Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/11/2017, 17:15 WIB
|
EditorArdi Priyatno Utomo

SEOUL, KOMPAS.com - Militer Korea Selatan (Korsel) memberikan keterangan mendetil terkait kondisi prajurit Korea Utara (Korut) yang ditembak karena desersi dengan menyeberang ke Korsel.

Sebelumnya pada Senin (13/11/2017), seorang prajurit Korut ditembak karena mencoba menyeberang ke Korsel lewat Panmunjom.

Panmunjom adalah kawasan di utara Provinsi Hwanghae, dan merupakan zona demiliterisasi antara Korsel dan Korut.

Selasa (14/11/2017), seperti diwartakan BBC, militer Korsel menyatakan tentara desertir itu awalnya mengendarai mobil menuju Pamunjom.

Namun, dia kemudian melanjutkan perjalanannya dengan berjalan setelah mobilnya mengalami kerusakan.

Aksinya diketahui oleh tentara Korut yang menjaga zona demiliterisasi, dan melepaskan tembakan kepadanya.

Baca juga : Tentara Korut Ditembak Ketika Membelot ke Korsel Lewat Kawasan Wisata

Seoul mengatakan, prajurit itu ditembak sebanyak 40 kali, dan mencoba berlindung di belakang bangunan yang masuk ke dalam wilayah Korsel.

Tentara Korut tersebut kemudian merangkak di antara rerumputan untuk menghindari tembakan, sebelum jatuh pingsan.

Juru bicara militer, Suh Uk menyatakan, saat ini kondisi desertir itu masih belum sadar.

Selama operasi, dokter sudah mengeluarkan lima peluru. Namun, memprediksi masih ada dua peluru yang bersarang di tubuhnya.

"Meski begitu, kami optimistis nyawanya bisa kami selamatkan," kata Suh Uk dalam keterangan resminya.

Sementara itu, seperti diwartakan kantor berita Yonhap, Menteri Pertahanan Korsel, Song Young Moo menyatakan ini adalah kali pertama militer Korut melancarkan tembakan di zona demiliterisasi yang masuk wilayah Korsel.

Pernyataan ini disambut tanggapan dari parlemen Korsel bahwa rezim Kim Jong Un mencoba merusak traktat pasca-Perang Korea 1953 silam tentang adanya zona demiliterisasi.

Sejak Semenanjung Korea dibagi menjadi utara dan selatan, puluhan tentara Korut menyeberang ke Korsel melewati zona demiliterisasi yang berjarak dua kilometer.

Tensi dari dua negara tengah meningkat setelah Korut terus mengembangkan nuklir menjadi senjata.

September lalu, rezim Kim Jong Un menguji coba bom hidrogen yang diklaim merupakan senjata terhebat mereka.

Baca juga : Korut Nyalakan Sirine Penanda Serangan Udara sebagai Latihan Evakuasi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Sumber BBC
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.