China Perluas Larangan terhadap Situs Berita Australia

Kompas.com - 10/06/2019, 18:53 WIB
Markas pusat lembaga penyiaran publik Australia ABC terlihat di Sydney. (SAEED KHAN/AFP) SAEED KHANMarkas pusat lembaga penyiaran publik Australia ABC terlihat di Sydney. (SAEED KHAN/AFP)

BEIJING, KOMPAS.com - Sejumlah situs berita berbahasa Inggris kini tak bisa diakses di China setelah peringatan ke-30 tahun pembantaian Tiananmen pada pekan lalu.

The Age dan News.com.au menjadi outlet media Australia terbaru yang menjadi korban otoritas Beijing.

Situs ABC, yang tiba-tiba menghilang pada 22 Agustus tahun lalu karena diduga melanggar aturan internet China, juga tetap tak bisa diakses.

Media internasional besar termasuk The Guardian dan The Washington Post juga telah diblokir selama akhir pekan itu. Demikian laporan dari situs monitor sensor GreatFire.org.

Baca juga: Kisah di Balik Foto Tank Man Saat Pembantaian Tiananmen 30 Tahun Silam

Selama periode yang sensitif secara politis tersebut, aparat sensor China biasanya bekerja keras untuk menghilangkan referensi terhadap gerakan pro-demokrasi 1989.

Namun, liputan tentang peringatan 30 tahun tersebut kini berada di bawah pengawasan yang lebih keras.

30 tahun setelah tindakan keras pemerintah terhadap mahasiswa, sensor robot China secara otomatis terus menyaring semua konten yang menyinggung tanggal, gambar dan nama yang terkait dengan unjuk rasa Tiananmen di internet dan media sosial.

Menurut postingan Twitter GreatFire.com, media lain yang disensor dalam beberapa hari terakhir termasuk Huffington Post, NBC News, Toronto Star, dan Asahi Shimbun dari Jepang.

Mereka bergabung dengan media yang sudah dilarang termasuk Reuters, The Wall Street Journal dan The New York Times yang dilaporkan telah diblokir selama bertahun-tahun dan sekarang hanya bisa diakses menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN).

Ensiklopedia online Wikipedia juga dilaporkan dilarang selama beberapa minggu menjelang peringatan Tiananmen.

Tidak jelas apakah larangan terbaru pada outlet media akan permanen atau mengapa situs berita tertentu menjadi sasaran ketimbang situs lainnya, sebab situs ABC telah diblokir selama hampir setahun setelah menghilang dengan cara yang sama.

Sebagai contoh, meski situs ABC tak bisa terhubung ke The Age dan News.com.au di internet China, Sydney Morning Herald dan The Australian masih bisa diakses pada saat tulisan ini dibuat.

Tak jelas juga kapan kedua situs Australia itu diblokir, tetapi Chris Edwards yang berbasis di Shenzhen, dan editor situs di South University of Science and Technology, mengunggah di Twitter bahwa News.com.au diyakini telah diblokir pada 21 Mei.

Sensor diklaim sementara

Baik The Guardian dan The Washington Post menerbitkan artikel selama akhir pekan tentang platform online mereka yang diblokir bertepatan dengan peringatan pembantaian Lapangan Tiananmen.

The Guardian melaporkan sensor "seringkali bersifat ad-hoc". Situs mereka offline bagi pengguna China setelah peringatan pembantaian 4 Juni.

Sementara itu, laporan Washington Post menyebut sensor internet di China memang jarang.

"Sensor internet China jarangmengkomunikasikan alasan mereka memblokir situs tertentu," demikian laporan Washington Post.

Ketika situs ABC disensor Agustus 2018, regulator keamanan siber China mengonfirmasi hal itu karena melanggar peraturan dan regulasi internet.

Larangan itu terjadi sehari setelah Pemerintah Australia memutuskan akan memblokir dua perusahaan telekomunikasi China, termasuk raksasa teknologi Huawei, untuk berpartisipasi dalam peluncuran jaringan infrastruktur 5G.

