China: AS Sudah Memilih Lawan yang Salah

Kompas.com - 14/06/2019, 20:59 WIB
Presiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, berbicara dalam forum ekonomi. Keduanya menyepakati perdagangan senilai 250 miliar dolar AS atau Rp 3.379 triliun (9/11/2017). Fred Dufour/AFPPresiden AS, Donald Trump, dan Presiden China, Xi Jinping, berbicara dalam forum ekonomi. Keduanya menyepakati perdagangan senilai 250 miliar dolar AS atau Rp 3.379 triliun (9/11/2017).

BEIJING, KOMPAS.com - Media pemerintah China menyatakan, Amerika Serikat ( AS) sudah membuat kesalahan dengan menjadikan mereka sebagai lawan ketika terus menekan mereka.

Di halaman depan, People's Daily yang menjadi corong Partai Komunis China menuduh AS hanya terlalu fokus kepada keinginan mempertahankan hegemoni daripada mencapai pertumbuhan.

"Beberapa orang di AS berpikir bahwa era baru yang dicapai oleh China bakal menjadi akhir bagi mereka," ungkap ulasan itu seperti dikutip SCMP Jumat (14/6/2019).

Baca juga: Trump Ingin Presiden China Temui Dirinya di KTT G20, jika Tidak...

"Beberapa orang dengan bodoh menekan negara seperti China. Mereka melakukan kalkulasi bodoh dan memilih lawan yang salah di waktu yang salah juga" lanjut media itu.

Artikel itu muncul setelah Washington bakal menghadapi konsekuensi serius jika Presiden Xi Jinping tidak bertemu dengan Presiden Donald Trump di KTT G20 akhir Juni ini.

Kepala Penasihat Ekonomi AS Larry Kudlow berkata memang tidak rencana untuk pertemuan itu. Namun menyiratkan Trump bakal marah jika merasa diacuhkan.

"Presiden saya sudah menyiratkan keinginan untuk duduk dan bertemu," kata Kudlow. "Dia juga menyiratkan jika tidak ada pertemuan, maka bakal ada konsekuensinya," lanjutnya.

Adapun Trump sudah menyatakan dia bakal menambahkan tarif hingga 300 miliar dollar AS, sekitar Rp 4.297 triliun, jika Xi menolak bertemu dengannya di Osaka, Jepang.

Namun dalam ulasannya, People's Daily menyatakan karena perang dagang itu, ancaman Trump kepada China justru bakal menghancurkan ekonomi AS dan merusak lapangan kerja.

Harian itu memberikan contoh produk smartphone iPhone yang meski dikembangkan dan didesain di AS, komponennya diproduksi di sejumlah negara Asia.

Antara lain Jepang, Korea Selatan (Korsel), Eropa, dengan handset-nya dibuat di China. "Kita bisa berkata tanpa arus antar-negara, iPhone tidak akan seperti sekarang," sindirnya.

Media itu menuturkan adalah hak setiap negara untuk melindungi kepentingannya. Namun jika dibangun di atas paham "Engkau Kalah, Saya Menang" bakal memberikan kesulitan tersendiri.

Dalam editorial tersebut, AS tidak bisa begitu saja mundur dari era globalisasi hanya karena menghadapi masalah. "Sangat disayangkan ada orang yang menjauhi tren seperti itu," katanya.

Baca juga: 600 Perusahaan Surati Trump, Peringatkan Dampak Perang Dagang

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Bebas dari Kamp Penahanan Suriah, 3 Wanita Perancis Disebut Kembali ke Tangan ISIS

Bebas dari Kamp Penahanan Suriah, 3 Wanita Perancis Disebut Kembali ke Tangan ISIS

Internasional
Susul Jerman dan Perancis, Inggris Juga Tangguhkan Ekspor Senjata ke Turki

Susul Jerman dan Perancis, Inggris Juga Tangguhkan Ekspor Senjata ke Turki

Internasional
China Peringatkan Turki Hentikan Aksi Militer dan Kembali pada Resolusi Politik yang Benar

China Peringatkan Turki Hentikan Aksi Militer dan Kembali pada Resolusi Politik yang Benar

Internasional
Pusat Evakuasi di Jepang Dilaporkan Tolak Dua Tunawisma saat Bencana Topan Hagibis Menerjang

Pusat Evakuasi di Jepang Dilaporkan Tolak Dua Tunawisma saat Bencana Topan Hagibis Menerjang

Internasional
Terlempar dari Wahana di Pekan Raya Perancis, Seorang Pengunjung Tewas

Terlempar dari Wahana di Pekan Raya Perancis, Seorang Pengunjung Tewas

Internasional
Guru di China Paksa Muridnya Makan Sampah sebagai Hukuman

Guru di China Paksa Muridnya Makan Sampah sebagai Hukuman

Internasional
Jelang Debat Demokrat, Peringkat Joe Biden Merosot di Survei

Jelang Debat Demokrat, Peringkat Joe Biden Merosot di Survei

Internasional
Janji Akan Menikahi, Pria Pengangguran Ini Justru Perkosa Kenalannya

Janji Akan Menikahi, Pria Pengangguran Ini Justru Perkosa Kenalannya

Internasional
Siaran Langsung di Tengah Topan Hagibis, Jurnalis Ini Malah Dimarahi Netizen

Siaran Langsung di Tengah Topan Hagibis, Jurnalis Ini Malah Dimarahi Netizen

Internasional
Erdogan: Tak Akan Ada Anggota ISIS yang Bakal Keluar dari Suriah

Erdogan: Tak Akan Ada Anggota ISIS yang Bakal Keluar dari Suriah

Internasional
King Cobra Sepanjang 4 Meter Ditangkap dari Dalam Selokan di Thailand

King Cobra Sepanjang 4 Meter Ditangkap dari Dalam Selokan di Thailand

Internasional
Dampak Topan Hagibis, Kawanan Tikus Serbu Kota Ini di Jepang

Dampak Topan Hagibis, Kawanan Tikus Serbu Kota Ini di Jepang

Internasional
Erdogan Tak Akan Hentikan Serangan terhadap Kurdi hingga Kemenangan Sempurna Tercapai

Erdogan Tak Akan Hentikan Serangan terhadap Kurdi hingga Kemenangan Sempurna Tercapai

Internasional
Dikubur Hidup-hidup selama 2 Hari, Bayi Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Dikubur Hidup-hidup selama 2 Hari, Bayi Perempuan Ini Ditemukan Selamat

Internasional
Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Marah karena Merasa Dikhianati, Kurdi Larang AS Bawa Tawanan Berbahaya ISIS

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X