Kompas.com - 21/02/2020, 14:36 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com - Agen intelijen AS memperingatkan adanya campur tangan Rusia yang ingin membantu presiden Donald Trump memenangkan pencalonannya dalam Pilpres November mendatang.

Peringatan tersebut diungkapkan oleh pejabat AS seperti dilansir BBC, datang dalam rapat singkat tertutup dengan Komite Intelijen pada 13 Februari silam. 

Presiden Trump tampak marah dan melangsungkan komplain seraya mengatakan bahwa partai Demokrat akan menggunakan informasi tersebut sebagai bahan untuk melawannya.

Dilaporkan dari The New York Times, bahwa Presiden Trump sangat marah saat rapat tertutup kepada Adam Schiff, anggota partai Demokrat yang memimpin proses pemakzulan melawan Trump.

Baca juga: Facebook Akui Bantu Donald Trump Menangi Pilpres AS

Trump kemudian mengganti posisi kepala intelijen Joseph Maguire pada kamis(20/02/2020) kemarin. Sebenarnya, Maguire adalah sosok yang difavoritkan dalam mengisi posisi Direktur Intelijen Nasional.

Namun entah mengapa, Trump pada akhirnya mengubah posisi itu saat rapat singkat. Trump mengatakannya sebagai, "Ketidaksetiaan."

Pada pekan ini, Trump kemudian mengumumkan penggantian Maguire dengan Richard Grenell, seorang duta AS untuk Jerman. Salah satu staf setia kepercayaan Trump.

Dua pejabat administrasi Trump mengabarkan bahwa pergantian itu merupakaan kesengajaan saat rapat singkat.

Partai Demoktrat mengkritik presiden Trump karena mengganti Joseph Maguire dengan Richard Grenell, yang sebelumnya telah mengecilkan tingkat campur tangan Rusia dalam pemilu terakhir dan telah merayakan kebangkitan politisi sayap kanan di Eropa.

Ned Price, mantan ajudan presiden Barack Obama mengatakan bahwa presiden telah "menjatuhkan sandiwara bahwa dia memiliki fungsi untuk intelijen."

"Dia (Trump) baru saja menunjuk duta besar AS yang paling politis dan abrasif untuk sesuatu yang mestinya tidak politis. Tidak diragukan lagi hal itu sangat sulit." Ungkap Price di dalam unggahan tweeter-nya.

Pejabat Intelijen AS juga pernah melaporkan bahwa Rusia telah ikut campur tangan pada pilpres AS tahun 2016 untuk meningkatkan kampanye pemilihan Donald Trump sehingga menyebabkan proses pemilihan presiden AS berlangsung keos.

Baca juga: Iran Sebut Trump Tidak Berani Perang, Takut Kalah Pilpres

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.