Serangan ke Suriah Menunjukkan Standar Ganda AS dan Sekutunya - Kompas.com

Serangan ke Suriah Menunjukkan Standar Ganda AS dan Sekutunya

Kompas.com - 16/04/2018, 16:33 WIB
Foto dirilis pada Sabtu (14/4/2018) di situs resmi kantor berita Suriah, SANA, menunjukkan serangan udara Sekutu di pinggiran Damaskus, Suriah. Amerika Serikat dan sekutunya, Perancis dan Inggris, melancarkan serangan ke Suriah sebagai respons terhadap dugaan serangan senjata kimia yang dilakukan Suriah di kota Douma pada 7 April lalu.AFP PHOTO/SANA/HANDOUT/STR Foto dirilis pada Sabtu (14/4/2018) di situs resmi kantor berita Suriah, SANA, menunjukkan serangan udara Sekutu di pinggiran Damaskus, Suriah. Amerika Serikat dan sekutunya, Perancis dan Inggris, melancarkan serangan ke Suriah sebagai respons terhadap dugaan serangan senjata kimia yang dilakukan Suriah di kota Douma pada 7 April lalu.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Operasi militer yang digelar ke Suriah menunjukkan kemunafikan negara Barat. Kecaman itu dilontarkan jurnalis sekaligus penyiar, Neil Clark.

Seperti dikutip dari Russian Today Senin (16/4/2018), Clark mengatakan kalau Amerika Serikat ( AS) dan sekutunya telah melakukan standar ganda.

Dia menitikberatkan kepada pernyataan serangan ke Suriah menyusul dugaan bahwa rezim Bashar al-Assad menggunakan senjata kimia.

Namun, di sisi lain, Washington seakan diam melihat sekutunya di Timur Tengah, Arab Saudi, membombardir Yaman sejak 2015.

"Mereka menggelar karpet merah kepada Saudi dan mendukung, baik langsung atau tidak langsung, serangan Saudi ke Yaman yang menimbulkan bencana kemanusiaan," kritik Clark.

Baca juga : Saudi Lumpuhkan Rudal Pemberontak Yaman yang Ditembakkan ke Riyadh

"Sementara di sisi lain, mereka mengklaim banyak anak tewas di Suriah akibat senjata kimia, yang sampai sekarang buktinya saja masih belum diketahui," lanjutnya.

Merujuk Kantor Komisioner HAM PBB, sebanyak 6.000 warga sipil tewas sejak Saudi dan koalisinya melancarkan serbuan ke Yaman pada Maret 2015.

Serbuan tersebut dilaksanakan setelah pemerintahan yang diakui komunitas internasional, Abd Rabbo Mansour Hadi, digulingkan oleh kelompok pemberontak Houthi.

Adapun dalam dokumentasi Amnesti Internasional, Saudi dan koalisinya diketahui melakukan 36 kali serangan udara yang dianggap sebagai kejahatan perang.

Dalam serangan udara tersebut, tercatat 513 warga sipil tewas dalam serangan udara tersebut, dan 157 di antaranya merupakan anak-anak.

"Jadi, ada dokumentasi yang merupakan bukti bahwa terdapat anak-anak tewas akibat serangan maupun kolera. Standar ganda yang terjadi benar-benar luar biasa," kecam Clark.

Clark melanjutkan, jika Negeri "Paman Sam" masih terus menjual senjata kepada Riyadh, maka secara tidak langsung mereka menjadi pendukung konflik tersebut.

Sebelumnya, AS, Perancis, dan Inggris melakukan serangan ke Suriah dengan menyasar tiga target pada Jumat malam (13/4/2018) waktu setempat.

serangan itu merupakan respon AS terhadap dugaan penggunaan senjata kimia yang disebut Presiden Donald Trump sebagai sebuah "kejahatan seorang monster".

Senjata kimia jenis gas beracun klorin itu digunakan rezim Bashar al-Assad kepada kelompok pemberontak di Douma, Ghouta Timur.

Akibat serangan klorin tersebut, pada pekan lalu petugas penyelamat di Ghouta menyebut lebih dari 40 warga sipil tewas, dan 11 lainnya mengeluh mengalami gangguan pernapasan.

Baca juga : Presiden Perancis Diminta Bujuk Putra Mahkota Saudi Soal Krisis Yaman


Terpopuler


Close Ads X