WASHINGTON DC, KOMPAS.com - AS mengklaim menewaskan 19 milisi pro-Iran dalam serangan udara yang digelar di Iran serta Suriah.
Operasi militer itu dilakukan Washington dua hari setelah seorang kontraktor sipil AS tewas dalam serangan roket.
Dalam keterangannya Minggu (29/12/2019), Pentagon menyatakan mereka menggelar serangan udara di target milik Kata'ib Hezbollah (KH).
Baca juga: Angkatan Laut Iran, China, dan Rusia Gelar Latihan Gabungan
Dilansir AFP Senin (30/12/2019), serangan itu terjadi di Irak Barat dan Suriah Utara, sebagai balasan atas 30 roket yang ditembakkan Jumat (27/12/2019).
Selain adanya korban tewas, empat personel militer baik dari AS maupun Irak juga terluka dalam insiden di pangkalan K1 di Kirkuk.
"Kami tak akan membiarkan Iran melakukan aksi yang akan membuat pria dan perempuan AS dalam bahaya," tegas Menteri Luar Negeri Mike Pompeo.
Menteri Pertahanan Mark Esper menerangkan, serangan udara itu sukses, dan menyiratkan kebijakan serupa bisa dilakukan untuk mencegah Teheran.
Dia mengatakan bersama Pompeo, keduanya terbang ke Florida untuk memberi tahu Presiden Donald Trump perihal operasi tersebut.
Baca juga: Menlu AS: Iran Musuh Bersama dalam Demo di Timur Tengah
Pentagon sebelumnya menyatakan, KH diyakini mempunyai hubungan dengan sayap elite Garda Revolusi Iran, Pasukan Quds.
"Berulang kali mereka menerima bantuan maupun senjata mematikan yang digunakan untuk menyerang tim koalisi," terang Pentagon.
Kelompok paramiliter Hashed al-Shaabi mengungkapkan selain 19 orang milisi tewas, sejumlah orang terluka dalam serangan itu.
Beberapa jam kemudian, empat roket diketahui meledak di pangkalan yang menampung pasukan AS dekat Baghdad, tanpa melukai satu orang pun.
Juru bicara militer bagi Perdana Menteri Irak Adel Abdel Mahdi mengecam operasi itu, dan menyebutnya pelanggaran atas kedaulatan mereka.
Baca juga: Ekspor Suku Cadang Pesawat ke Iran, Warga Indonesia Didakwa Langgar Sanksi AS
Sementara Assaib Ahl al-Haq, faksi pro-Iran yang pemimpinnya baru-baru ini disanksi AS, meminta Washington angkat kaki dari sana.
Dalam pernyataan resminya, al-Haq menuturkan keberadaan militer AS sudah menjadi beban bagi Irak, sekaligus ancaman bagi tentara mereka.
"Karena itu, adalah kewajiban bagi kami untuk mengusir mereka dengan segala legitimasi yang kami punyai," ujar Assaib al-Haq.
Sejak 28 Oktober, tercatat ada 11 serangan yang menyasar bangunan tempat diplomat atau pun militer AS ditempatkan di Irak.
Termasuk lima roket yang menghantam Pangkalan Al-Assad pada 3 Desember, empat hari setelah Wakil Presiden Mike Pence melakukan kunjungan.
Baca juga: Iran Diam-diam Pindahkan Rudalnya ke Irak lewat Demonstrasi
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.