Kompas.com - 28/01/2017, 14:03 WIB
EditorGlori K. Wadrianto

KOMPAS.com - Sudah hampir satu dekade berlalu ketika tahanan terakhir pertama kali menginjakkan kaki di pusat detensi militer Amerika Serikat, di teluk Guantanamo, Kuba.

Kini, kamp untuk menampung para terduga teroris yang didirikan Presiden George W. Bush pada tahun 2002 itu sudah semakin terisolasi.

Populasinya pun terus menurun di masa pemerintahan Presiden Barack Obama. Terakhir, saat Obama meninggalkan Gedung Putih, tinggal tersisa 41 tahanan di sana.

Penutupan penjara Guantanamo merupakan janji kampanye Obama yang gagal terwujud.

Kekuatan oposisi di kongres menahan laju Obama untuk menutup tempat yang disebut telah mencoreng nama AS di mata dunia tersebut.

Baca: Akhirnya, Gedung Putih Akui Obama Gagal Tutup Guantanamo ...

Kini, kepemimpinan AS telah berpindah ke tangan Donald Trump. Lalu, apa kebijakan Trump untuk penjara itu kini?

Setelah bertahun-tahun operasi di penjara militer terkenal itu menyurut, kini potensi untuk kembali menggeliat seperti mucul di depan mata. 

Dalam sejumlah kesempatan Presiden Trump telah memberikan beberapa pandangan spesifik mengenai rencana atas Guantanamo.

Namun, seperti diberitakan AFP, satu sikap utama yang tertuang dalam rancangan perintah eksekutif menyebut Kamp Detensi Militer Guantanamo adalah alat penting dalam memerangi kelompok-kelompok teroris radikal.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.