Trump Sebut Pegawai yang Terdampak "Shutdown" sebagai "Patriot"

Kompas.com - 22/01/2019, 14:46 WIB
Serikat pekerja menggelar unjuk rasa di depan Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis (10/1/2019), menuntut pemerintah segera mengakhiri shutdown.AFP / NICHOLAS KAMM Serikat pekerja menggelar unjuk rasa di depan Gedung Putih, Washington DC, pada Kamis (10/1/2019), menuntut pemerintah segera mengakhiri shutdown.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pada Selasa ini (22/1/2019), masa layanan penutupan pemerintahan ( shutdown) parsial genap memasuki satu bulan.

Diwartakan Newsweek Senin (21/1/2019), Presiden Donald Trump memberikan pujian bagi pegawai negeri yang terdampak dengan menyebut mereka sebagai patriot.

Dalam kicauannya di Twitter, presiden berusia 72 tahun itu berterima kasih kepada para pegawai dengan menyebut mereka sebagai " Patriot Besar".

Baca juga: Trump Marah Penawarannya untuk Akhiri Shutdown Ditolak Oposisi


"Kini, bersama kita harus bekerja menyudahi krisis kemanusiaan, kriminal, dan narkoba yang ada di negeri ini selama bertahun-tahun. KITA BAKAL MENANG BESAR!" tegas Trump.

Sekitar 800.000 pegawai negeri AS terpaksa dirumahkan atau bekerja tanpa dibayar ketika shutdown mulai terjadi pada 22 Desember 2018.

Trump menuduh kalangan oposisi dari Partai Demokrat sebagai pihak yang memulai shutdown terlama dalam sejarah AS tersebut.

Namun, sebuah jajak pendapat memperlihatkan bahwa kebanyakan rakyat AS menyebut Trump dan Partai Republik bertanggung jawab atas shutdown tersebut.

Shutdown itu disebabkan permintaan dana sebesar 5,7 miliar dollar AS, sekitar Rp 81 triliun, yang diajukan Trump untuk membangun tembok perbatasan di Meksiko.

Hingga genap satu bulan, belum ada tanda-tanda bahwa shutdown bakal berakhir setelah Demokrat kembali menolak tawaran Trump.

Trump menawarkan perlindungan selama tiga tahun kepada migran anak-anak, disebut dengan Dreamers, sebagai ganti pembangunan tembok.

Tawaran itu mendapat respon dari Ketua House of Representatives Nancy Pelosi sebagai tindakan yang tak bisa diterima dan menegaskan Kongres tak bakal mendukung.

Di tengah perseteruan antara Trump dan oposisi, ratusan pegawai negeri AS kini terancam menghadapi bulan kedua tanpa digaji.

Badan Keamanan Transportasi yang merupakan sektor vital di AS menyatakan, banyak staf mereka yang tak bisa absen karena terkendala masalah finansial.

Pada Sabtu pekan lalu (19/1/2019), hanya delapan persen pegawai yang melapor masuk dibandingkan dengan tiga persen pada tahun lalu.

Krisis itu membuat warga AS ada yang berinisiatif membuka penggalangan dana di situs GoFundMe untuk membantu para pegawai terdampak shutdown.

Hingga Senin, tercatat terkumpul donasi sebesar 95.000 dollar AS, sekitar Rp 1,3 miliar, dari 1.200 warga Negeri "Uncle Sam".

Baca juga: Ingin Segera Akhiri Shutdown, Ini Tawaran Trump kepada Kongres



Terkini Lainnya


Close Ads X