Tetapi sumber-sumber resmi di Pemerintah China mengatakan tidak mungkin keputusan terhadap Huawei mendorong penyensoran situs ABC.

Setelah berulang kali meminta klarifikasi, seorang pejabat dari Kantor Komisi Urusan Siber Nasional menyampaikan pernyataan kepada ABC, bersikeras bahwa internet sepenuhnya terbuka di China.

Baca juga: Tragedi Tiananmen Mengimunisasi China dari Kekacauan

"Namun, hak kedaulatan siber negara akan dipertahankan terhadap beberapa situs luar negeri yang melanggar hukum dan peraturan China," katanya.

"Seperti menyebarkan desas-desus, informasi pornografi, perjudian, terorisme kejam dan beberapa informasi illegal berbahaya lainnya yang akan membahayakan keamanan negara dan merusak kebanggaan nasional," imbuhnya.

ABC kembali mendekati Komisi Urusan Ruang Siber China untuk meminta tanggapan atas tindakan keras terbaru terhadap media internasional, tetapi mereka tidak merespons hingga berita ini diturunkan.

The Age dan The Guardian juga belum memberikan komentar.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ingin Pulang ke Myanmar, Pembantu Ini Celupkan Tangan Anak Majikan ke Air Mendidih

Ingin Pulang ke Myanmar, Pembantu Ini Celupkan Tangan Anak Majikan ke Air Mendidih

Internasional
Jenderal AS Sebut ISIS Bakal Bangkit jika Mereka Keluar dari Irak

Jenderal AS Sebut ISIS Bakal Bangkit jika Mereka Keluar dari Irak

Internasional
Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Manajer Sidang Pemakzulan: Trump Menipu guna Menangi Pilpres AS 2020

Internasional
Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran 'Pertukaran Saksi'

Pemakzulan Trump: Demokrat Tolak Tawaran "Pertukaran Saksi"

Internasional
Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Tak Sengaja Berikan Kunci Mobil Saat Kampanye, Politisi Peru Ini Minta Bantuan Netizen

Internasional
Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Berkunjung ke Gereja di Yerusalem, Presiden Perancis Berteriak ke Keamanan Israel

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

[POPULER INTERNASIONAL] Kesaksian Pengantin Pesanan China | Gadis di Gresik Tulis Surat ke PM Australia

Internasional
Ibu di India Ini Jual Rambut Rp 28.000 demi Beri Makan 3 Anaknya

Ibu di India Ini Jual Rambut Rp 28.000 demi Beri Makan 3 Anaknya

Internasional
Berhubungan Seks Saat Jam Kerja, Polisi di New York Ini Dipindahtugaskan

Berhubungan Seks Saat Jam Kerja, Polisi di New York Ini Dipindahtugaskan

Internasional
Korban Meninggal Virus Corona di China Bertambah Jadi 9 Orang, Disebut Bisa Bermutasi

Korban Meninggal Virus Corona di China Bertambah Jadi 9 Orang, Disebut Bisa Bermutasi

Internasional
Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Debat Lebih dari 12 Jam, Senat AS Setujui Aturan Sidang Pemakzulan Trump

Internasional
Pengakuan Pengantin Pesanan di China: 2 Kali Menikah, Sering Dipukuli

Pengakuan Pengantin Pesanan di China: 2 Kali Menikah, Sering Dipukuli

Internasional
Putra Mahkota MBS Dituding Retas Ponsel Jeff Bezos, Arab Saudi Beri Jawaban

Putra Mahkota MBS Dituding Retas Ponsel Jeff Bezos, Arab Saudi Beri Jawaban

Internasional
Permalukan Orang Pakai Piyama di Jalan, Kota di China Meminta Maaf

Permalukan Orang Pakai Piyama di Jalan, Kota di China Meminta Maaf

Internasional
Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Retas Ponsel Orang Terkaya Dunia pada 2018

Putra Mahkota Arab Saudi Disebut Retas Ponsel Orang Terkaya Dunia pada 2018

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X