Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 03/09/2018, 09:09 WIB

TRIPOLI, KOMPAS.com - Sekitar 400 tahanan dilaporkan melarikan diri dari sebuah penjara di pinggiran ibu kota Libya, Minggu (2/9/2018), menyusul kerusuhan mematikan yang terjadi di Tripoli selama sepekan terakhir.

Pernyataan kepolisian menyebut para tahanan telah membuka pintu tahanan secara paksa dan melarikan diri, di tengah pertempuran antara kelompok milisi yang terjadi di dekat penjara Ain Zara di Tripoli.

"Para penjaga mengetahui hal tersebut namun tidak dapat mencegah para tahanan melarikan diri karena khawatir akan keselamatan nyawa mereka," tulis pernyataan kepolisian, dilansir AFP.

Baca juga: Rusia Diminta Libya dan Yaman Bantu Selesaikan Konflik

Penjara Ain Zara menahan para narapidana yang mendukung mantan diktator Moammar Gadhafi, yang digulingkan dan terbunuh pada 2011, selain juga sejumlah tahanan kejahatan umum lainnya.

Ibu kota Tripoli tengah dilanda kerusuhan setelah kelompok milisi bersenjata yang datang dari wilayah selatan Libya bentrok dengan kelompok milisi pendukung pemerintahan yang diakui internasional (GNA), sejak Senin (27/8/2018).

Kementerian Kesehatan menyebut setidaknya 39 orang telah tewas, termasuk warga sipil, dan sektar 100 orang cedera akibat bentrokan.

Pada Minggu (2/9/2018), serangan roket menghantam kamp penampungan warga telantar di Tripoli, menyebabkan setidaknya dua orang tewas dan lima luka-luka.

Kamp tersebut menjadi rumah bagi ratusan penduduk yang terusir dari kota Taourga setelah dianggap sebagai mendukung Gadhafi.

"Setelah serangan, sebagian besar keluarga pengungsi kini telah meninggalkan kamp karena khawatir akan ada lebih banyak roket yang jatuh ke kamp," kata Khaled Omrane, seorang warga kamp.

Pemerintah Persatuan Nasional (GNA) pada Minggu (2/9/2018) telah menyatakan keadaan darurat untuk ibu kota Libya dan sekitarnya.

Baca juga: Militer Libya Minta Bantuan Inggris untuk Beri Pelatihan Anti-teror

GNA menggambarkan bentrokan yang terjadi di Tripoli sebagai upaya untuk menggagalkan transisi politik damai di negara itu.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan penggunaan kekuatan secara tanpa pandang bulu telah melanggar hukum dan hak asasi manusia internasional.

Pihaknya turut menyerukan kepada semua pihak untuk memberikan bantuan kemanusiaan bagi mereka yang membutuhkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber AFP
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.