Kota di China Ini Larang Sinterklas dan Pernak-pernik Natal

Kompas.com - 20/12/2018, 18:19 WIB
Warga Hong Kong berfoto dengan latar belakang dekorasi Natal di Kowloon.AFP / ISAAC LAWRENCE Warga Hong Kong berfoto dengan latar belakang dekorasi Natal di Kowloon.

LANGFANG, KOMPAS.com - Di tengah semaraknya persiapan menjelang perayaan Natal di seluruh dunia, satu kota di China timur laut ini justru melarangnya.

Pemerintah kota Langfang di Provinsi Hebei, telah mengeluarkan pengumuman yang intinya memerintahkan pencopotan seluruh dekorasi Natal dan melarang toko-toko untuk menjual segala hal yang berhubungan dengan Natal.

Dalam pernyataan yang disampaikan pemerintah kota, pelarangan itu dilakukan demi menjaga stabilitas.

Namun pelarangan oleh Pemerintah kota Langfang tampaknya lebih mempermasalahkan Natal dengan sebagai agama yang diasosiasikannya dan bukan dalam perayaannya.

Meski pernyataan itu tidak secara khusus menyebutkan satu agama tertentu.

Pengumuman dari pemerintah kota menyerukan kepada publik untuk melaporkan pihak mana pun yang telah melakukan tindakan "menyebarkan agama" di ruang publik lewat perayaan Natal.

Baca juga: Perang Dagang, China dan AS Akan Kembali Negosiasi pada Januari 2019

Dalam pernyataannya, pejabat kota Langfang mengatakan, siapa pun yang kedapatan menjual pohon Natal, lingkaran bunga, kaus kaki, atau pernak-pernik Natal lainnya, termasuk figur sinterklas, akan mendapat hukuman.

"Toko-toko dilarang keras mengadakan pertunjukan Natal atau melakukan promosi penjualan Natal," kata pernyataan dari kantor manajemen kota, seperti dikutip SCMP.

Pernyataan yang juga beredar luas melalui media sosial di China itu seolah sejalan dengan tindakan keras pemerintah terhadap aktivitas peribadahan di negara itu.

Sabtu pekan lalu, lebih dari 60 petugas polisi melakukan penggerebekan terhadap kelas Alkitab anak-anak yang digelar di Guangzhou.

Sebelumnya pada bulan September, pihak berwenang juga telah menutup sebuah Gereja Sion dengan 1.500 anggota di Beijing yang dianggap tidak memiliki izin.

Pada 9 Desember, sebuah gereja di Chengdu juga ditutup paksa dan sekitar 100 jemaahnya dilaporkan hilang.

Menurut Patrick Poon, peneliti Amnesti Internasional di China, penggerebekan terhadap gereja oleh otoritas pemerintah mencerminkan sikap pemerintah terhadap kegiatan agama.

Seperti diketahui pemerintahan China dengan partai Komunis yang berkuasa menganut ateisme.

Baca juga: Usai Digerebek Polisi, Puluhan Umat Gereja di China Hilang

Poon menambahkan, tindakan pelarangan perayaan dan pernak-pernik Natal di kota Langfang adlah bentuk upaya pemerintah kota yang ingin mengesankan pemerintah pusat.

"Otoritas di Langfang mungkin ingin menunjukkan kesiapan mereka untuk menyenangkan pemerintah pusat," ujarnya.

Kendati demikian, terlepas dari tindakan keras pemerintah terhadap perayaan Natal, industri di China masih menjadi produsen sekaligus pengekspor pernak-pernik, termasuk pohon Natal buatan terbesar di dunia pada 2017. Demikian diberitakan Xinhua.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X