Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jepang Dinilai Joe Biden Xenofobia, Benarkah?

Kompas.com - 08/05/2024, 09:44 WIB
Paramita Amaranggana,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

Sumber CNN,DW

HUBUNGAN Amerika Serikat (AS) dengan Jepang menegang setelah Presiden AS, Joe Biden, menyinggung kebijakan Jepang dalam bidang imigrasi dan menyebut negara itu punya tendensi xenofobia (perasaan benci, takut, dan waswas terhadap orang asing).

Biden mengemukakan hal itu dalam sebuah pidato di acara penggalangan dana di Washington DC pada 1 Mei 2024. Pernyataan itu keluar beberapa minggu setelah Biden sempat memuji aliansi AS-Jepang dalam jamuan makan malam kenegaraan.

Dalam pidato terbaru itu, Biden juga menyebut China, Rusia, dan India punya sikap xenofobia.

“Tahukah Anda, salah satu alasan mengapa perekonomian kita tumbuh adalah karena Anda dan banyak orang lain. Mengapa? Karena kami menyambut imigran,” kata Biden.

Baca juga: Apa Itu Xenophobia dan Bagaimana Mengatasinya?

“Lihat, pikirkanlah... mengapa perekonomian China sangat terpuruk? Mengapa Jepang mengalami kesulitan? Mengapa Rusia? Mengapa India? Karena mereka xenofobia. Mereka tidak menginginkan imigran,” tambah Biden menurut transkrip resmi dari Gedung Putih.

Pemerintah Jepang merespon pernyataan Biden dengan rasa kecewa. Melalui saluran diplomatik, pemerintah Jepang memberi tahu Gedung Putih bahwa pernyataan Biden tidak didasarkan pada pemahaman yang akurat terhadap kebijakan Jepang. Banyak warga Jepang dan orang asing di Jepang juga tidak setuju dengan pernyataan Biden itu.

Bukan hanya tidak akurat, tuduhan Biden dikritik karena telah menyamakan Jepang dengan China dan Rusia, dua negara dengan kejahatan hak asasi manusia serta hubungan diplomatik yang buruk dengan Jepang.

Melihat sensitivitas dari pernyataan Biden, para pejabat Gedung Putih kemudian berupaya menetralisir situasi dengan mengatakan kepada wartawan bahwa Biden sebenarnya bermaksud menyoroti tradisi AS dalam menyambut imigran.

“Sekutu dan mitra kami tahu betul betapa Presiden ini menghormati mereka,” kata Karine Jean-Pierre, juru bicara Gedung Putih. Ia menjelaskan bahwa hubungan AS-Jepang adalah hubungan “penting” dan “abadi” yang akan terus berlanjut.

Sebenarnya itu bukan kali pertama Biden menyebut Jepang xenofobia. Pada Maret lalu, Biden juga mengatakan dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio berbahasa Spanyol bahwa Jepang, Rusia, dan China adalah negara yang xenofobia.

Benarkah Jepang mengalami xenofobia seperti yang dikatakan Biden?

Xenofobia Pernah Terjadi di Jepang

Menurut ensiklopedia Britannica, xenofobia merupakan ketakutan dan penghinaan terhadap orang asing atau apapun yang dianggap asing, serta keyakinan bahwa individu dan budaya asing tertentu adalah ancaman terhadap identitas asli bangsanya sendiri.

Salah satu bentuk nyata xenofobia dalam sejarah adalah pemusnahan sistematis terhadap orang-orang Yahudi di era Nazi.

Dalam arti itu, Jepang memang memiliki sejarah xenofobia. Tahun 1630-an sampai dengan 1853, Jepang memiliki kebijakan sakoku atau negara tertutup. Pada era tersebut, para penguasa Jepang percaya bahwa penyebaran agama Kristen merupakan hal buruk dan dapat mengancam kekuasaan mereka.

Karena gagal memberantas agama Kristen sepenuhnya, maka petinggi Jepang mengeluarkan kebijakan guna melarang sebagian besar orang asing untuk bepergian ke Jepang. Begitu pula warga Jepang juga dilarang untuk meninggalkan negara itu, lalu kembali ke Jepang.

Baca juga: Tembus Rekor, 63,2 Persen Warga Jepang Merasa Tak Punya Prospek Stabilitas Ekonomi

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Internasional
Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Internasional
Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Internasional
Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Internasional
Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Internasional
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Internasional
Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Internasional
Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Internasional
Siapa 'Si Lalat' Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Siapa "Si Lalat" Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Internasional
Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Internasional
Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Internasional
Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com