Hukuman Penjara Mantan Presiden Korea Selatan Bertambah Jadi 32 Tahun

Kompas.com - 20/07/2018, 14:54 WIB
Mantan presiden Kores Selatan Park Geun-hye, dengan tangan diborgol, dikawal menuju ruang sidang di pengadilan distrik kota Seoul, Selasa (23/5/2017). KIM HONG-JI / POOL / AFP Mantan presiden Kores Selatan Park Geun-hye, dengan tangan diborgol, dikawal menuju ruang sidang di pengadilan distrik kota Seoul, Selasa (23/5/2017).

SEOUL, KOMPAS.com - Hukuman penjara terhadap mantan presiden Korea Selatan Park Geun-hye bertambah 8 tahun. Dengan begitu, perempuan berusia 66 tahun akan menjalani masa tahanan selama 32 tahun.

Perempuan pertama yang menjadi presiden Korea Selatan itu diberhentikan pada tahun lalu, setelah aksi protes yang meluas atas sejumlah skandal.

Pengadilan menjatuhkan vonis terbaru pada Jumat (20/7/2018) kepada Park karena secara ilegal menerima uang dari agen mata-mata negara.

AFP melaporkan, vonis tetap diberikan pada hari ini meski Park menolak hadir di Pengadilan Pusat Distrik Seoul.

Baca juga: Diperkosa dan Dipukuli, Derita Para Atlet Muda Korea Selatan

Sebelumnya, persidangan digelar terpisah terkait aliran dana dari Badan Intelijen Nasional (NIS) dan intervensi dalam pemilihan kandidat parlementer partai berkuasa juga digelar.

Pengadilan Pusat Distrik Seoul memberi Park hukuman enam tahun penjara karena mengambil uang 3,3 miliar won atau sekitar Rp 42,2 miliar (kurs saat ini) dari NIS.

Sementara, hukuman dua tahun penjara dijatuhkan atas tindakan pelanggaran pemilu.

"Terdakwa menerima sekitar 3 miliar won selama tiga tahun dari tiga kepala NIS. Melalui kejahatan ini, terdakwa menyebabkan kerugian besar pada kas negara," kata hakim senior Seong Chang-ho di Pengadilan Distrik Pusat Seoul.

Pengadilan menyatakan, tiga mantan pemimpin NIS mengaku telah menyalurkan dana ke Park atas perintahnya.

Dilansir BBC, Park sudah dijatuhi hukuman penjara selama 24 tahun oleh pengadilan karena korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan pada April lalu.

Pada vonis tersebut, dia juga diperintahkan membayar denda 17 juta dollar AS atau sekitar Rp 246 miliar (kurs saat ini).

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber BBC,AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

China Tuduh AS Berusaha 'Menghancurkan' Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

China Tuduh AS Berusaha "Menghancurkan" Hong Kong lewat UU HAM dan Demokrasi

Internasional
Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Berhubungan Seks dengan Remaja 17 Tahun di Mobil Patroli, Mantan Polisi Ini Ditangkap

Internasional
Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Sandera 3 Nelayan Indonesia, Kelompok Abu Sayyaf Minta Tebusan Rp 8 Miliar

Internasional
Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Jalankan Bisnis Penipuan Online dari Penjara, Napi Ini Raup Rp 14 Miliar

Internasional
Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Pelatih Kebugaran Meksiko Ini Ditemukan Tewas Ditembak dan Ditikam di Rumahnya

Internasional
Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Kim Jong Un Tolak Undangan dari Presiden Korea Selatan

Internasional
Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Didesak Indonesia, DK PBB Keluarkan Status Ilegal Pemukiman Israel di Palestina

Internasional
Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Video Ungkap Momen Polisi Selamatkan Bocah 8 Tahun yang Diculik

Internasional
Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Berkunjung ke Thailand, Paus Fransiskus Temui Pemimpin Tertinggi Agama Buddha

Internasional
Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Akhirnya, DPR AS Sahkan UU Mendukung HAM dan Demokrasi Hong Kong

Internasional
Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Trump Disebut Perintahkan Tekan Ukraina untuk Selidiki Joe Biden

Internasional
Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Takut Harga Minyak Naik, Trump Tak Menentang Putra Mahkota Saudi soal Pembunuhan Khashoggi

Internasional
Israel Gelar 'Serangan Skala Besar' terhadap Iran di Suriah

Israel Gelar "Serangan Skala Besar" terhadap Iran di Suriah

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

[POPULER INTERNASIONAL] Rudal Iran Tak Tertandingi di Timur Tengah | Pria 74 Tahun Ceraikan Istri 21 Tahun

Internasional
Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Gajah Bernama Osama bin Laden Ini Mati Setelah Injak 5 Orang hingga Tewas

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X