Kompas.com - 18/06/2018, 23:32 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Di tengah berbagai spekulasi tentang sanksi terhadap Korea Utara usai terjadinya pertemuan pertemuan antara Kim Jong Un dengan Presiden AS Donald Trump, pekan lalu, Seoul tampak berbeda pandangan dengan Washington.

Dalam pertemuan tingkat tinggi antara kedua pemimpin negara di Singapura, Selasa (12/6/2018) pekan lalu, dihasilkan penandatanganan kesepakatan komitmen Korea Utara untuk melakukan denuklirisasi.

Usai pertemuan, AS melalui menteri luar negerinya, Mike Pompeo menegaskan pihaknya akan tetap memberlakukan sanksi terhadap Korea Utara hingga Pyongyang dapat melakukan denuklirisasi secara lengkap, terverifikasi dan tak dapat dikembalikan.

Baca juga: Menlu AS: Sanksi Korut Masih Berlaku sampai Denuklirisasi Penuh

Namun demikian, Korea Selatan, pada Senin (18/6/2018), menyampaikan bahwa pengurangan sanksi Korea Utara dapat terjadi lebih cepat.

"Pernyataan sikap kami adalah bahwa sanksi harus tetap diberlakukan sampai Korea Utara mula mengambil langkah-langkah yang berarti dan nyata menuju terjadinya denuklirisasi," kata Menteri Luar Negeri Korsel, Kang Kyung-wha dilansir AFP.

Dia menambahkan, Seoul dengan Washington tetap berbagi pandangan terhadap "gambaran besar" yag sama dan akan terus melanjutkan kerja sama konsultasi yang erat.

Komentar Korea Selatan ini muncul beberapa hari usai pernyataan Kementerian Luar Negeri China yang menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk mempertimbangkan pengurangan sanksi kepada sekutunya, Korut.

China sebagai sekutu terdekat Korea Utara mernjadi penyumbang 90 persen perdagangan di Pyongyang.

Sementara para pakar menilai, pertemuan antara Trump dengan Kim di Singapura telah membuat kebijakan sanksi terhadap Korea Utara lebih sulit diterapkan, bahkan jika nantinya diplomasi keduanya berakhir gagal.

Baca juga: AS Berharap Denuklirisasi Korut Rampung pada 2020

"Simbolisme pertemuan telah memastikan bahwa kampanye tekanan maksimum sudah mencapai puncaknya."

"Dalam praktiknya, China dan Korea Selatan akan terus mendorong akan terjadinya pelemahan tekanan ekonomi kepada Korea Utara," kata pengamat senior studi Korea, Dewan Hubungan Luar Negeri AS, Scott Snyder.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Sumber AFP
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.