Kompas.com - 21/05/2018, 17:00 WIB

4. Pembentukan Partai Komunis Indochina
Di Mei 1929, dalam pertemuan di Hong Kong para pengikut Ho membentuk Partai Komunis Indochina (PCI). Para pengikut lain yang ada di kota seperti Hanoi mulai mempromosikan partai tersebut.

Namun, beberapa orang kepercayaan Ho tidak bersedia ambil bagian. Sebab, mereka masih ingin menunggu sang pemimpin yang masih berada di Thailand.

Ho lalu ke Hong Kong, dan mendeklarasikan berdirinya PCI. Saat itu, dia dianggap sebagai sosok yang berbahaya oleh pemerintah kolonial.

Ho kemudian dijatuhi hukuman mati sebagai revolusioner. Ho bertindak cepat dengan meminta suaka politik kepada Inggris di Hong Kong.

Baca juga: Descendant of the Sun Buka Luka Lama Korban Perang Vietnam

Agar Perancis tidak lagi mencari Ho, seorang warga Inggris yang menjadi sahabat Ho kemudian menyatakan dia sudah meninggal 1932.

Secara diam-diam, dia dilepaskan, kemudian pergi ke Soviet via Shanghai dan menjabat sebagai dosen di Institut Lenin.

Di 1938, Ho kembali ke China dan mengabdi sebagai penasihat di angkatan bersenjata komunis China, serta agen Comintern senior di Asia.

5. Pergerakan Kemerdekaan Vietnam
Di 1941, Ho kembali ke Vietnam untuk memimpin pergerakan kemerdekaan Viet Minh. Salah satu pemicunya adalah masa pendudukan Jepang.

Menggunakan sistem gerilya berkekuatan 10.000 orang, Ho meraih kesukesan dalam melawan pemerintah kolonial Perancis dan Jepang.

Dia sempat ditangkap otoritas lokal Chiang Kai-shek sebelum diselamatkan pemerintah komunis China. Setelah dibebaskan di 1943, Ho kembali lagi ke Vietnam.

April 1945, dia bertemu dengan agen badan rahasia AS pada masa Perang Dunia II (OSS), Archimedes Patti, dan menawarkan kesepakatan.

Dia siap menyediakan data intelijen bagi Sekutu untuk memerangi Jepang di Vietnam. OSS setuju, dan memberikan sejumlah bantuan.

Baca juga: Hari Ini 40 Tahun Lalu, Jatuhnya Saigon Akhiri Perang Vietnam

Antara lain, mereka mengirim tim untuk melatih para pengikut Ho seni berperang, dan serta dokter untuk menyembuhkan malaria dan disentri yang diderita Ho.

14 Agustus 1945, Ho dan Viet Minh melancarkan aksi revolusi yang kemudian dinamakan Revolusi Agustus, dan menyatakan bakal memberi kemerdekaan bagi Vietnam.

Meski berhasil menyakinkan kaisar terakhr Vietnam, Bao Dai, untuk turun tahta, pemerintahannya tidak diakui oleh negara manapun.

Ho berulang kali mendesak Presiden AS, Harry S Truman untuk mendukung kemerdekaan Vietnam, dengan mengutip Piagam PBB, namun tidak pernah direspon.

Pada 2 September 1945, Ho mendeklarasikan berdirinya Republik Demokratik Vietnam. Pernyataan tersebut tidak diakui oleh Sekutu.

Tidak lama setelah deklrasi itu, 200.000 pasukan Chiang Kai-shek mendarat di Vietnam untuk mengurus penyerahan diri tentara Jepang.

Kedatangan pasukan itu diikuti serdadu Perancis yang saat itu sudah dipimpin oleh Charles de Gaulle, dan tidak berniat untuk melepas Vietnam.

6 Oktober 1945, pasukan Perancis di bawah pimpinan Jenderal Jacques Leclerc tiba di Saigon, dan diikuti divisi tempurnya beberapa hari kemudian.

Harus menghadapi dua kekuatan besar tersebut, Ho berusaha mencari jalan tengah dengan pertama-tama mendekati pihak Chiang.

Tujuannya, memaksa mereka untuk meninggalkan kawasan utara, dan bernegosiasi dengan Perancis soal pengakuan kemerdekaan Vietnam.

Namun, Perancis menolak mengakui kemerdekaan mereka. Dia tidak mempunyai pilihan selain menyetujui perjanjian pada 6 Maret 1946.

Dalam traktat itu, Vietnam berada di bawah Uni Perancis. Namun mereka mengakui pemerintahan hingga pasukan yang dipunyai Vietnam.

Baca juga: Hari Ini dalam Sejarah: Vietnam Utara Merebut Kota Saigon

6. Pecahnya Perang Indochina
Perjanjian tersebut jelas tidak memuaskan kelompok ekstremis kedua negara. Ho lalu ke Paris dari Juni hingga September 1946 untuk bernegosiasi ulang.

Paris menyetujui. Namun, kesepakatan itu batal setelah salah satu kapal perang Perancis melakukan tembakan buntut insiden di Haiphong pada 20-23 November 1946.

Marah dengan kejadian tersebut, Ho setuju dengan keinginan para pengikutnya untuk menyerukan pembalasan. Perang Indochina I pecah pada 19 Desember 1946.

Pada 1948, Perancis mengangkat kembali Bao Dai sebagai Kaisar Vietnam. Strategi ini dijalankan untuk melemahkan pengaruh Viet Minh.

Hasilnya gagal total. Di bawah pimpinan komandan bernama Giap, Viet Minh mampu membatas pasukan Perancis dan Bao Dai dengan taktik gerilya.

Di akhir 1953, sebagian besar Vienam berada di wilayah Viet Minh. Perancis dikalahkan sepenuhnya pada 7 Mei 1954 di Dien Bien Phu.

Baca juga: Hari Ini 40 Tahun Lalu, Jatuhnya Saigon Akhiri Perang Vietnam

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.