Kabur dari Australia demi Gabung ISIS, Seorang Pengantin ISIS Kini Ingin Kembali Pulang

Kompas.com - 15/03/2019, 12:55 WIB
Anggota ISIS berserta istri dan anak-anak mereka keluar dari desa Baghouz di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, Kamis (14/3/2019). (AFP/Delil Souleiman) Anggota ISIS berserta istri dan anak-anak mereka keluar dari desa Baghouz di provinsi Deir Ezzor, Suriah timur, Kamis (14/3/2019). (AFP/Delil Souleiman)

BAGHOUZ, KOMPAS.com - Seorang pengantin Negara Islam Irak dan Suriah ( ISIS) mengaku ingin kembali pulang ke Australia demi kedua anaknya.

Diwawancarai ABC News (14/3/2019), perempuan itu menolak membeberkan identitasnya. Namun, diyakini dia adalah Zehra Duman asal Melbourne.

Dalam wawancara yang dilansir Kamis (14/3/2019) itu, dia ditahan di kamp pengungsi al-Hawl yang terletak di sebelah timur laut Suriah.

Baca juga: Malam Digempur Habis, Paginya 1.300 Anggota ISIS Keluar untuk Menyerah

Perempuan itu berkata, dia ingin membawa kedua anaknya yang masing-masing berumur dua tahun dan enam bulan keluar dari Suriah dan kembali ke Australia.

Dia mengaku kedua anaknya saat ini sakit. Terutama putrinya yang berusia enam bulan mengalami kekurangan gizi sehingga sangat kurus.

Pengantin ISIS berumur 24 tahun itu berkata dia tidak diperbolehkan membawa uang dan di kamp pengungsi, mereka tidak mendapatkan makanan.

"Putri saya butuh susu, dan saya tidak punya uang untuk membelinya. Saya tidak tahu harus bagaimana. Dia dalam bahaya," ratapnya.

Dia pun mengungkapkan keinginan untuk pulang ke Australia karena merasa masih menjadi warga di sana. Dia paham jika publik menaruh kemarahan terhadapnya.

"Namun anak-anak tidak berhak untuk menderita. Anak saya mempunyai hak untuk diperlakukan sama seperti anak normal lainnya," tegasnya.

Si perempuan Australia itu mengaku ingin kabur dari ISIS selama dua tahun terakhir. Namun dia mengaku tidak ada jalan untuk keluar.

Dia mengisahkan situasi yang dialami sangat berbahaya. Dia tidak bisa keluar seenaknya kecuali ada yang bersedia menanggung risiko membawanya kabur.

Kisah pengantin ISIS itu mirip dengan Duman yang meninggalkan Melbourne untuk bergabung bersama ISIS pada November 2014 saat berusia 19 tahun.

Duman tinggal di Raqqa dan menikah dengan sesama anggota ISIS asal Australia bernama Mahmoud Abdullatif, dan dikenal sebagai pendukung vokal di media sosial.

Pada 2015, Duman yang menyebut dirinya Umm Abdullatif Australi mengunggah sebuah gambar perempuan yang membawa senapan serbu otomatis.

Baca juga: Pasukan Bom Bunuh Diri ISIS Sulitkan Koalisi AS Rebut Baghouz

"Tangkap aku kalau kalian bisa" Begitulah keterangan foto dalam unggahan itu. Dia melancarkan propaganda untuk menyerang dan meracuni Inggris maupun Australia.

Februari lalu, ABC memperoleh rekaman seorang perempuan yang diyakini sebagai Duman bersama putrinya di Suriah yang nampak sehat.

Video tersebut direkam pekerja kemanusiaan Amerika Serikat (AS) bernama David Eubank yang berlokasi di kawasan utara Suriah.

Setelah Abdullatif meninggal, Duman dikabarkan menikah lagi dengan seorang anggota ISIS yang tewas dua bulan lalu di Al Soussa, sebuah kota dekat Baghouz.

"Suami saya terbunuh. Saya pun langsung mengemasi barang-barang dan bersama anak saya, kami keluar untuk mencari jalan keluar," kata pengantin itu.

Perempuan yang diyakini adalah Duman itu tiba di al-Hawl dari Baghouz tiga pekan lalu, dan mengisahkan perjalanan selama dua hari yang begitu sulit.

Dia mengaku sempat menghubungi keluarganya sebelum meninggalkan Baghouz, dan dia berujar mereka ingin tahu apa yang terjadi dengannya.

"Pada akhirnya, kami semua hanyalah manusia. Kami mempunyai hak asasi manusia. Di sini, situasinya sangatlah sulit," tukasnya.

Baca juga: Kisah Budak Seks ISIS yang Keluar dari Basis Terakhir ISIS


Terkini Lainnya


Close Ads X