Kompas.com - 08/05/2018, 13:50 WIB

TEL AVIV, KOMPAS.com - Israel kembali memperingatkan akan menghabisi Presiden Bashar al-Assad jika pemimpin rezim itu terus membiarkan sekutunya, Iran, melakukan operasi militer di Suriah.

Komentar bernada ancaman itu dilontarkan Menteri Energi Yuval Steinitz pada Senin (7/5/2018), dilansir media Israel, Ynet.

"Jika Assad terus membiarkan Iran mengubah Suriah menjadi pangkalan militer menentang dan melawan kami di tanah Suriah, maka dia harus tahu bahwa itu akan menjadi akhir baginya," kata Steinitz.

"Dia tidak akan selamanya memimpin Suriah. Sungguh tak dapat diterima, ketika Assad diam di tempatnya, membangun rezim sementara membiarkan Suriah berubah menjadi pangkalan untuk menyerang Israel."

Baca juga : Israel Ancam Bakal Hilangkan Presiden Suriah

"Assad harus tahu bahwa tindakannya itu akan mendapat balasannya," tambah Steinitz dikutip The New Arab.

Meski demikian, diberitakan Reuters.com, Steinitz menegaskan pernyataannya tidak mencerminkan kebijakan pemerintah.

"Saya tidak berbicara tentang proposal yang konkret," kata Steinitz.  

Pekan lalu, sebuah serangan misil ke pusat Suriah telah membunuh 26 anggota pasukan pro-rezim, dengan sebagian besar dari korban adalah warga Iran.

Iran dan Suriah kerap menuduh Israel berada di balik serangan-serangan di Suriah. Namun Tel Aviv tak berkomentar dengan tidak membantah maupun mengakui.

"Kami berada di Suriah atas permintaan pemerintah rezim," kata Ketua Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Iran Alaeddin Boroujerdi.

Tindakan agresi yang dilakukan Zionis terhadap penasihat kami di Suriah menjamin hak kami untuk memberikan tanggapan," tambahnya.

Baca juga : PM Israel Klaim Punya Bukti Iran Sembunyikan Senjata Nuklir

Antara Teheran dan Tel Aviv memang tengah terjadi saling serang kata-kata.

Iran sebagai pendukung setia Assad telah memberikan dukungan militer maupun finansial kepada Suriah.

Iran juga merekrut anggota dari Afghanistan dan Pakistan, untuk bekerja pada pasukan Assad.

Ketegangan dan perang kata-kata antara Israel dengan Iran telah menimbulkan kekhawatiran terjadinya eskalasi jelang keputusan peninjauan kembali Kesepakatan Nuklir Iran 2015.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.