Kompas.com - 04/05/2019, 16:07 WIB

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan melakukan percakapan telepon dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama satu jam.

Sekretaris Pers Gedung Putih Sarah Sanders menuturkan pembicaraan yang berlangsung Jumat (3/5/2019) itu berada dalam suasana positif dengan kedua pemimpin membicarakan berbagai isu.

Trump dikutip Newsweek mengatakan pembicaraannya dengan Putin "sangat panjang dan berlangsung secara produktif". Merek mendiskusikan mulai dari perdagangan.

Baca juga: Ini Kata Kim Jong Un soal Trump Saat Bertemu dengan Putin

Kemudian krisis di Venezuela, Ukraina, isu denuklirisasi Korea Utara (Korut), pengawasan senjata nuklir, hingga kabar Trump dibantu Rusia saat memenangkan Pilpres 2016.

Trump selama ini mempunyai opini bahwa jauh sebelum "Perburuan Penyihir" dimulai, menjalin hubungan baik dengan Rusia maupun China adalah perbuatan baik.

Percakapan telepon itu terjadi di tengah perbedaan sikap AS dan Rusia tentang krisis Venezuela antara Presiden Nicolas Maduro dengan pemimpin oposisi Juan Guaido.

Kedua pemimpin itu juga terbelah dalam menyikapi kesepakatan pembatasan senjata nuklir. Meski begitu, mereka sepakat tentang perlunya denuklirisasi di Korut.

Kremlin yang mengumumkan hasil pembicaraan telepon itu menyatakan, Putin dan Trump sangat puas dengan dialog mereka yang begitu konstruktif dan sarat akan keuntungan.

Selama pembicaraan di telepon, keduanya sama-sama sepakat tentang Korut dan kebutuhan mengintensifkan dialog di berbagai lini, termasuk stailitas strategis.

Meski begitu, Putin memperingatkan tentang krisis Venezuela, segala upaya yang dilakukan untuk mengubah kekuasaan secara paksa adalah bentuk meremehkan semangat demokrasi di sana.

Trump dilaporkan dianggap sebagai sekutu politik yang potensial bagi Putin ketika memasuki Gedung Putih pada Januari 2017, dan berjanji memulihkan hubungan antara AS dan Rusia.

Namun anggapan itu nampaknya jauh panggang dari api setelah dua tahun Trump berkuasa. Kepala Staf Jenderal Valery Gerasimov berujar, relasi AS dan Rusia "berada dalam titik terendah sepanjang sejarah".

Baca juga: Netanyahu Berencana Beri Nama Kota di Golan Sesuai Nama Donald Trump

Seperti misalnya ketika AS menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad yang dianggap sebagai penjahat perang dan berupaya untuk menggulingkannya.

Atau saat Washington menyatakan dukungan terhadap Guaido yang mendeklarasikan diri sebagai presiden sementara Januari lalu, dengan Kremlin masih menyokong Maduro.

Meski begitu, keduanya masih mempunyai harapan akan kesamaan pendapat akan isu lain. Terlebih setelah Putin bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong Un.

Menyusul pertemuan tersebut, Trump yang sangat serius mengupayakan denuklirisasi Korut mengatakan bahwa AS, Rusia, dan China harus menyingkirkan senjata nuklir.

Ucapan itu mendapat dukungan dari Wakil Menteri Luar Negeri Sergey Ryabkov yang mendesak AS agar bersedia meneken rancangan kerja sama pembatasan senjata nuklir untuk ancaman konflik masa depan.

Baca juga: Trump Diduga Abaikan Laporan Intelijen AS dan Lebih Percaya Putin

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.