Kompas.com - 29/03/2018, 11:59 WIB

TOKYO, KOMPAS.com - Menjelang pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Korea Utara yang dijadwalkan pada akhir Mei 2018, justru menimbulkan kekhawatiran bagi pemerintah Jepang.

Dilansir dari Japan Today, Perdana Menteri Jepang Shizo Abe pada Rabu (28/3/2018) mengaku cemas apabila ancaman keamanan dari Korea Utara terhadap Jepang, termasuk peluncuran rudal jarak pendek dan menengah, tidak akan dibicarakan dalam pertemuan AS-Korea Utara.

Kepada parlemen, Abe khawatir jika Presiden AS Donald Trump akan fokus pada permasalahan rudal balistik antarbenua (ICBM) dan mengabaikan misil jarak dekat yang mengancam Jepang.

Baca juga : Bertemu Xi dan Siap Denuklirisasi, Motif Kim Jong Un Masih Misteri

"Saya khawatir kalau rudal jarak menengah dan pendek, yang merupakan jenis rudal yang mengancam Jepang, mungkin tidak dibicarakan dalam pertemuan itu, di mana fokusnya mungkin terbatas pada ICBM," ucapnya.

"Saya juga takut jika AS dapat mencapai kesepakatan pelarangan uji coba nuklir, tapi akhirnya menerima kepemilikan senjata nuklir Korea Utara," tambahnya.

Dia mendesak agar komunitas internasional membuat Korea Utara benar-benar meninggalkan program nuklirnya.

Abe juga menyebutkan keinginan Jepang untuk menyelesaikan penculikan oleh Korea Utara terhadap puluhan warga Jepang selama 1970-an hingga 1980-an.

Baca juga : Trump: Sanksi dan Tekanan kepada Korut Harus Berlanjut!

Seperti diketahui, pada 15 September 2017, Korea Utara kembali menembakkan rudal ke arah timur melewati wilayah udara Hokkaido, Jepang utara dan jatuh di Samudera Pasifik.

Sebelumnya, rudal jarak menengah Hwasong-12, juga ditembakkan oleh Korea Utara melewati Jepang.

Rudal terbang melintasi wilayah udara Jepang dan jatuh di Samudera Pasifik hingga memicu kepanikan warga di Jepang utara, pada 3 September 2017.

Sementara, awal pekan ini, Kim Jong Un menerima undangan Presiden China Xi Jinping untuk berkunjung ke Beijing.

Baca juga : Bersua Kim Jong Un, Xi Usul 4 Proposal untuk Mempererat Hubungan

Tak ada yang tahu rencana besar Korea Utara yang kini mulai membuka tabir isolasinya. Sebagian besar menilai, sejumlah sanksi berat internasional telah melemahkan negara tersebut.

Pengamat menilai, Korea Utara mungkin sedang mencoba memanfaatkan hubungan AS dan China yang memburuk setelah pemberlakuan tarif baja serta ancaman perang dagang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.