Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/04/2018, 17:37 WIB

 

SINGAPURA, KOMPAS.com — Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menyatakan, sejauh ini Singapura belum menerima tawaran menjadi tuan rumah rencana pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

“Saya belum menerima undangan apa pun” ucap Vivian, Jumat (20/4/2018), seperti dilaporkan The Straits Times.

Vivian menyatakan, Singapura menyambut baik rencana pertemuan kedua kepala negara itu. Namun, dia menolak berkomentar lebih jauh, apakah Singapura akan menerima jika diminta untuk menjadi tuan rumah.

“Saya tidak ingin mendahului kedua negara” lanjut Vivian.

Baca juga: Korut Hentikan Aktivitas Nuklir, Ini Kata Negara Tetangga

Singapura disebut-sebut sebagai salah satu calon tuan rumah pertemuan bersejarah itu seperti dilaporkan The New York Times.

Pemerintahan Trump sedang mengkaji sejumlah calon tuan rumah di negara ketiga, termasuk Singapura dan Vietnam. Selain itu, Swedia dan Swiss juga masuk bursa kemungkinan lokasi pertemuan Trump dan Kim.

Ibu kota Mongolia, Ulanbator, juga menjadi kandidat, tetapi kemungkinannnya kecil. AS dan Korut hampir dipastikan tidak akan menjadi tuan rumah, demikian juga dengan Panmunjom, desa yang terletak di Zona Demiliterisasi Korea.

Kim diperkirakan tidak menginginkan negara yang berlokasi terlalu jauh dari Korut karena kondisi pesawat kepresidenan yang sudah cukup tua.

Pertemuan diperkirakan akan digelar di akhir Mei atau awal Juni tahun ini dan belum ada tanggal pastinya.

Singapura memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan Korut kendati "Negeri Singa" ini tidak luput dari kritik karena sejumlah perusahaannya melakukan perdagangan dengan Korut.

Baca juga: Trump Harap Ada Perdamaian Abadi antara Korea Utara dan Korea Selatan

Jika menjadi tuan rumah, ini bukan kali pertama bagi Singapura menjadi penyelenggara pertemuan bersejarah kedua kepala negara yang berseteru.

Singapura menjadi tuan rumah bersejarah pertemuan Presiden China Xi Jinping dan Presiden Taiwan Ma Ying-Jeou pada November 2015.

Pertemuan kedua kepala negara itu merupakan yang pertama sejak berakhirnya Perang Sipil China pada 1950.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.