UE Panggil Dubes Tanzania Terkait Perburuan Kaum Gay

Kompas.com - 07/11/2018, 15:46 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

BRUSSELS, KOMPAS.com - Uni Eropa (UE) dilaporkan bakal memanggil Duta Besar Tanzania terkait dugaan "kemerosotan HAM dan hukum".

Sebabnya seperti dilansir The Independent Selasa (6/11/2018), laporan itu muncul setelah pemerintah regional Tanzania mengumumkan perburuan kaum gay.

Pekan lalu, Gubernur Dar Es Salaam Paul Makonda pekan lalu mengumumkan telah mendirikan komite khusus untuk memenjarakan massal komunitas gay.

Baca juga: Pemerintah Tanzania Canangkan Perburuan Kaum Gay

Komite beranggotakan 17 orang dari berbagai unsur seperti polisi, pengacara, hingga dokter itu dibentuk untuk mengidentifikasi homoseksual.

Komite tersebut bakal menyisir internet untuk mengenali video yang disinyalir menunjukkan aktivitas homoseksual, dan memperingatkan untuk menghapus "gambar seks mereka".

Makonda mengaku kebijakannya mendapat respon 18.000 pesan berisi dukungan dari masyarakat yang resah dengan "aksi bermoral rendah" itu.

"Sebagian dari mereka menyerahkan nama orang-orang yang mereka anggap sebagai homoseksual," ujar sekutu dekat Presiden John Magufuli itu.

Kementerian Luar Negeri Tanzania kemudian mengeluarkan keterangan resmi bahwa pandangan maupun kebijakan Makonda bukan representasi pemerintah pusat.

Meski begitu, komunitas LGBT mengkritis langkah pemerintah yang dianggap lamban maupun tidak memberikan kecaman terhadap aksi Makonda.

Salah seorang gay yang tak disebutkan identitasnya itu berujar, dia mempertanyakan pemerintah pusat ketika masyarakat Dar Es Salaam berbondong-bondong menyerahkan nama yang diduga gay.

"Kami terpaksa menyembunyikan diri, dan hidup dalam ketakutan jika pemerintah regional mulai melaksanakan penangkapan," tutur pria tersebut.

Juru bicara UE Susanne Mbise menuturkan, UE sangat menyesali langkah Makonda karena dianggap telah melanggar hak asasi.

Adapun juru bicara kantor HAM PBB Ravina Shamdasani berujar, dia mengapresiasi sikap pemerintah Tanzania yang tidak memerintahkan kebijakan seperti itu.

"Namun, harus dipahami bahwa individu maupun komunitas LGBT di Tanzania saat ini masih berada dalam bayang-bayang kekhawatiran," terangnya.

CNN melaporkan sesuai peraturan di Tanzania, warga yang kedapatan merupakan homoseksual bakal dipenjara selama 30 tahun.

Baca juga: Tanzania Mulai Perburuan Kaum Gay, Warga Serahkan Ribuan Nama

Sementara di negara seperti Mauritania, Sudan, Somalia, maupun kawasan utara Nigeria, pelaku LGBT terancam mendapat hukuman mati.

Tahun lalu, pemerintah Tanzania memulai operasi penangkapan maupun pengusiran aktivis hak LGBT setelah Magufuli menyebutnya sebagai perilaku amoral.

Kementerian Luar Negeri mewanti-wanti para pelancong negara asing bahwa pasangan sesama kelamin dilarang berkunjung ke sana.

Sebab, jika mereka berciuman atau berpegangan tangan di tempat publik, maka otoritas setempat bakal langsung menangkap mereka.

Baca juga: Mahathir: Hak LGBT Tak Cocok untuk Malaysia

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Jurnalis China Dimaafkan Netizen karena Fotonya Beredar | Arab Saudi Cabut Aturan Pisahkan Pria dan Wanita

Internasional
Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Bocah 3 Tahun Gores 10 Mobil Mewah, Si Ayah Diminta Ganti Rugi Rp 140 Juta

Internasional
Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Larang Murid Punya Rambut Poni, Sekolah di Thailand Jadi Sorotan

Internasional
Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Bantu Ibunya Lolos Tes Menyetir, Pria Ini Menyamar Jadi Perempuan

Internasional
Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Komite DPR AS Setujui 2 Pasal Pemakzulan untuk Trump

Internasional
Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Salah Buat Berita, Jurnalis China Ini Dimaafkan Netizen Setelah Fotonya Beredar

Internasional
Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Diselundupkan ke AS, Warga China Dimasukkan Dalam Mesin Cuci

Internasional
Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Ratusan Pengacara Serang Rumah Sakit di Pakistan, 3 Pasien Meninggal

Internasional
Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Pria Uganda Mengaku Bisa Bunuh Nyamuk dengan Kentut, Ini Faktanya

Internasional
Pria Thailand Kisahkan Cacing Pita Diduga Sepanjang 10 Meter Keluar dari Anus Saat BAB

Pria Thailand Kisahkan Cacing Pita Diduga Sepanjang 10 Meter Keluar dari Anus Saat BAB

Internasional
Menang Telak di Pemilu Inggris, Apa Resep Kemenangan Boris Johnson?

Menang Telak di Pemilu Inggris, Apa Resep Kemenangan Boris Johnson?

Internasional
Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Keluarga Gajah Terekam Menginvasi Hotel di Zambia untuk Sarapan

Internasional
Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Trump Kritik Greta Thunberg: Pergilah Menonton Film Bersama Teman!

Internasional
Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Perdana Menteri Boris Johnson Raih Kursi Mayoritas di Pemilu Inggris

Internasional
Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Myanmar Dituduh Genosida Rohingya, Ini Peringatan Aung San Suu Kyi

Internasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X