Biografi Tokoh Dunia: Malala Yousafzai, Melantang bagi Pendidikan Anak - Kompas.com

Biografi Tokoh Dunia: Malala Yousafzai, Melantang bagi Pendidikan Anak

Kompas.com - 12/07/2018, 17:33 WIB
Malala Yousafzaiwww.malala-yousafzai.com Malala Yousafzai

KOMPAS.com - Dia menjadi sorotan global ketika lolos dari percobaan pembunuhan oleh Taliban pada usia 15 tahun.

Malala Yousafzai asal Pakistan ditembak pada bagian kepalanya oleh seorang penembak Taliban pada 2012. Sejak itu, dia menyuarakan perlawanan terhadap kelompok tersebut.

Dia mendesak agar perempuan diperbolehkan untuk memperoleh pendidikan. Pada 2014, dia meraih penghargaan Nobel Perdamaian atas perannya dalam menyuarakan hak anak.

Kehidupan awal dan Taliban

Malala Yousafzai lahir pada 12 Juli 1997 di Mingora, kota terbesar Swat Valley, provinsi Khyber Pakhtunkhwa, Pakistan.

Dia putri dari pasangan Ziauddin dan Tor Pekai Yousafzai, serta memiliki dua adik laki-laki.

Kehidupan awalnya begitu menyenangkan sebab tempat tinggalnya merupakan destinasi wisata populer dan dikenal dengan festival musim panasnya.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Giorgio Armani, Perancang Busana Kelas Dunia

Semua itu berubah ketika kelompok Taliban mencoba menguasai daerah tersebut. Usia Malala masih 10 tahun ketika Taliban mulai mengendalikan Swat Balley dan menjadi dominan di bidang politik dan sosial.

Taliban melarang perempuan bersekolah dan kegiatan budaya seperti menari, bahkan menonton televisi juga tidak diperbolehkan.

Serangan bom bunuh diri menyebar dan hingga akhir 2008, Taliban menghancurkan sekitar 400 sekolah.

Namun, setelah Taliban mulai menyerang sekolah perempuan di Swat, dia menyampaikan pidato di Peshawar pada September 2008.

Pidato pertamanya itu berjudul "Betapa beraninya Taliban merampas hak dasarnya untuk bersekolah?".

Malala Yousafzai, ayahnya Ziauddin, dan wartawan CNN Christiane Amanpour berfoto bersama sebelum melakukan wawancara di New York, Kamis (10/10/2013).EMMANUEL DUNAND / AFP Malala Yousafzai, ayahnya Ziauddin, dan wartawan CNN Christiane Amanpour berfoto bersama sebelum melakukan wawancara di New York, Kamis (10/10/2013).
Menulis blog

Sebagai remaja yang begitu peduli dengan dunia pendidikan, Malala menulis blog untuk BBC mengenai kehidupan di bawah ancaman Taliban yang menolak pendidikan.

Identitasnya disembunyikan sehingga dia memakai nama samaran sebagai Gul Makai.

Dia mengungkapkan bahwa Taliban memaksanya untuk tinggal di rumah sehingga dia mempertanyakan motif dari kelompok itu.

Perang Pakistan melawan Taliban meletus pada 2009, dan Malala menjadi pengungsi di negaranya. Dia dan keluarganya harus meninggalkan rumah untuk mencari lokasi aman yang jauhnya ratusan kilometer.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Catherine II, Kaisar Perempuan Rusia

Ketika kembali ke rumah beberapa pekan kemudian, Malala menggunakan saranan media untuk melanjutkan kampanye hak untuk sekolah.

Suaranya makin nyaring sehingga dia dan ayahnya menjadi dikenal seantero Pakistan.

Kegiatan aktivisnya berbuah manis dengan masuknya Malala sebagai nominasi penghargaan Nobel Perdamaian Anak Internasional pada 2011.

Di tahun yang sama, dia mendapat penghargaan Pakistan's National Youth Prize.

