ISIS Gunakan Bom Bunuh Diri untuk "Hukum" Anggota Mereka yang Menyerah

Kompas.com - 16/03/2019, 13:05 WIB
Anggota ISIS berserta istri dan anak-anak mereka keluar dari desa Baghouz di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, Kamis (14/3/2019). (AFP/Delil Souleiman) Anggota ISIS berserta istri dan anak-anak mereka keluar dari desa Baghouz di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, Kamis (14/3/2019). (AFP/Delil Souleiman)

BAGHOUZ, KOMPAS.com — Kelompok Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) melakukan serangan bom bunuh diri untuk mempertahankan benteng terakhir mereka di Baghouz.

Namun, kali ini sasaran mereka bukan hanya paramiliter Pasukan Demokrasi Suriah (SDF), melainkan juga keluarga dan anggota mereka.

Baca juga: Kabur dari Australia demi Gabung ISIS, Seorang Pengantin ISIS Kini Ingin Kembali Pulang

Pernyataan itu disampaikan oleh juru bicara SDF Mustafa Bali sebagaimana diwartakan Reuters via The Straits Times Jumat (15/3/2019).

Bali mengatakan, tiga pelaku yang mengenakan pakaian perempuan meledakkan diri di tiga titik pos penjagaan dari Baghouz ke teritori SDF.

Juru bicara SDF yang lain Jiaker Amed kepada AFP menjelaskan ada pelaku yang menyamar di antara kerumunan orang yang kabur sebelum meledakkan diri.

"Satu pelaku bom bunuh diri itu menewaskan setidaknya enam orang yang mencoba keluar," ujar Amed yang menambahkan, dua pelaku lain melakukan aksinya dekat SDF.

Beruntung, aksi pelaku bom bunuh diri ISIS itu hanya menimbulkan luka ringan terhadap tiga anggota. Tidak diketahui apakah si penyerang merupakan perempuan asli atau pria.

Bali menuturkan, para pelaku bom bunuh diri tersebut menyasar anggota beserta keluarganya dan simpatisan ISIS yang hendak menyerah.

Selain bom bunuh diri, anggota ISIS tersisa yang masih bertahan di Baghouz juga meledakkan bom mobil untuk menyulitkan pergerakan SDF.

Pada Jumat, Amed menjelaskan anggotanya tengah mengonsolidasikan diri untuk menghadapi gelombang lain pengungsi dari Baghouz.

Sejak operasi untuk mengalahkan ISIS dilanjutkan kembali pada 10 Maret lalu, lebih dari 4.000 anggota dan keluarga ISIS menyerah.

Lebih dari 61.000 memenuhi kamp pengungsian yang dikelola SDF sejak Desember lalu, dengan 10.000 di antaranya merupakan anggota ISIS.

Eksodus itu menimbulkan krisis kemanusiaan karena kebanyakan perempuan dan anak-anak berada dalam kondisi kehausan setelah melakukan perjalanan panjang.

Perancis menyatakan mereka telah memulangkan lima anak yatim piatu yang berusia di bawah lima tahun dari kamp pengungsian al-Hawl.

"Keputusan itu kami ambil setelah mempertimbangkan situasi anak-anak yang sangat rentan tersebut," ujar Kementerian Luar Negeri Perancis.

Baca juga: Malam Digempur Habis, Paginya 1.300 Anggota ISIS Keluar untuk Menyerah



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Inilah 7 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran

Inilah 7 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran

Internasional
Korut Peringatkan Seoul Tak Campur Tangan Pembicaraan dengan AS

Korut Peringatkan Seoul Tak Campur Tangan Pembicaraan dengan AS

Internasional
Ayah dan Anak Migran Tewas Tenggelam, Trump Salahkan Demokrat

Ayah dan Anak Migran Tewas Tenggelam, Trump Salahkan Demokrat

Internasional
Pasca ISIS Kalah, Terorisme Jadi Ancaman Utama Asia Tenggara

Pasca ISIS Kalah, Terorisme Jadi Ancaman Utama Asia Tenggara

Internasional
Gunung Ulawun di Papua Nugini Muntahkan Lava, 5.000 Orang Dievakuasi

Gunung Ulawun di Papua Nugini Muntahkan Lava, 5.000 Orang Dievakuasi

Internasional
Antara Trump dan Kim Jong Un Sudah Saling Bertukar 12 Surat

Antara Trump dan Kim Jong Un Sudah Saling Bertukar 12 Surat

Internasional
Hari Ini dalam Sejarah: Perjalanan Keliling Dunia Melalui Lautan Seorang Diri

Hari Ini dalam Sejarah: Perjalanan Keliling Dunia Melalui Lautan Seorang Diri

Internasional
Seorang Mahasiswa asal Australia Dikhawatirkan Ditahan di Korea Utara

Seorang Mahasiswa asal Australia Dikhawatirkan Ditahan di Korea Utara

Internasional
'Candy Bomber', Saat AS Berupaya Menarik Hati Warga Jerman akibat Blokade Uni Soviet

"Candy Bomber", Saat AS Berupaya Menarik Hati Warga Jerman akibat Blokade Uni Soviet

Internasional
Pemerintah Venezuela Klaim Gagalkan Upaya Pembunuhan Presiden Maduro

Pemerintah Venezuela Klaim Gagalkan Upaya Pembunuhan Presiden Maduro

Internasional
Ditanya Rencana Pembicaraan dengan Putin, Trump: Bukan Urusan Anda

Ditanya Rencana Pembicaraan dengan Putin, Trump: Bukan Urusan Anda

Internasional
Pangeran William Mengaku Tak Keberatan Jika Anaknya Menjadi Gay

Pangeran William Mengaku Tak Keberatan Jika Anaknya Menjadi Gay

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Joanna Paldini Diburu ISIS | Anak-anak Dimasukkan Plastik untuk ke Sekolah

[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Joanna Paldini Diburu ISIS | Anak-anak Dimasukkan Plastik untuk ke Sekolah

Internasional
Permintaan Terakhir Nenek 93 Tahun Ini: Ditangkap Polisi

Permintaan Terakhir Nenek 93 Tahun Ini: Ditangkap Polisi

Internasional
2020, Negara Bagian Australia Ini Larang Ponsel di Sekolah Negeri

2020, Negara Bagian Australia Ini Larang Ponsel di Sekolah Negeri

Internasional

Close Ads X