Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengenal Peristiwa Nakba, Hilangnya Tanah Air Palestina

Kompas.com - 15/05/2024, 15:22 WIB
Paramita Amaranggana,
Egidius Patnistik

Tim Redaksi

Sumber DW

SAAT ini, sebagian besar dari 6,2 juta warga Palestina di wilayah Timur Tengah tidak memiliki status kewarganegaraan. Mayoritas dari mereka bahkan merupakan generasi ketiga atau keempat dalam keluarganya yang tak memiliki status kewarganegaraan.

Tak hanya status kewarganegaraan, kebanyakan dari mereka juga tak punya tempat tinggal layak huni sehingga mereka pun terpaksa menempati kamp-kamp pengungsian. Kian tahun, kamp-kamp pengungsian ini semakin padat dan lambat laun berkembang menjadi kota pengungsi.

Baca juga: PBB Kali Pertama Peringati Nakba, Presiden Palestina Desak Penangguhan Keanggotaan Israel

Pemandangan seperti itu sudah jadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari semenjak peristiwa Nakba 76 tahun yang lalu. Dengan konflik Israel-Hamas yang kian memanas sejak Oktober tahun lalu, kini kondisi mereka pun semakin terpuruk. Tanpa status dan tempat tinggal yang aman, mereka harus terus bertahan hidup setiap harinya dalam ancaman.

Peristiwa Nakba, Hilangnya Tanah Air Palestina

Sampai dengan akhir Perang Dunia I, Palestina berada di bawah pemerintahan Turki sebagai bagian dari Kekaisaran Ottoman. Perang berakhir, Palestina pun jatuh ke bawah kontrol Inggris.

Di saat bersamaan, anti semitisme terus menyebar di Eropa sehingga mendorong semakin banyak orang Yahudi berpindah ke Palestina. Bagi mereka, tanah Palestina merupakan tanah air leluhur mereka: Eretz Israel, Tanah Perjanjian tempat orang Yahudi selalu menetap.

Berangkat dari peristiwa Holocaust di era Nazi Jerman, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pun mengadopsi Rencana Pembagian Palestina PBB. Badan Yahudi untuk Palestina menerima resolusi ini dengan baik. Pada tanggal 14 Mei 1948, mereka pun mendeklarasikan berdirinya Negara Israel.

Berdirinya Israel memancing amarah negara-negara Liga Arab yang sedari awal tak sepakat dengan resolusi PBB tersebut. Sebagai hasilnya, perang pun pecah antara lima negara Arab dengan Israel pada tanggal 15 Mei 1948. Di tahun 1949, negara-negara Arab tersebut mengalami kekalahan dan menandai akhir dari Perang Arab-Israel.

Pada tahun 1998, pemimpin Palestina saat itu, Yasser Arafat, secara resmi menjadikan tanggal 15 Mei sebagai Hari Nakba (dalam bahasa Arab berarti bencana), hari untuk memperingati hilangnya tanah air Palestina.

Warga Palestina Pasca Nakba

Sebelum perang Arab-Israel dimulai, orang-orang Palestina sebenarnya sudah banyak yang melarikan diri. Kala itu, sekitar 200.000 sampai dengan 300.000 orang Palestina diperkirakan telah meninggalkan rumahnya sebelum ataupun di tengah-tengah perang, dan kira-kira 300.000 hingga 400.000 orang Palestina lainnya dilaporkan mengungsi. Saat perang Arab-Israel berakhir, diperkirakan terdapat total 700.000 orang Palestina yang telah meninggalkan rumah mereka.

Di sisi lain, Israel telah menguasai sekitar 40 persen wilayah yang ditandai sebagai wilayah Palestina oleh rencana pembagian PBB sampai dengan akhir perang tersebut.

Baca juga: Presiden Palestina Peringatkan Potensi Nakba Kedua di Gaza

Akibatnya, orang-orang Palestina pun berakhir sebagai pengungsi tanpa status kewarganegaraan, kondisi hidup yang harus mereka lalui sampai dengan detik ini. Hanya sedikit dari mereka yang memiliki kesempatan untuk melarikan diri ke negara lain dan menerima status kewarganegaraan baru. Mayoritas yang kurang beruntung harus terjebak di kamp-kamp pengungsian yang tersebar di Gaza, Tepi Barat, Lebanon, Suriah, Yordania, dan Yerusalem Timur.

Belum Ada Jalan Keluar bagi Orang-orang Palestina

Walau Hari Nakba baru diresmikan tahun 1998, orang-orang Palestina sebenarnya telah secara tidak resmi menggunakan tanggal 15 Mei, sejak tahun 1949, untuk melancarkan protes, menuntut hak-hak mereka untuk kembali ke tempat tinggal mereka. Banyak dari mereka mengibarkan bendera Palestina sembari mengantongi kunci rumah mereka dahulu sebagai gambaran akan harapan mereka untuk dapat kembali lagi ke rumah mereka seperti sediakala.

Hak-hak untuk kembali yang mereka tuntut itu sebenarnya sudah diatur melalui Resolusi Majelis Umum PBB 194 tahun 1948, Revolusi PBB 3236 tahun 1974, dan Konvensi Status Pengungsi tahun 1951. Berdasarkan resolusi dan konvensi tersebut, dijelaskan bahwa warga Palestina yang dianggap sebagai pengungsi Palestina memiliki “hak untuk kembali”.

Walau begitu, Israel menolak “hak untuk kembali” bagi warga Palestina tersebut. Menurut mereka, hal tersebut dapat berarti berakhirnya identitas Israel sebagai negara Yahudi. Bersamaan dengan itu, Israel juga membantah bertanggung jawab atas perpindahan orang-orang Palestina sambil menekankan pada pengusiran 800.000 orang Yahudi antara tahun 1948 sampai dengan 1972 dari negara-negara Arab seperti Maroko, Irak, Mesir, Tunisia, dan Yaman.

Karena hak untuk kembali tidak diterima dengan baik, maka perdebatan terkait solusi untuk orang-orang Palestina pun masih harus terus berlanjut. Sampai dengan saat ini, salah satu solusi yang paling sering dibahas adalah solusi dua negara. Singkatnya, solusi ini menekankan pada berdirinya Israel dan Palestina dengan membagi Yerusalem menjadi dua ibu kota. Namun, ada keraguan baik di pihak Israel maupun Palestina terkait seberapa realistis solusi ini.

Solusi lain yang sering direkomendasikan yaitu pengakuan status pengungsi warga Palestina oleh Israel disertai oleh kompensasi.

Sayangnya, diskusi terkait solusi tampaknya masih harus melalui proses yang sangat panjang mengingat serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 yang berujung perang yang berlangsung hingga saat ini.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Internasional
Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Internasional
Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Internasional
Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Internasional
Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Internasional
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Internasional
Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Internasional
Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Internasional
Siapa 'Si Lalat' Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Siapa "Si Lalat" Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Internasional
Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Internasional
Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Internasional
Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com