Taliban Ancam Bakal Serang Ajang Pemilihan Parlemen di Afghanistan

Kompas.com - 08/10/2018, 21:38 WIB
Pasukan keamanan Afghanistan berjaga-jaga di kota Farah yang baru saja direbut dari kelompok milisi Taliban pada 19 Mei 2018. Pemerintah Afghanistan telah memulai gencatan senjata sepihak dengan Taliban selama sepekan ke depan sejak Selasa (12/6/2018).AFP / HAMEED KHAN Pasukan keamanan Afghanistan berjaga-jaga di kota Farah yang baru saja direbut dari kelompok milisi Taliban pada 19 Mei 2018. Pemerintah Afghanistan telah memulai gencatan senjata sepihak dengan Taliban selama sepekan ke depan sejak Selasa (12/6/2018).

KABUL, KOMPAS.com - Taliban mengancam bakal melancarkan serangan dan menargetkan pasukan keamanan pemerintah saat pemilihan parlemen yang dijadwalkan digelar pada 20 Oktober mendatang.

Juru bicara Taliban Zabihullah Mijahid, dilansir AFP, mengatakan bahwa kelompok militan tidak akan berhenti berupaya menggagalkan jalannya pemungutan suara yang dianggap sebagai persengkokolan dengan Amerika.

Mereka juga mendesak kepada para pemilih untuk memboikot jalannya pemilihan.

Pernyataan Taliban itu datang saat utusan perdamaian AS, Zalmay Khalilzad, tengah menggelar pertemuan dengan para pemimpin Afghanistan untuk mendiskusikan langkah mengakhiri peperangan yang telah berlangsung selama 17 tahun.

Baca juga: Taliban Sergap Bus dan Culik 100 Orang di Afghanistan

Walaupun bersumpah akan melancarkan serangan saat pemilu, Taliban berjanji untuk menghindari jatuhnya korban warga sipil.

"Namun jika ada orang yang berusaha membantu mensukseskan maupun mengamankan jalannya pemilihan maka dia juga akan menjadi target."

"Tidak ada yang boleh ditinggalkan demi mencegah dan menggagalkan pemilihan," ujar Mujahid dalam pernyataan berbahasa Inggris yang telah dirilis pada Senin (8/10/2018).

Kementerian Dalam Negeri Afghanistan membantah pernyataan Taliban dan menyebutnya sebagai bisikan dari pendukung asing mereka.

Kementerian juga menegaskan akan siap menjaga keamanan, terutama bagi para pemilih, saat digelarnya pemilu.

Sementara Kepala Eksekutif Afghanistan, Abdullah Abdullah, yang setara perdana menteri, menyambut baik kedatangan utusan perdamaian AS, Zalmay Khalilzad, dan menyampaikan pidatonya yang disiarkan televisi, Senin (8/10/2018).

"Kami percaya dengan lebih banyak perhatian diberikan dalam proses (perdamaian) maka akan ada peluang bagus untuk tercapai keberhasilan," ujarnya.

Khalilzad, mantan duta besar AS untuk Kabul, Baghdad dan PBB, tengah dalam perjalanan regional selama 10 hari dan akan mengunjungi Pakistan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan Qatar.

Baca juga: Taliban Kuasai Pangkalan Militer di Afghanistan Utara

.

.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Inilah 7 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran

Inilah 7 Fakta Menarik Ketegangan AS dan Iran

Internasional
Korut Peringatkan Seoul Tak Campur Tangan Pembicaraan dengan AS

Korut Peringatkan Seoul Tak Campur Tangan Pembicaraan dengan AS

Internasional
Ayah dan Anak Migran Tewas Tenggelam, Trump Salahkan Demokrat

Ayah dan Anak Migran Tewas Tenggelam, Trump Salahkan Demokrat

Internasional
Pasca ISIS Kalah, Terorisme Jadi Ancaman Utama Asia Tenggara

Pasca ISIS Kalah, Terorisme Jadi Ancaman Utama Asia Tenggara

Internasional
Gunung Ulawun di Papua Nugini Muntahkan Lava, 5.000 Orang Dievakuasi

Gunung Ulawun di Papua Nugini Muntahkan Lava, 5.000 Orang Dievakuasi

Internasional
Antara Trump dan Kim Jong Un Sudah Saling Bertukar 12 Surat

Antara Trump dan Kim Jong Un Sudah Saling Bertukar 12 Surat

Internasional
Hari Ini dalam Sejarah: Perjalanan Keliling Dunia Melalui Lautan Seorang Diri

Hari Ini dalam Sejarah: Perjalanan Keliling Dunia Melalui Lautan Seorang Diri

Internasional
Seorang Mahasiswa asal Australia Dikhawatirkan Ditahan di Korea Utara

Seorang Mahasiswa asal Australia Dikhawatirkan Ditahan di Korea Utara

Internasional
'Candy Bomber', Saat AS Berupaya Menarik Hati Warga Jerman akibat Blokade Uni Soviet

"Candy Bomber", Saat AS Berupaya Menarik Hati Warga Jerman akibat Blokade Uni Soviet

Internasional
Pemerintah Venezuela Klaim Gagalkan Upaya Pembunuhan Presiden Maduro

Pemerintah Venezuela Klaim Gagalkan Upaya Pembunuhan Presiden Maduro

Internasional
Ditanya Rencana Pembicaraan dengan Putin, Trump: Bukan Urusan Anda

Ditanya Rencana Pembicaraan dengan Putin, Trump: Bukan Urusan Anda

Internasional
Pangeran William Mengaku Tak Keberatan Jika Anaknya Menjadi Gay

Pangeran William Mengaku Tak Keberatan Jika Anaknya Menjadi Gay

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Joanna Paldini Diburu ISIS | Anak-anak Dimasukkan Plastik untuk ke Sekolah

[POPULER INTERNASIONAL] Kisah Joanna Paldini Diburu ISIS | Anak-anak Dimasukkan Plastik untuk ke Sekolah

Internasional
Permintaan Terakhir Nenek 93 Tahun Ini: Ditangkap Polisi

Permintaan Terakhir Nenek 93 Tahun Ini: Ditangkap Polisi

Internasional
2020, Negara Bagian Australia Ini Larang Ponsel di Sekolah Negeri

2020, Negara Bagian Australia Ini Larang Ponsel di Sekolah Negeri

Internasional

Close Ads X