India Diselimuti Serbuk Warna-warni Kemeriahan Festival Holi - Kompas.com

India Diselimuti Serbuk Warna-warni Kemeriahan Festival Holi

Kompas.com - 02/03/2018, 14:42 WIB
Penduduk di India mengolesi temannya dengan bubuk berwarna selama perayaan festival Holi di Siliguri, Kamis (1/3/2018). (AFP/Diptendu Dutta). Penduduk di India mengolesi temannya dengan bubuk berwarna selama perayaan festival Holi di Siliguri, Kamis (1/3/2018). (AFP/Diptendu Dutta).


NEW DELHI, KOMPAS.com - India kerap identik dengan film yang menampilkan tarian dan nyanyian.

Tak hanya ditemui dalam film, kini kekhasan itu dapat ditemudi dalam festival Holi. Banyak warga yang berkumpul di jalan untuk menyanyi, menari, dan menciprat teman dan keluarga mereka dengan bubuk berwarna pada Jumat (2/3/2018).

Merek terkenal seperti Sony dan Canon juga memanfaatkan festival besar ini untuk mengiklankan produk mereka.

Tak ketinggalan, maskapai penerbangan British Airways juga bergabung dalam kegembiraan dengan seluruh awak kabin yang merayakan festival tersebut di seluruh India.

Baca juga : Makna di Balik Warna-warni Serbuk Festival Holi  

Tapi, apa itu Holi dan mengapa orang India merayakannya?

Holi merupakan festival Hindu yang menandai dimulainya musim semi.

Hari libur nasional ini digelar hari purnama terakhir kalender lunisolar atau suryacandra Hindu, yang biasanya jatuh pada Maret. Tahun ini, festival Holi dimulai pada Kamis (1/3/2018) malam hingga Jumat (2/3/2018) malam.

Festival kuno yang dirayakan di seluruh India berasal dari sebuah puisi abad ke-4.

Perayaan itu dijelaskan secara gamblang dalam drama bahasa Sansekerta berjudul "Ratnavali" yang ditulis oleh raja di India, Harsha.

"Saksikan keindahan festival asmara yang menggairahkan rasa penasaran ketika penduduk kota menari dengan sentuhan air kecoklatan yang dipercikan... Semuanya berwarna merah kekuningan dan dibuat berdebu oleh tumpukan bubuk wangi yang ditiupkan," tulis Harsha.

Baca juga : Mengapa Hachiko India Ini Setia Menunggu di Stasiun Mumbai?

Walaupun Holi merupakan festival Hindu, namun seluruh penduduk India merayakannya. Anak-anak bisa menyiram orang dewasa dnegan air, begitu pula para perempuan ke pria.

Tak ada aturan kasta yang terlihat, seakan dilupakan oleh setiap orang yang ambil bagian. Pada malam harinya, warga biasanya mengunjungi teman dan keluarga.

Seorang permepuan bergabung dalam festival Holi di Kolkata, India. (AP Photo/Bikas Das). Seorang permepuan bergabung dalam festival Holi di Kolkata, India. (AP Photo/Bikas Das).

Iblis dan kisah cinta

Akar dari festival ini berdasarkan dari legenda Hindu bernama Holika, seorang iblis dan kakak perempuan dari iblis bernama Raja Hiranyakashayap.

Hiranyakashayap meyakini dirinya merupakan penguasa alam semesta dan lebih sakti dari semua dewa.

Tapi anaknya, Prahlad, justru mengikuti dewa Wisnu, sang pelestari dan pelindung alam semesta.

Keputusan Prahlad untuk mengkhianati ayahnya membuat Hirayankashayap tak mempunyai pilihan. Dia meminta Holika untuk membunuh Prahlad.

Rencana tersebut nampaknya berjalan mudah. Holika membawa Prahlad ke pangkuannya dan menceburkan diri ke api unggun.

Baca juga : India Wacanakan Layanan Bedah Plastik Gratis bagi Warga Miskin

Holika bisa saja bertahan dari panasnya api karena dia memiliki selendang yang melindunginya.

Tapi rencana tersebut gagal. Prahlad diselamatkan oleh Wisnu. Sementara, Holika mati karena dia bisa kebal terhadap api Holika sendirian.

Kemudian, Wisnu membunuh Hiranyakashayap dan mengangkat Prahlad menjadi raja.

Moral dari cerita ini untuk menunjukkan kebaikan selalu menang atas kejahatan.

Dalam perayaan Holi modern, kremasi Holika sering dilakukan kembali dengan menyalakan api unggun di malam hari sebelum festival Holi, yang dikenal dengan nama Holika Dahan.

Beberapa orang Hindu mengumpulkan abu dan mengolesinya di tubuh mereka sebagai aksi pemurnian.

Baca juga : Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

Sementara, Rangwali Holi berlangsung pada hari berikutnya dan menjadi hari di mana orang-orang melempar dan mengoleskan bubuk berwarna satu sama lain.

Selain kisah Holika, tradisi melempar bubuk dan air berwarna juga diyakini berasal dari kisah cinta mitologis Radha dan Krishna.

Krishna, dewa Hindu yang digambarkan dengan kulit biru tua, mengeluhkan tentang kulit Radha yang cantik kepada ibunya.

Untuk meredakan kesedihan anaknya, ibunya meminta Krishna mengolesi kulit Radha dengan cat.

Dari sinilah, asal dari kebiasaan mengolesi orang yang dicintai dengan bubuk warna pada festival Holi.


Komentar

Close Ads X