Kompas.com - 05/07/2018, 22:28 WIB

3. Memerintah Jawa
Atas jasanya, Raffles diganjar penghargaan dengan menjabat sebagai Letnan Gubernur Jawa, dan berkedudukan di Buitenzorg (Bogor).

Dia menegosiasikan perdamaian dan beberapa ekspedisi militer kepada sejumlah penguasa yang dianggap menentang Kerajaan Inggris.

Salah satu operasi militer signifikan terjadi pada 21 Juni 1812 ketika Raffles memerintahkan serangan ke Yogyakarta.

Baca juga: Menjejaki Daendels di Jalur Pantai Selatan Jawa

Ketika itu, Keraton Yogyakarta merupakan salah satu dari dua kerajaan lokal terkuat yang ada di Pulau Jawa. Serangan Inggris membuat keraton rusak parah.

Raffles juga memerintahkan ekspedisi militer ke Palembang untuk menggulingkan pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin II dan merebut Pulau Bangka.

Dia bermaksud menjadikan Bangka sebagai markas tentara Inggris untuk menahan Belanda pasca-berakhirnya Perang Enam Koalisi untuk menghancurkan Napoleon.

Selama masa pemerintahannya, Raffles melakukan reformasi massal untuk merubah sistem kolonial Pemerintah Hindia Belanda.

Selain meningkatkan kondisi penduduk lokal, dia memperkenalkan sistem pencatatan bangunan-bangunan kuno yang ada di Jawa.

Seperti contoh, detil mengenai Candi Prambanan dituliskan oleh Colin Mackenzie. Adapun Candi Borobudur dicatat HC Cornelius.

Raffles juga memperkenalkan sistem kepemilikan lahan sebagai pengganti sistem tanam paksa yang diciptakan pemerintah Hindia Belanda.

Baca juga: Gereja Jakarta Ini Dulunya Hanya Khusus untuk Petinggi Hindia Belanda

Namun, segala reformasi yang dilakukan dianggap terlalu mahal bagi perusahaan EIC yang juga mencari untung dalam perdagangan.

Tidak mampu beradaptasi dengan iklim maupun kondisi di Jawa membuat Raffles sering didera penyakit. Dia terguncang ketika istrinya meninggal pada 26 November 1814.

Pada 1815, Raffles ditarik dan digantikan oleh John Fendall. Keputusan tersebut dilakukan karena Inggris bersiap menyerahkan kembali Jawa ke Belanda.

Penyerahan itu sesuai dengan Perjanjian Anglo-Dutch yang terjadi pada 1814 setelah terjadinya Perang Napoleon di Eropa.

Selain itu, Raffles juga dituding melakukan pemerintahan yang tidak layak sehingga membuat keuangan Jawa tidak sehat.

Dia kemudian berlayar ke Inggris untuk membersihkan namanya. Di tengah jalan, dia sempat mengunjungi Napoleon yang diasingkan di St Helena.

Pada 1817, Raffles menulis buku The History of Java yang berisi kisah tentang Pulau Jawa pada masa lampau. Dia memutuskan hanya memakai nama Stamford Raffles di buku itu.

Di tahun yang sama, dia diganjar penghargaan Knight Bachelor oleh Pangeran Regent (kemudian dikenal sebagai Raja George IV).

Baca juga: STOVIA dan Kisah Kehidupan Sehari-hari Calon Dokter di Hindia Belanda

Halaman:
Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.