Selasa, 28 Maret 2017

Internasional

Akhirnya, Trump Bertemu Merkel di Gedung Putih

Jumat, 17 Maret 2017 | 13:10 WIB
VIA VOA INDONESIA Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden AS Donald Trump

WASHINGTON, KOMPAS.com - Setelah sempat tertunda akibat badai salju yang melanda Washington sepekan kemarin, akhirnya pada Jumat (17/3/2017) ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump bisa bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel.

Diberitakan AFP, Merkel dan Trump bertemu di the Oval Office. Pertemuan kali ini diharapkan bisa menutup perbedaan pandang antara kedua negara terkait sejumlah isu. 

Antara lain mengenai pakta pertahanan atlantik utara (NATO), tentang Rusia, perdagangan global dan sejumlah isu lainnya. 

Sebelumnya, pembicaraan ini dijadwalkan berlangsung Selasa lalu. Namun kondisi cuaca di AS saat itu memaksa jadwal tersebut di tata ulang. 

Baca: Trump Disebut Bakal Minta Pendapat Merkel Soal Putin

Selama bertahun-tahun, Merkel telah menjadi pemimpin dunia yang paling dekat dengan Presiden Barack Obama.

Keduanya memiliki hubungan yang kuat dan kerap berbagi dukungan. Obama dan Merkel pun dikenal memiliki cara pendekatan yang sama dalam kepemimpinannya. 

Dengan Trump, Merkel mungkin akan menghindari argumentasi terbuka.

Sebelum  pertemuan ini, hubungan kedua Kepala Pemerintahan ini sempat menghangat. Trump menyebut kebijakan Merkel yang menerima laju pengungsi sebagai sebagai kesalahan. 

Tak hanya itu, Trump pun mengatakan Merkel telah mengacaukan Jerman dengan kebijakannya tersebut. 

Bahkan, Trump pun mendesak negara-negara macam Jerman, untuk maju dan menambah belanja pertahanan mereka.

Hal ini menjadi isu sensitif bagi sebuah bangsa yang telah memiliki tradisi damai yang kuat sejak Perang Dunia II dan berkiblat pada kehati-hatian fiskal. 

Dalam nada yang tak kalah tinggi, Merkel berulang kali mengingatkan Trump tentang nilai-nilai demokrasi yang harus dipegangnya. 

"Hubungan yang dekat harus didasarkan pada nilai demokrasi, kebebasan dan penghormatan terhadap hukum, kemanusiaan, tanpa memandang perbedaan warna kulit, suku, agama, jenis kelamin, orientasi seks ataupun kepercayaan politik."

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Editor : Glori K. Wadrianto