Bukti Penggunaan Senjata Kimia di Suriah Dikhawatirkan Telah Dirusak

Kompas.com - 26/08/2013, 06:55 WIB
Para korban serangan udara Pemerintah Berkuasa Suriah, Rabu (21/8/2013) dini hari. Tak terlihat darah pada para korban tewas ini. - / SHAAM NEWS NETWORK / AFP - / SHAAM NEWS NETWORK / AFPPara korban serangan udara Pemerintah Berkuasa Suriah, Rabu (21/8/2013) dini hari. Tak terlihat darah pada para korban tewas ini. - / SHAAM NEWS NETWORK / AFP
|
EditorPalupi Annisa Auliani
LONDON, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri Inggris William Hague, Minggu (25/8/2013), mengatakan bahwa bukti serangan kimia oleh rezim Suriah mungkin telah hancur. Meski demikian, respons tegas dari masyarakat internasional harus tetap dilakukan terhadap dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim tersebut kepada rakyatnya sendiri.

"Faktanya adalah bahwa banyak bukti bisa saja dihancurkan oleh pengeboman artileri," kata Hague merujuk serangan lanjutan yang dilaporkan terjadi di wilayah timur Damaskus, menyusul dugaan serangan kimia pada Rabu (21/8/2013).

"Bukti lain bisa terdegradasi selama beberapa hari terakhir dan bukti lainnya bisa saja dirusak," tambah Hague dalam konferensi pers yang diadakan setelah Damaskus memberikan lampu hijau untuk misi pemeriksaan PBB terkait dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar al Assad. Mulai Senin (26/8/2013), para ahli PBB dijadwalkan menyelidiki lokasi serangan.

Hague menyatakan keprihatinan atas banyaknya waktu terbuang untuk tim PBB dapat mengumpulkan bukti konkret yang memadai.
"Kami harus realistis tentang apa yang sekarang tim PBB dapat peroleh," kata dia.

Namun, Hague kembali menyatakan keyakinannya bahwa rezim Assad memang telah menggunakan senjata kimia kepada warganya sendiri. Dia pun mengklaim ada banyak bukti yang mendukung keyakinannya itu, termasuk bahwa rezim Assad-lah yang melakukan serangan tersebut.

Harus ada respons tegas internasional

Dalam kesempatan itu, Hague mengatakan, Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Presiden Amerika Serikat Barack Obama telah berbicara melalui telepon pada Sabtu (24/8/2013), membicarakan situasi terakhir Suriah. "Mereka sepakat harus ada tanggapan serius oleh masyarakat internasional," katanya.

"Kita tidak bisa, di abad ke-21, memungkinkan gagasan bahwa senjata kimia dapat digunakan tanpa hukuman, bahwa orang-orang dibunuh dengan cara ini harus ada konsekuensi untuk itu," imbuh Hague. Dia tidak bersedia menguraikan apa respons yang tepat untuk situasi ini, tetapi memastikan bahwa sangat penting ada tindakan diambil sesuai hukum internasional. Namun, tindakan itu pun mensyaratkan dukungan luas internasional.

Kantor Perdana Menteri Inggris, pada hari yang sama, juga melansir bahwa Cameron telah berbicara dengan Kanselir Jerman Angela Merkel mengenai krisis di Suriah ini. "Perdana Menteri menghubungi Kanselir Merkel untuk membahas bagaimana masyarakat internasional harus merespons serangan senjata kimia Suriah tersebut," ujar pernyataan pers dari Downing Street.

Pernyataan ini berlanjut, "Mereka setuju bahwa ini adalah insiden yang sangat serius dan bahwa hanya ada sedikit keraguan bahwa senjata kimia memang digunakan oleh rezim, terutama mengingat penolakan mereka memberikan akses pada tim PBB segera setelah serangan itu." Berdasarkan pernyataan dari kantor tersebut, kedua pejabat juga sepakat bahwa serangan yang dilakukan Pemerintah Suriah terhadap rakyatnya itu menuntut respons tegas dari masyarakat internasional.

Krisis Suriah yang bergejolak sejak 2011 telah menewaskan lebih dari 100.000 orang berdasarkan data PBB. Dugaan penggunaan senjata kimia oleh rezim Assad, Rabu (21/8/2013), diduga telah menewaskan 13.000 warga negara itu meski laporan resmi hanya menyebutkan ratusan orang menjadi korban dan bukan oleh senjata kimia.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Wabah Virus Corona: Jerman Umumkan Penularan Antar-manusia Pertama

Internasional
Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Quraish Shihab Terima Penghargaan Bintang Tanda Kehormatan dari Mesir

Internasional
'Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas'

"Teman Saya Batuk, Orang-orang Melirik dan Menghindar Mas"

Internasional
Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Pria Jepang yang Tak Pernah ke China Terkena Virus Corona

Internasional
Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Asal Wabah Virus Corona yang Mematikan Terungkap

Internasional
China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

China Akui Kekurangan Alat-alat Medis untuk Perangi Virus Corona

Internasional
Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Arab Saudi Larang Warga Israel untuk Berkunjung

Internasional
Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Korban Meninggal karena Virus Corona di China Melonjak Jadi 106 Orang

Internasional
Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Virus Corona Merebak, 16 Negara di Dunia Umumkan Kasus Positif

Internasional
Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Jerman Umumkan Kasus Pertama Virus Corona di Negaranya

Internasional
[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

[POPULER INTERNASIONAL] Perkembangan Korban Meninggal Virus Corona | 3 Roket Hantam Kedubes AS di Irak

Internasional
Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Berkendara Sambil Mandi, 2 Pria di Vietnam Didenda Rp 1 Juta

Internasional
Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Hubungan Mulai Mesra, Israel Izinkan Warganya Pergi ke Arab Saudi secara Resmi

Internasional
Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Sibuk Merawat Pasien Virus Corona, Tim Medis Pakai Popok Dewasa

Internasional
Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Ibu Ini Dituduh Bunuh Bayinya yang Baru Lahir dengan Dimasukkan ke Mesin Cuci

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X