Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jutaan Migran Tak Bisa Memilih dalam Pemilu Terbesar di Dunia

Kompas.com - 14/05/2024, 12:00 WIB
Egidius Patnistik

Penulis

Sumber DW,CNN

HAMPIR satu miliar penduduk India berhak untuk memilih pada pemilihan umum di negara itu, yang berlangsung dari 19 April hingga 1 Juni 2024. Rinciannya, sebanyak 497 juta adalah pemilih pria dan 471 juta pemilih perempuan. Mungkin karena jumlah pemilih yang besar itu maka pemilu India dijuluki sebagai yang pemilu terbesar di dunia.

Pemilihan itu bertujuan untuk memilih presiden dan anggota-anggota parlemen India.

Untuk pemilu kali ini, komisi pemilihan umum India (ECI) menyiapkan lebih dari 1,25 juta tempat pemungutan suara (TPS) dan 5,5 juta mesin pemungutan suara elektronik (EVM).

Baca juga: Pemilu India: Pencoblosan Fase Kedua Digelar Hari Ini di Tengah Ancaman Gelombang Panas

Migran Kesulitan Ikut Pemilu

Secara umum, India selalu mencatatkan tingkat partisipasi tinggi. Menurut data ECI, pada pemilu tahun 2019 sebanyak 67 persen pemilih menggunakan hak suaranya.

Dalam pemilu kali ini, ada jutaan orang yang tidak bisa memilih walau punya hak pilih. Salah satunya adalah Chanu Gupta. Gupta sudah tinggal di Mumbai, kota pusat keuangan India, hampir sepanjang hidupnya, sejak ia tiba sebagai seorang anak kecil dari negara bagian Uttar Pradesh yang terletak bagian utara India

Ketika pemungutan suara dimulai di Mumbai, pedagang kaki lima berusia 59 tahun tersebut tidak dapat memilih dalam pemilu nasional.

“Saya tidak bisa ikut krena saya bukan warga Negara Bagian Maharashtra (lokasi Mumbai berada),” kata Gupta kepada CNN di distrik perbelanjaan Dadar di Mumbai. Dia berdiri di pinggir jalan di samping gerobaknya, tempat dia menjual es serut dan minuman dingin. “Saya memiliki hak suara di negara bagian lain.”

Persoalan yang dihadapi Gupta juga dialami jutaan pekerja migran lain di India yang merupakan tulang punggung utama perekonomian negara itu.

Berdasarkan peraturan pemilu India, pemilih yang memenuhi syarat hanya dapat memberikan suara di daerah pemilihannya. Itu berarti mereka yang bekerja di luar negara bagian yang bukan daerah pemilihannya harus pulang ke negara bagiannya untuk memilih.

Hal itu hampir mustahil bagi banyak pekerja migran, terutama pekerja harian yang kurang mampu di sektor yang tidak terorganisir. Mereka merupakan kelompok yang sangat besar,  sebuah studi memperkirakan ada sekitar 600 juta migran internal di India tahun 2020, yang merupakan 43 persen dari hampir 1,4 miliar populasi negara itu pada saat itu.

Para pekerja itu umumnya berasal dari daerah pedesaan miskin di India, dan mencari pekerjaan di kota-kota besar. Mereka mendapat upah rendah dan biasanya sebagian upah itu dikirim untuk menghidupi anggota keluarganya di kampung halaman.

Mungkin tidak ada tempat yang lebih mencolok daripada Mumbai, kota terkaya di India dan tempat kelahiran industri film Bollywood. Sering disebut sebagai 'kota impian,' Mumbai menarik migran dari seluruh penjuru negara yang berharap untuk menemukan kekayaan dan kesuksesan.

Lebih dari 43 persen penduduk Mumbai digolongkan sebagai migran pada tahun 2011 dalam sensus nasional terakhir. Banyak dari mereka berasal dari negara bagian dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang lebih tinggi seperti Uttar Pradesh, Bihar, Rajasthan, dan Gujarat.

Tanda-tanda adanya keragaman tersebut terlihat di mana-mana di Mumbai – beragamnya bahasa yang digunakan, banyaknya pekerja harian di seluruh kota, mulai dari pengemudi becak hingga pekerja konstruksi dan penjual jus tebu yang berjejer di jalanan.

Baca juga: Tak Ada yang Bicara Perubahan Iklim di Pemilu India, Apa Sebabnya?

Bagi para pekerja ini, meninggalkan upah harian untuk pulang ke rumah demi memilih dalam pemilu akan menimbulkan kerugian besar – baik berupa uang yang harus mereka keluarkan buat biaya perjalanan, maupun hilangnya gaji. Kerugian tersebut mempunyai dampak yang besar terhadap anggota keluarga di negara asal mereka yang bergantung pada pendapatan mereka – mulai dari anak-anak yang kehilangan biaya sekolah hingga biaya sewa dan makanan bagi orang tua yang lanjut usia.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Mampukah Taiwan Pertahankan Diri jika China Menyerang?

Internasional
Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Kematian Presiden Raisi Membuat Warga Iran Terbagi Jadi Dua Kubu

Internasional
Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Amelia Earhart, Perempuan Pertama yang Melintasi Atlantik

Internasional
Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Sosok Jacob Zuma, Mantan Presiden Afrika Selatan yang Didiskualifikasi dari Pemilu Parlemen

Internasional
Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Iran Setelah Presiden Ebrahim Raisi Tewas, Apa yang Akan Berubah?

Internasional
Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Apa Itu Mahkamah Pidana Internasional (ICC) dan Mengapa ICC Mempertimbangkan Surat Perintah Penangkapan bagi Pemimpin Israel dan Hamas?

Internasional
Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Tsai Ing-wen, Mantan Presiden Taiwan yang Dicintai Rakyat

Internasional
Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Apa Tujuan Asli Putin Menginvasi Ukraina?

Internasional
Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Siapa Ebrahim Raisi, Presiden Iran yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter?

Internasional
Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Hubungan Israel-Mesir Memburuk Setelah Israel Duduki Perbatasan Rafah

Internasional
Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Minim Perlindungan, Tahanan di AS yang Jadi Buruh Rawan Kecelakaan Kerja

Internasional
Siapa 'Si Lalat' Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Siapa "Si Lalat" Mohamed Amra, Napi yang Kabur dalam Penyergapan Mobil Penjara di Prancis?

Internasional
Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Pemungutan Suara di Paris Bikin Pulau Milik Perancis di Pasifik Mencekam, Mengapa?

Internasional
Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Perjalanan Hubungan Rusia-China dari Era Soviet sampai Saat Ini

Internasional
Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Pertemanan Rusia-China Makin Erat di Tengah Tekanan Barat

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com