Kompas.com - 03/09/2018, 16:28 WIB

KABUL, KOMPAS.com - Pemerintah Inggris telah kembali mengirimkan 440 personil lebih pasukannya ke Afghanistan. Pengiriman pasukan tambahan tersebut menyusul kekhawatiran akan adanya serangan teror seperti di Manchester pada Mei 2017.

Menteri Pertahanan Gavin Williamson, dalam kunjungan ke Afghanistan mengatakan, pihaknya secara konsisten telah mendapat informasi intelijen yang menunjukkan bahwa kelompok teroris di Afghanistan memiliki penghubung ke Inggris.

Dirinya mengakui bahwa pendukung fanatik ISIS yang beroperasi di luar negeri saat ini telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga Inggris.

Namun dia mengatakan, ancaman terbesar tetap datang dari kelompok Al-Qaeda. Demikian dilansir dari Daily Mail.

Baca juga: Jet Tempur Inggris Klaim Cegat 6 Pesawat Pembom Rusia di Laut Hitam

"Kami secara konsisten telah melihat bahwa kelompok-kelompok teroris yang beroperasi di Afghnistan, terbukti berkaitan dengan jaringan yang berada, tidak hanya di Inggris, tetapi juga seluruh wilayah Eropa."

"Kami melihat ini adalah ancaman nyata yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok di Inggris dan kami harus bertindak untuk memastikan bahw kami tidak akan lagi melihat serangan seperti yang terjadi di Manchester," kata Williamson.

"Itulah mengapa kami memilih untuk bertindak seperti yang kami miliki, dengan meningkatkan jumlah pasukan di Afghanistan. Kami mengakui fakta bahwa kami berurusan dengan kelompok-kelompok seperti ISIS maupun Al-Qaeda yang ingin membahayakan Inggris," lanjut menteri.

Pada Mei 2017 lalu sebuah teror bom bunuh diri meledak di Manchester Arena, saat digelarnya konser penyanyi Ariana Grande.

Sebanyak 22 orang tewas dan 139 lainnya luka-luka. Sementara pelaku pemboman bunuh diri, Salman Abedi meninggal di tempat.

Dengan tambahan 440 pasukan, maka Inggris secara keseluruhan memiliki 1.100 personel militer di Afghanistan. Salah satu misi mereka adalah melatih pasukan lokal Afghanistan sebagai bagian dari koalisi NATO.

Inggris telah menarik pasukan tempurnya dari negara itu pada 2014 dan sejak saat itu telah terjadi lonjakan kematian warga sipil, termasuk lebih dari 100 orang yang tewas akibat teror bom di ambulans yang meledak pada Januari lalu di Kabul.

Selama dua tahun terakhir, ISIS diyakini telah membangun pijakan baru di Afghanistan setelah mereka terusir dari Irak dan Suriah.

Bulan lalu, Duta Besar Afghanistan untuk Inggris, Said Jawad menyampaikan beberapa pendukung fanatik ISIS tersebut memiliki paspor Inggris.

Baca juga: Angkatan Laut Inggris Utus Kapal Perang untuk Awasi Dua Armada Rusia

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.