong di Universitas Tulis Kata-kata Terakhir

Internasional
Trump Kunjungi Rumah Sakit Militer secara Rahasia, Kesehatannya Jadi Sorotan

Trump Kunjungi Rumah Sakit Militer secara Rahasia, Kesehatannya Jadi Sorotan

Internasional
Bentrokan di Universitas Hong Kong, Keluarga yang Cemas Menanti Kabar Anaknya

Bentrokan di Universitas Hong Kong, Keluarga yang Cemas Menanti Kabar Anaknya

Internasional
Pemimpin Hong Kong Minta Demonstran yang Ada di Kampus untuk Menyerah

Pemimpin Hong Kong Minta Demonstran yang Ada di Kampus untuk Menyerah

Internasional
Pemerintah Hong Kong Sebut 600 Demonstran Menyerah kepada Polisi

Pemerintah Hong Kong Sebut 600 Demonstran Menyerah kepada Polisi

Internasional
Dokumen soal Penanganan Minoritas Muslim di Xinjiang Bocor, Apa Tanggapan China?

Dokumen soal Penanganan Minoritas Muslim di Xinjiang Bocor, Apa Tanggapan China?

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X