Kompas.com - 08/10/2019, 08:03 WIB

HONG KONG, KOMPAS.com - Pemerintah Hong Kong mempertimbangkan untuk memberlakukan pembatasan akses dan menyensor internet dalam upaya menanggulangi aksi protes yang semakin keras.

Langkah tersebut dimungkinkan setelah pemberlakukan larangan penggunaan penutup wajah dalam aksi protes gagal memadamkan kerusuhan.

Aksi protes yang diwarnai bentrokan dengan aparat keamanan yang terjadi selama tiga hari terakhir telah membuat sebagian wilayah Hong Kong lumpuh.

Layanan kereta sebagian ditangguhkan, sementara massa unjuk rasa telah mulai mengarahkan kemarahan mereka ke sejumlah outlet bisnis yang dianggap pro-China.

Baca juga: Akhirnya, Pemimpin Hong Kong Umumkan Larangan Pemakaian Masker Wajah bagi Demonstran

Peningkatan kekerasan dalam aksi unjuk rasa itu menyusul pengumuman pemerintah Hong Kong yang kembali memberlakukan undang-undang darurat era kolonial yang sudah tidak digunakan selama lebih dari 50 tahun, yakni larangan penggunaan penutup wajah bagi peserta aksi demonstrasi.

Pemimpin Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam mengatakan larangan itu diperlukan untuk menahan kerusuhan, yang telah berlangsung hampir empat bulan dengan jutaan orang turun ke jalan menuntut China tak mengusik kebebasan otonomi kota itu.

Menanggapi aksi protes yang semakin keras, seorang anggota Dewan Eksekutif Hong Kong, Ip Kwok-him, mengangkat isu kemungkinan bagi pemerintah untuk melakukan pembatasan akses internet.

"Pada tahap ini, pemerintah bisa mempertimbangkan semua langkah hukum untuk menghentikan kerusuhan," kata Ip, politisi senior yang pro-Beijing, dalam sebuah wawancara radio, Senin (7/10/2019).

Baca juga: Demonstran Anti-Pemerintah Pukul Seorang Pekerja Kantor China di Hong Kong

"Kami tidak akan mengesampingkan kemungkinan memberlakukan larangan terhadap internet," tambahnya, yang menyulut kekhawatiran di kalangan pengunjuk rasa.

Jaringan internet menjadi sangat penting bagi pengunjuk rasa, yang tidak digerakkan pemimpin publik dan lebih banyak menggunakan forum online serta aplikasi pesan terenkripsi untuk memobilisasi massa.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.