Tim medis Pakistan membawa Malala Yousafzai dengan tandu di rumah sakit, setelah dia diserang oleh orang bersenjata di Mingora pada 9 Oktober 2012. (AFP) Tim medis Pakistan membawa Malala Yousafzai dengan tandu di rumah sakit, setelah dia diserang oleh orang bersenjata di Mingora pada 9 Oktober 2012. (AFP)
Ditembak Taliban

Tidak semua orang menyambut baik usaha Malala memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan.

Pada 9 Oktober 2012, remaja berusia 15 tahun itu ditembak oleh Taliban.

Dia duduk di bus menuju rumah dari sekolahnya.

Malala sedang mengobrol dengan teman-temannya tentang PR sekolah. Lalu, dua anggota Taliban menghentikan bus.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Steve Irwin, Sang Crocodile Hunter

Seorang pemuda Taliban memanggil nama Malala dan menembak tiga kali ke arahnya. Satu peluru menembus kepalanya dan bersarang pada bahunya. Malala terluka serius.

Pada hari yang sama, dia dibawa ke rumah sakit militer Pakistan di Peshawar. Empat hari selanjutnya, dia diterbangkan ke Birmingham, Inggris, untuk menerima perawatan intensif.

Meski memerlukan banyak operasi, termasuk perbaikan saraf wajah untuk memperbaiki sisi kiri wajahnya yang lumpuh, dia tidak menderita kerusakan otak besar.

Pada Maret 2013, dia mulai bersekolah di Birmingham. Atas penembakan itu, dukungan besar-besaran mengalir kepadanya.

Nobel perdamaian

Pada 2013, dia melakukan pidato untuk PBB dan menerbitkan buku pertamanya berjudu I am Malala.

Setahun kemudian, Malala menyabet Penghargaan Nobel Perdamaian saat dia berusia 17 tahun. Malala menjadi orang termuda yang meraih penghargaan tersebut.

Malala Yousafzai, aktivis remaja yang nyaris tewas ditembak Taliban tahun lalu, berpidato di PBB tepat pada ulang tahunnya yang ke-16, Jumat (12/7/2013). Malala mendesak dunia untuk memberikan akses pendidikan sebesar-besarnya untuk anak-anak.STAN HONDA / AFP Malala Yousafzai, aktivis remaja yang nyaris tewas ditembak Taliban tahun lalu, berpidato di PBB tepat pada ulang tahunnya yang ke-16, Jumat (12/7/2013). Malala mendesak dunia untuk memberikan akses pendidikan sebesar-besarnya untuk anak-anak.
"Penghargaan ini tidak hanya untuk saya. Ini untuk anak-anak yang terlupakan yang ingin menempuh pendidikan. Ini untuk anak-anak yang ketakutakan, yang menginginkan perdamaian," katanya.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Sir Stamford Raffles, Penulis Sejarah Jawa

"Ini untuk anak-anak yang tidak bisa bersuara, yang menginginkan perubahan," imbuhnya.

Pada tahun yang sama, Malala mendirikan lembaga amal Malala Fund dengan dibantu ayahnya.

Sekarang lembaga tersebut memberdayakan anak perempuan untuk mengolah potensi diri sehingga mampu menjadi pemimpin kuat bagi negara.

Proyek pendidikan dari Malala Fund tersebar di enam negara dan bekerja sama dengan pemimpin dunia.

Kembali ke Pakistan

Pada 29 Maret 2018, Malala kembali ke Pakistan untuk pertama kalinya sejak serangan brutal pada 2012. Dia bertemu dengan Perdana Menteri Shahid Khawan Abbasi dan menyampaikan pidato yang emosional.

Selama kunjungan empat hari itu, dia mengungkapkan kerinduan terhadap tanah airnya.

Baca juga: Biografi Tokoh Dunia: Amelia Earhart, Pionir Dunia Penerbangan

"Dalam lima tahun terakhir, saya selalu bermimpi kembali ke negara saya. Saya tidak ingin pergi," ucapnya.

Agen perubahan

Malala selalu mendorong perempuan untuk menjadi agen perubahan untuk komunitas mereka.

Kini, dia sedang menempuh pendidikan di Universitas Oxford di Inggris. Dia mengaku ingin menetap di Pakistan usai merampungkan kuliahnya.


Komentar
Close Ads X