Wilayah Udara Libya Jadi Medan Perang Drone Tempur Terbesar di Dunia

Kompas.com - 29/09/2019, 22:01 WIB
Drone buatan China, Wing Loong, yang digunakan pasukan Tentara Nasional Libya (LNA). AFP / KARIM SAHIBDrone buatan China, Wing Loong, yang digunakan pasukan Tentara Nasional Libya (LNA).

TRIPOLI, KOMPAS.com - Pertempuran memperebutkan ibu kota Libya yang telah terjadi selama lima bulan terakhir, kini disebut telah diwarnai perang drone alias pesawat tanpa awak buatan Turki dan Uni Emirat Arab.

Pertempuran di sekitar Tripoli terjadi sejak 4 April lalu saat pasukan yang setia pada Jenderal Khalifa Haftar, Tentara Nasional Libya ( LNA) memulai operasi militer dengan tujuan merebut ibu kota itu.

Namun upaya mereka mendapat perlawanan yang sengit dari pasukan Pemerintah Kesepakatan Nasional (GNA). Dikatakan bahwa garis depan pertempuran tidak bergerak sejak beberapa waktu terakhir.

Menghadapi kebuntuan, kedua belah pihak telah beralih pada pertempuran persenjataan canggih, dengan harapan dapat meraih keuntungan dalam perang yang telah menewaskan hingga lebih dari 1.000 orang dan melukai hampir 6.000 lainnya, menurut PBB, itu.

Baca juga: Bandara Libya Diserang Roket, 4 Warga Sipil Terluka

"Libya mungkin telah menjadi medan pertempuran drone terbesar di dunia," kata Utusan PBB untuk Libya, Ghassan Salame, dalam sebuah video yang dirilis oleh PBB, Rabu (25/9/2019) lalu.

Drone buatan Turki, Bayraktar, yang digunakan pasukan pemerintah Libya, GNA.SHUTTERSTOCK Drone buatan Turki, Bayraktar, yang digunakan pasukan pemerintah Libya, GNA.
Disampaikan Salame, penggunaan perangkat pesawat tanpa awak telah menjadi jauh lebih intens dalam beberapa pekan terakhir.

Dia mencatat drone telah dikerahkan hingga 600 kali di satu pihak dan 300 kali pada pihak lainnya. Namun Salame tidak mengklarifikasi pihak mana yang lebih banyak meluncurkan drone.

Disebutkan bahwa perangkat drone mulai memasuki arena pertempuran di Libya pada bulan Juni, kendati sesungguhnya telah diberlakukan embargo persenjataan oleh PBB terhadap Libya sejak pemberontakan 2011 yang menggulingkan rezim Muamar Gadhafi.

Baca juga: Milisi Libya Klaim Tangkap Sejumlah Pemimpin Ekstremis Terkait Al Qaeda

Alasan lain dari meningkatnya penggunaan perangkat pesawat nirawak tersebut diyakini tidak lepas dari keterbatasan armada udara di kedua pasukan yang bertikai.

"Mengingat penggunaan yang intensif dari aset pesawat tempur di bulan pertama serangan... sebagian besar pesawat tempur milik kedua pasukan kini ditangguhkan karena kurangnya perawatan," kata analis pertahanan Arnaud Delalande, dikutip AFP.

"Tidak ingin dibiarkan tanpa kekuatan udara, baik pasukan Haftar (LNA) maupun GNA tampaknya telah beralih ke jenis pesawat lain, yakni drone," tambahnya.

Para pakar mengatakan, pasukan Haftar diyakini telah mendapatkan perangkat drone buatan China, Wing Loong, dari pendukung utamanya, Uni Emirat Arab.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber AFP
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ancaman Ekstremis Sayap Kanan Meningkat, Jerman Perkuat Keamanan

Ancaman Ekstremis Sayap Kanan Meningkat, Jerman Perkuat Keamanan

Internasional
Kasus Virus Corona Per 23 Februari 2020, 2.400 Orang Meninggal, 76.000 Terinfeksi

Kasus Virus Corona Per 23 Februari 2020, 2.400 Orang Meninggal, 76.000 Terinfeksi

Internasional
Dalam 24 Jam, Italia Umumkan 2 Korban Meninggal dan 79 Kasus Infeksi Virus Corona

Dalam 24 Jam, Italia Umumkan 2 Korban Meninggal dan 79 Kasus Infeksi Virus Corona

Internasional
Mahathir Bakal Putuskan Sendiri Kapan Dia Akan Mundur

Mahathir Bakal Putuskan Sendiri Kapan Dia Akan Mundur

Internasional
Anak Monyet Ini Berusaha Bangunkan Sang Induk yang Mati Tersetrum

Anak Monyet Ini Berusaha Bangunkan Sang Induk yang Mati Tersetrum

Internasional
Pernyataan Muhadjir Effendy Ini Jadi Sorotan Media Internasional Karena Dianggap Menghebohkan

Pernyataan Muhadjir Effendy Ini Jadi Sorotan Media Internasional Karena Dianggap Menghebohkan

Internasional
Menikah Massal di Tengah Virus Corona, Pasangan Ini Berciuman Pakai Masker

Menikah Massal di Tengah Virus Corona, Pasangan Ini Berciuman Pakai Masker

Internasional
Virus Corona, Siapa Penyebar Pertama dan Mengapa Dia Penting untuk Ditemukan

Virus Corona, Siapa Penyebar Pertama dan Mengapa Dia Penting untuk Ditemukan

Internasional
Takut Tertular Virus Corona, Demonstran di Ukraina Lempari Bus yang Bawa Warga dari China

Takut Tertular Virus Corona, Demonstran di Ukraina Lempari Bus yang Bawa Warga dari China

Internasional
Rusia Jalin Koordinasi dengan China Tangani Kasus Virus Corona

Rusia Jalin Koordinasi dengan China Tangani Kasus Virus Corona

Internasional
Kisah Korban Selamat Virus Corona (2): Ingin Berterima Kasih Dapat Hidup Kedua

Kisah Korban Selamat Virus Corona (2): Ingin Berterima Kasih Dapat Hidup Kedua

Internasional
Kasus Infeksi Baru Virus Corona di China Menurun di Saat Kasus Internasional Meningkat

Kasus Infeksi Baru Virus Corona di China Menurun di Saat Kasus Internasional Meningkat

Internasional
Muncul 142 Kasus Baru, Korban Infeksi Virus Corona Korea Selatan Capai 346 Orang

Muncul 142 Kasus Baru, Korban Infeksi Virus Corona Korea Selatan Capai 346 Orang

Internasional
Rafaat Maglad, Korban Penusukan di Masjid Center London Mengaku Telah Memaafkan Penusuknya

Rafaat Maglad, Korban Penusukan di Masjid Center London Mengaku Telah Memaafkan Penusuknya

Internasional
Kisah Korban Selamat Virus Corona (1): Badan Saya Mulai Hangat, Saya Panik

Kisah Korban Selamat Virus Corona (1): Badan Saya Mulai Hangat, Saya Panik

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X