Kompas.com - 01/11/2019, 06:27 WIB

"Jika sampai mereka tidak memilih orang dari Quraish, maka mereka secara implisit mengakui kekhalifahan tak ada lagi," ujar pakar media jihad Mina al-Lami sebelum rekaman itu beredar.

ISIS juga memberikan peringatan kepada Presiden Donald Trump yang mengumumkan kematian Pemimpin ISIS itu melalui pidato di televisi.

Baca juga: Ipar Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi Jadi Informan yang Bongkar Persembunyiannya

"Orang Tua Gila"

Dalam konferensi pers Minggu (27/10/2019), Trump menyatakan Baghdadi meledakkan diri stelah disudutkan oleh Pasukan Delta di terowongan.

"Dia mati sebagai pengecut. Dia mati lakana anjing," klaim Trump yang menambahkan, Baghdadi "ketakutan, menjerit, dan menangis".

Dalam rekaman suara, Hashimi menyebut Trump sebagai örang tua gila", dan mengancam bakal membalas dendam atas kematian Baghdadi.

"Jangan senang dulu Amerika. Pemimpin terpilih kami akan membuat segala pencapaian yang dibuat oleh Baghdadi terasa manis," katanya.

Si juru bicara juga mengungkapkan seruan sebelumnya dari Baghdadi supaya anggota ISIS yang ditahan di Suriah dan Irak supaya dibebaskan.

Baca juga: Sebelum Tewas, Pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi Berusaha Selundupkan Keluarganya

Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dipimpin Kurdi yang menjadi sekutu AS menawan setidaknya 12.000 terduga anggota ISIS di timur laut Suriah.

Kebanyakan dari para tahanan adalah warga negara Suriah dan Irak. Namun terdapat juga 2.000 anggota asing yang berasal dari 50 negara.

Dengan bantuan logistik maupun serangan udara dari koalisi internasional pimpinan AS, Suriah dan Irak bisa mendapatkan kembali wilayah mereka.

Upaya menumpas "kekhalifahan teritorial" ISIS sejak 2014, mengakhiri eksperiman kelompok tersebut akan memproduksi mata uang hingga buku sendiri.

SDF mengumumkan bahwa kekuasaan wilayah ISIS sudah musnah setelah merebut desa Baghouz yang merupakan benteng terakhir mereka pada Maret lalu.

Baca juga: Trump Klaim Calon Pengganti Abu Bakar al-Baghdadi sebagai Pemimpin ISIS Juga Sudah Tewas

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Sumber BBC,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.