Pembunuhan Khashoggi, Politisi AS Sebut Gedung Putih Jadi Jubir MBS

Kompas.com - 21/11/2018, 14:32 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat berpidato di forum investasi internasional, Future Investment Initiative (FII) di Riyadh, Rabu (24/10/2018). AFP / BANDAR AL-JALOUD / SAUDI ROYAL PALACEPutra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman saat berpidato di forum investasi internasional, Future Investment Initiative (FII) di Riyadh, Rabu (24/10/2018).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com — Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mendukung Arab Saudi sejak kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi mencuat menuai kecaman di mana-mana.

Kecaman itu datang tidak saja dari Partai Demokrat, tetapi juga dari Republik yang notabene merupakan sekutu Trump. Hal itu antara lain Senator Bob Corker yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Luar Negeri Senat AS, seperti dikutip AFP, Selasa (20/11/2018).

Baca juga: Kasus Pembunuhan Khashoggi, Iran Ejek Pernyataan Trump

"Saya tak menyangka bakal mengalami hari di mana Gedung Putih menjadi juru bicara Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS)," keluh Corker di Twitter.

Selain Corker, dua politisi Republik lain, Jeff Flake dan Rand Paul, juga menulis twit kecaman mereka kepada presiden 72 tahun tersebut.

"Sekutu yang baik tak akan membunuh jurnalis. Sekutu yang baik tak bakal menjebak warganya sendiri dan membunuh mereka," kata Flake.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya yakin pernyataan itu merupakan Saudi Arabia First, bukanlah America First," tutur Paul merujuk kepada jargon kampanye Trump.

Paul menyerukan agar Kongres AS bertindak dengan tidak meluluskan penjualan senjata kepada Riyadh sehingga bisa dipakai menghancurkan warga sipil lainnya.

Senator Demokrat Dianne Feinstein menegaskan bakal menghalangi segala bentuk penjualan senjata kepada Saudi di masa depan.

"Hak asasi manusia lebih dari sekadar kata-kata. Kalimat itu berarti sesuatu bahwa kami harus bertindak dan mencegah pembunuhan dari negara lain," tegas Feinstein via Al Jazeera.

Mantan Direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) John Brennan berujar di Twitter dengan menyebut Trump begitu cakap dalam ketidakjujuran.

Apalagi, suami Melania itu sempat mengucapkan bahwa data dari CIA tidaklah menentukan kebijakannya terkait negara kaya minyak tersebut.

CIA, seperti dilaporkan The Washington Post, meyakini MBS yang memberikan perintah untuk membunuh jurnalis 59 tahun tersebut.

Baca juga: Terungkap, Begini Percakapan Jamal Khashoggi Sebelum Dibunuh

Brennan meminta Kongres untuk meninjau data CIA mengenai pembunuhan Khashoggi. "Tidak ada orang di Saudi, termasuk putra mahkota sekalipun, yang bisa lolos dari hukum," katanya.

Sementara CEO The Post Fred Ryan menuturkan, Trump jelas-jelas menempatkan kepentingan pribadi dalam mempertahankan hubungan dengan Riyadh.

"Trump benar ketika berkata dunia tidak aman. Sikap lunaknya pada kasus pembunuhan Khashoggi bakal semakin memperburuk keadaan," tegas Ryan.

Presiden ke-45 dalam sejarah AS itu memilih untuk mempertahankan relasi karena beberapa alasan. Salah satunya adalah investasi 450 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.568 triliun.

Dari total nominal itu, 110 miliar dollar AS atau Rp 1.604 triliun dihabiskan untuk membeli persenjataan dari Boeing, Lockheed Martin, maupun Raytheon.

"Tentu nominal belanja itu bakal menciptakan ratusan ribu lapangan pekerjaan dan meningkatkan ekonomi Amerika," beber Trump.

"Jika kami gegabah memutus kontrak itu, pihak yang bakal mengambil keuntungan adalah Rusia serta China," papar Trump.

Selain itu, Saudi selama ini telah menjaga harga minyak dunia tetap stabil. Dia berujar harga minyak bakal meroket jika Washington bertindak ceroboh.

Baca juga: Trump: Kasus Pembunuhan Khashoggi Tak Pengaruhi Hubungan AS-Saudi

Khashoggi yang merupakan kolumnis The Post dibunuh pada 2 Oktober di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, saat mengurus dokumen pernikahan dengan tunangannya, Hatice Cengiz.

Ketika kasus itu mencuat, Riyadh bersikukuh jurnalis berusia 59 tahun itu telah meninggalkan gedung sebelum akhirnya mengakui dia tewas dalam pembunuhan berencana.

Dalam pernyataan resmi pekan lalu, Kantor Jaksa Saudi menyatakan, Khashoggi ditangkap oleh tim beranggotakan 15 orang dan dibunuh dengan obat bius dosis tinggi.

Jenazahnya kemudian dimutilasi dan diserahkan kepada seorang agen yang telah menunggu di luar gedung. Saudi menegaskan telah menahan 21 orang yang diduga terlibat.

Lima di antaranya bakal dituntut hukuman mati karena dianggap merencanakan serta melaksanakan pembunuhan terhadap Khashoggi.

Keterangan itu dibantah kolumnis harian Turki Hurriyet, Abdulkadir Selvi, yang telah mendengarkan bukti rekaman pembunuhan.

Dampak dari kasus pembunuhan itu, sejumlah pangeran Dinasti Saudi dilaporkan mulai menginginkan MBS lengser dari jabatan putra mahkota.

Baca juga: AS Susun Rencana untuk Selamatkan MBS dalam Skandal Khashoggi



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Kearifan Pilar Singa Ashoka

Internasional
Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X