Ketua DPR AS: Trump Tak Memberi Kami Pilihan

Kompas.com - 27/09/2019, 21:46 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Ketua DPR AS Nancy Pelosi. Getty Images via BBCPresiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) dan Ketua DPR AS Nancy Pelosi.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Ketua Nancy Pelosi angkat bicara bahwa mereka tak punya pilihan selain menggelar penyelidikan pemakzulan Presiden Donald Trump.

Pada awal pekan ini, Pelosi mengumumkan investigasi setelah muncul laporan dari seorang pejabat inteljen mengenai percakapan telepon Trump.

Baca juga: Trump Sebut Whistleblower Tak Berbeda dengan Mata-mata atau Pengkhianat

Laporan itu merujuk kepada perbincangan Trump dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, pada 25 Juli yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan.

Dalam keluhan si pelapor, Trump dianggap berusaha meminta bantuan asing demi kepentingan Pemilihan Presiden 2020 mendatang.

Dalam wawancara dengan MSNBC, Pelosi mengatakan bahwa setiap anggota DPR AS dari Partai Demokrat mempunyai pandangan berbeda.

"Namun ketika berhubungan dengan masalah keamanan nasional yang mendesak, itu... Dia tidak memberi kami pilihan," jelas Pelosi.

Dalam surat keluhan yang dirilis seperti diwartakan AFP Jumat (27/9/2019), si pelapor menuturkan dia sudah berbicara dengan enam pejabat AS lainnya.

Trump kemudian mengakui dia memang meminta Ukraina untuk menyelidiki anak Joe Biden, salah satu calon pesaingnya di Pilpres 2020.

Untuk mengoordinasikan penyelidikan, Trump meminta Zelensky menghubungi pengacaranya, Rudy Giuliani, dan Jaksa Agung William Barr.

"Dia (Barr) benar-benar nekat. Saya pikir ini adalah bentuk upaya menutupi yang sudah ditutupi," ucap Ketua DPR AS 79 tahun itu.

Dalam sanggahannya begitu penyelidikan pemakzulan itu keluar, Trump bersikeras bahwa dia tidak memberikan tekanan kepada Kiev.

Namun kritik yang berembus menyatakan, Trump menahan bantuan militer senilai 400 juta dollar AS, atau Rp 5,6 triliun, sehari sebelum percakapan telepon.

Hingga Jumat ini dilansir Politico, sebanyak 223 Demokrat dari total kursi 435 di DPR AS mendukung upaya memakzulkan Trump.

Baca juga: Sosok Pelapor Percakapan Telepon Trump dan Presiden Ukraina adalah Pejabat CIA?



Sumber AFP
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Refleksi 12 Tahun Serangan Penembakan Brutal Mumbai

Internasional
Amerika Meniru Indonesia?

Amerika Meniru Indonesia?

Internasional
Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Ulang Tahun Selebgram Ini Berujung Petaka, 3 Orang Tewas Termasuk Suaminya

Internasional
Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Takut Terkena Virus Corona, Seorang Pria Kurung Istrinya di Kamar Mandi

Internasional
Korea Utara Umumkan Uji Coba 'Artileri Laras Jauh'

Korea Utara Umumkan Uji Coba "Artileri Laras Jauh"

Internasional
Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Erupsi Gunung Merapi Jadi Perhatian Media Internasional

Internasional
Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Anggotanya Tularkan Virus Corona, Pemimpin Sekte Sesat di Korsel Ini Berlutut Minta Maaf

Internasional
Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Mahathir Salahkan Anwar Ibrahim atas Krisis Politik Malaysia: Dia Terobsesi Jadi PM

Internasional
Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Kerusuhan India: Upaya Menentang UU Kewarganegaraan Kontroversial yang Tewaskan 42 Orang

Internasional
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Bayi Cemberut Saat Dilahirkan | Mahathir Kecewa Dikhianati Muhyiddin

Internasional
Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Perubahan Wajah Afghanistan Selama 18 Tahun Diinvasi AS

Internasional
Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Momen Manis, Mahathir Mohamad Dapat Pelukan dari Sang Istri

Internasional
Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Mengeluh soal Kehidupan, Pria Ini Meninggal Saat Siaran Langsung TV

Internasional
Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Virus Corona: Malaysia Tambah Empat Kasus, Armenia Umumkan Kasus Pertama

Internasional
Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Muncul Lagi di Hadapan Publik, Paus Fransiskus Mengaku Terserang Demam

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X