Kompas.com - 21/08/2014, 13:18 WIB
EditorEgidius Patnistik
LONDON, KOMPAS.COM- Perburuan dimulai untuk mengidentifikasi militan ISIS beraksen Inggris yang memenggal wartawan AS James Foley.

Perdana Menteri Inggris David Cameron, yang mengakhiri liburannya demi menanggapi krisis itu, menggambarkan kematian tersebut sebagai "pembunuhan tanpa alasan" dan mengakui "kemungkinan" seorang militan Inggris bertanggung jawab atas kasus itu.

"Izinkan saya mengecam tindakan barbar dan brutal yang telah terjadi dan biar jelas bahwa tindakan macam itu merupakan pembunuhan, dan pembunuhan tanpa alasan apapun," kata Cameron.

Pada saat yang sama, sebuah perburuan internasional telah dimulai untuk menemukan orang yang bertanggung jawab atas kematian Foley. Kematiannya difilmkan dan disebarkan melalui media sosial sebagai "peringatan" bagi AS untuk menghentikan keterlibatan militernya di Irak.

AS baru-baru ini mulai melakukan aksi pengeboman di Irak utara untuk menghadang laju militan ISIS yang mencatat kemajuan di wilayah yang dikendalikan Kurdi. Kelompok militan itu juga  mengancam akan membantai warga minoritas agama.

ISIS terbentuk dari milisi-milisi oposisi yang melawan rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam perang saudara yang telah berlangsung lama di negara tersebut.

Pada Rabu (20/8/2014) malam waktu Inggris, MI5, Scotland Yard dan FBI bekerja sama untuk mengidentifikasi militan pembunuh Foley itu. Harian The Guardian melaporkan, pria itu diyakini merupakan pemimpin kelompok militan kelahiran Inggris yang sebelumnya menyekap para tawanan ISIS di Suriah.

Militan itu, yang menyebut dirinya "John", diduga berasal dari London dan telah berperan sebagai negosiator dalam pembicaraan antara pemberontak dan Turki terkait nasib 11 sandera pada awal tahun ini. Seorang bekas sanderanya mengatakan kepada The Guardian bahwa pria tersebut merupakan seorang "pemimpin" dari tiga militan Inggris yang dijuluki "The Beatles" oleh para bekas sanderanya karena kewarganegaraan mereka yang sama dengan kelompok band itu.

"Dari apa yang kami lihat, tampak semakin mungkin bahwa orang itu warga Inggris," kata Cameron setelah melihat video yang didistribusikan kelompok itu, yang telah menguasai wilayah luas dari Irak hingga Suriah.

"Hal ini sangat mengejutkan. Namun kami tahu bahwa sudah banyak warga Inggris yang melakukan perjalanan ke Irak dan Suriah untuk ambil bagian dalam ekstremisme dan kekerasan. Dan apa yang harus kita lakukan adalah menggandakan semua upaya kita untuk menghentikan orang-orang itu pergi."

Cameron mengatakan, Inggris akan menyita paspor mereka yang merencakan perjalanan dan "menangkap dan mengadili" militan kelahiran Inggris yang ambil bagian dalam "ekstremisme dan kekerasan".

The Guardian melaporkan, sekitar 500 militan kelahiran Inggris diperkirakan telah meninggalkan negara itu untuk bertempur di pihak ISIS.

Pembunuhan wartawan itu telah memicu kemarahan di seluruh dunia. Presiden AS Barack Obama mengecam ideologi kelompok itu. Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, mengecam "keras pembunuhan mengerikan" terhadap wartawan itu. Ban menyebutnya sebagai "sebuah kejahatan keji". "Para pelaku kejahatan ini dan kejahatan mengerikan lainnya harus diseret ke pengadilan," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.